Tidak Ada Keraguan

Photo by Nathan Cowley on Pexels.com
Dan jika kamu meragukan (Alquran) yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. (23-24)

Allah memberikan tantangan bagi siapa saja yang ragu akan Quran. Cukup jelas disini Allah menantang siapa yang ingin membuktikan bahwa dia mampu bahkan mempersilakan ada yang mampu menolong selain Allah. Dan jika kita tidak dan tidak akan mampu melakukannya. Maka takutlah atau jagalah, kata yang berakar sama dengan takwa, menjaga diri azab Allah yang berupa api neraka. Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Yang disediakan bagi orang-orang kafir.(orang yang menutup diri).

Rasanya terhubung aja antara bahan bakar batu itu sementara Allah menyebutkan itu adalah orang kafir, yang berkepala dan berhati batu.

Tidak Ada Kompetisi

JANGAN
MENJADIKAN
SAINGAN

BAGI ALLAH

QS 2:22

Di ujung ayat 22 yang saya post kemaren, ada peringatan tentang tidak menjadikan Allah sebagai saingan. Dalam hal apapun dan darimanapun. Dari luar diri maupun dari dalam. Tidak hanya saingan dari luar yang cukup jelas, berhala-berhala yang memang wujudnya berhala. Maupun saingan dari dalam. Berhala yang berupa keserakahan, harga diri merasa tinggi di hadapan Allah, merasa ingin diakui dan lainnya. Jangan jadikan hal-hal tersebut kompetitor bagi Allah.

Wa antum ta’lamun

Sedangkan kau sangat mengetahui hal tersebut. Ini sangat berbeda dan kontras terhadap keraguan. Dalam hati sesungguhnya sudah tahu namun belum mau mengakui apa yang diketahui. Itu salah satu bentuk kemunafikan. Jadi masih relate dengan ayat tentang kemunafikan sebelumnya.

Ada dua permasalahan yang terjadi pada iman. Yang pertama adalah emosional dan kognitif yang menghalangi iman. Pada ujung surat ini Allah mempertegas bahwa sesungguhnya dalam pemahaman kognitif kita sudah tahu betul bahwa Allah tidak bisa dipersaingkan dengan segala sesuatu. Yang dipertanyakan bukan emosi tapi kognisi.

Bumi dan Langit

Photo by veeterzy on Pexels.com
(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (22)

Bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap bagi saya diibaratkan sebagai rumah seperti itu bermakna perlindungan. Keamanan. Sangat berbeda dengan ayat-ayat sebelum ini.

Kalau diingat sebelumnya Allah menggambarkan bahwa kekacauan bisa terjadi di bumi, kegelapan dan badai, juga langit membawa kilat yang mematikan. Dan yang demikian itu untuk orang yang munafik.

Sedangkan pada ayat ini Allah menggambarkan “perlindungan,” karena bila kita benar-benar menghamba, maka ia akan menjadikan perlindungan. Bukan hanya itu Allah akan membuat langit menurunkan hujan yang ramah untuk buah-buahan tumbuh sebagai rezeki. Ini sekali lagi jaminan untuk penghambaan yang mutlak. Bukan yang hipokrit atau munafik.

Dan sifat pencemburu Allah meminta untuk tidak menimbulkan “saingan” atau tandingan, padahal kita tahu itu tidak mungkin.

@draguscn