POS PERTAMA

asu

Kenapa kau ada disini ? Mana rombongan lainnya ? Apa yang membuatmu terhenti disini .. bukankah semua sudah meninggalkan tempat ini kemaren malam ? Kenapa kau membisu ? Adakah sesuatu sudah datang kepadamu ?
 
Perhentian ini adalah rumah pertama. Setiap pejalan dari bangsa yang manapun sepertinya berhenti disini. Hampir tak kutahu ada yang berbeda. Mereka semua melaluinya. Setiap kita bisa melihat dari bukit yang disana. Memandang ke arah yang sudah kita lalui bersama. Dan melihat lubang-lubang yang menganga. Lubang-lubang yang beberapa memerosokkan kita. Beberapa mampu kita menghindarinya. Lubang-lubang berisi lumpur kehinaan. Lubang-lubang berisi daki pemurtadan. Beberapa mencoreng kita. Dan kadang kita bisa melihat beberapa sarang-sarang serigala. Masih bisa kita menyukuri terlepas darinya. Satu dua membawa luka. Luka yang membuat kita malu melihatnya. Dan di bukit itulah kita bisa menandai tempat kita terjatuh terpedaya ..
 
Mana lenteraku ? Tadi kau bawa kan? Kenapa aku sejak tadi tidak melihatnya. Bahkan tempat ini nyaris gulita. Kemana pula lenteramu ? Kenapa kau hanya diam terpaku? Sudah tahukah kau kenapa kita terdiam disini. Tak bisa maju tak juga ingin kembali ke bawah sana?
 
Sudahkah kau lihat dirimu? Meski pelita belum lagi kau nyalakan. Bau amis yang menempel di badan. Sudah memenuhi rongga hidung dan menyesakkan. Darah, lumpur, daki dan nanah. Bercampur merangsang muntah. Kalau kau tertinggal disini. Dan badanmu pun penuh bercak kehinaan diri. Coba kau renungi barang sejenak. Kita meraba ke bawah sana. Ada sungai untuk membasuh luka. Dan membersihkan lumpur yang menempel di kaca.
 
Kenapa aku berdaki kau tanya.
Lihatlah perilakumu ..
Setiap hal yang kecil kau jadikan kotoran.
Setiap hal yang tadi tidak ada kautimbul-timbulkan ..
 
Kenapa aku berlumpur kau tanya.
Lihatlah perilakumu ..
Mau-maunya kotoran orang kau kenakan
Mau-maunya aib orang kau bicarakan
 
Kenapa aku berdarah kau tanya.
Lihatlah perilakumu ..
Syak wasangkamu tak dapat kau tahankan ..
Hatimu teracuni dengan kecurigaan ..
 
Kenapa aku bernanah kau tanya.
Lihatlah perilakumu ..
Sesuatu dalam dirimu yang telah kau kalahkan ..
Kau rusakkan lagi hingga menjijikkan ..
 
Dan terpuruklah dirimu di maqam pertama ini
Untuk merenungi riwayat diri ..
Berkaca pada segala kotornya batin ..
Menyurut untuk merenungi ..
Berjalan ke sungai yang jernih airnya ..
Membasuh lumpur dan daki nista
Memerah nanah dan mengobati luka
 
Bila kau sudah selesai membersihkan badan dan mengobati luka. Duduklah disini bersamaku. Kita tembangkan syair-syair ilahi. Kita tutupi luka-luka yang ada dalam diri. Kau, yaa kau yang disana. Duduklah dalam jamaat yang sama. Disini maqam pertama. Semoga tertutup apa yang sudah kita lakukan. Jadi kenapa kaupun ada di sini kalian bertanya. Pasti karena aku punya luka yang sama. Mungkin daki, lumpur, darah dan nanah yang berbeda. Tapi baunya sama menyesakkan.
 
Krejengan, 2-3 Desember 2011
 
[Tak apa menengok sekilas ke belakang, melihat kesalahan, bermuhasabah dan ‘kembali’ ke cahaya terang. Tutupi (istighfar) dengan wiridan, lunturkan debu, kotoran yang menempel di kaca. .. agar terwujud kaca yang bersinar gemintang – .. azzujaja ka annaha kawkab .. (24:35)]

Kupinang dirimu, CINTA

image

 

Kupinang Dirimu, CINTA*)

Oleh: Rais Sonaji

Cinta,
Pernahkah sesaat dikau fikirkan,
Mana mungkin Rembulan mengada tanpa Matahari ?
Mana mungkin Matahari mendahului Rembulan ?
 
Cinta,
Pernahkah sesaat dikau renungkan,
Mana mungkin "tulang rusuk" mengada tanpa "rongga dada" ?
Mana mungkin rumah mengada tanpa ada yang mendirikannya ?
 
Cinta,
Pernahkah sesaat dikau dengarkan,
Bahwa bintang-bintang di langit senantiasa bernyanyi riang,
Mana mungkin "Ikan" mengada tanpa "Air" !
Mana mungkin "Ikan" mengada tanpa "Air" !
Mana mungkin "Ikan" mengada tanpa "Air" !
Yakinlah padaku Cinta-ku,
Bahwa seluruh Kerajaan Bumi ini tak lebih berarti dari sebutir gandum,
Mari kita bangun Kerajaan Tersembunyi !
Kerajaan kita yang sejati,
Mari kita bangun sejatinya Peradaban Aquarius !
Dan sungguh !
Aquarius tidak akan pernah sempurna tanpa Pisces !
Bukankah harapanmu ingin menyumbangkan "sedikit saja" sesuatu yang berarti
dalam hidup ini ?
Mari Cinta, kita wujudkan mimpimu, mimpiku dan mimpi-mimpi mereka.
 
Cinta,
Pernahkah terlintas di fikiranmu tentang sebuah kemungkinan,
Bahwa engkaulah Maha Dewi itu !
Bahwa engkaulah Putri Salju itu !
Bahwa engkaulah Nawang Wulan itu !
Dan ketahuilah, akulah si pemimpi itu !
Joko Tingkir yang berhasrat mencuri selendang putihmu !
 
Cinta,
Pernahkah dikau rasakan,
Sejuknya angin fajar membelai lembut wajahmu ?
Yakinlah padaku,
Itulah hembusan nafas cinta dan kerinduanku padamu,
 
Cinta,
Kumohon padamu sekali lagi,
Bukalah dan tajamkan mata hatimu,
Sungguh aku tak kan pernah bosan menunggu,
Karenamu aku tlah belajar tuk lampaui ruang dan waktu.
 
Cinta,
Mohon tatap lekat-lekat kedua bola mataku,
Dengar dan rasakan degup dan gemuruh jantungku,
Eja-lah setiap huruf yang meluap dari kedalaman samudera hatiku,
Bacalah setiap kata yang jatuh satu-per-satu di bibirku.
 
Duhai Cinta-ku,
Duhai Cahaya mata-ku,
Mohon tatap lekat-lekat kata-kata ini dengan kejernihan dan keindahan matamu,
Asal mula adalah Salju, sebelum tercipta Waktu,
Ingatkah engkau ?
Sungguh aku sepenuhnya sadar bahwa aku tengah bermimpi !
Engkaulah "Salju" itu dan akulah "Waktu" yang merangkak letih di permukaan
Bumi,
Inilah sejatinya dongeng yang pernah dituliskan-nya untuk kita.
Ingatkah engkau ?
Dan sungguh ! kukatakan padanya,
Aku tak ingin ini hanya sekedar kenanaran mimpi !
Bersama Dia dan bersamamu,
Dengan cinta Dia dan dengan cinta kita kepada Dia,
Aku yakin kita mampu mewujudkannya di Bumi ini,
Tentunya, semua itu hanya akan mewujud dengan kuasa, kehendak, perkenan, serta ridha-Nya.
Mohon mengertilah…, mohon percayalah…,
 
Kumohon padamu Cinta-ku,
Sebelum semua cerita kehidupan ini usai,
Sebelum semua tirai sandiwara kehidupan ini disingkapkan,
Sebelum semua epos kehidupan ini diakhiri,
Mari kita sempurnakan semua itu,
Agar dunia bersama kita dapat belajar untuk mengetahui,
Bahwa semua adalah satu !
Agar dunia bersama kita mau menyadari,
Bahwa ketulusan dan kesederhanaan Cinta di atas segalanya !
 
Cinta,
Pesanku terakhir padamu,
Mohon baca, lihat, dengar dan mengertilah,
Belajarlah untuk memahami bahwa tidak ada istilah "kebetulan" dalam hidup ini,
Semua tanda, semua huruf, semua puisi, semua nada, semua lagu, semua drama, semua film dan semua yang mengada kini tertuju hanya padamu.
Akulah Angin dan Engkaulah Api !
Cinta,
Jika benar engkaulah "ikan" yang selama ini ku cari,
Maka engkau akan mengetahui, akulah "samudera" yang senantiasa kau nanti.
 
Cinta,
Dimana pun jua engkau berada,
Sungguh telah kukirimkan semua tanda dan pesanku padamu,
Duhai Cinta-ku,
Duhai Maha Dewi-ku,
Duhai Belahan Jiwa-ku,
Duhai Bintang Jatuh-ku,
Duhai Putri Salju-ku,
Akulah tapak Sang Waktu yang berjalan mengitari wajah Bumi,
Akulah Waktu yang terduduk bersimpuh di antara subuh dan kilat senja,
Akulah Waktu yang berharap sebelum kebinasaan mutlak,
Salju kan turun kembali menghapus segala rupa,
Akulah pasir yang berbisik lirih padamu,
Bahwa mutiara terpendam harus segera diungkapkan,
Marilah, Oh duhai separuh jiwa-ku,
Kita sempurnakan semua puisi, semua syair, semua lagu, semua cerpen, semua drama, semua dongeng, semua sandiwara, semua film, semua buku, semua kitab, semua filsafat, semua agama, serta semua evolusi di muka Bumi ini.
 
Cinta,
Melalui wujud penyatuan kita ini.
Mari kita satukan dua kepingan cermin yang tlah lama terpisah,
Mari secara perlahan kita kilapkan cermin Bumi ini,
Agar wajah Rembulan kembali memantulkan cahya Matahari,
Yakinlah, bayangannya kan menyibak kegelapan yang menyelimuti Bumi,
Mari, mari Cinta-ku,
Mari kita sama-sama belajar untuk memahami seuntai kata rahasia,
Tiada daya dan upaya, kecuali dari dan milik Dia,
Mari kita sama-sama belajar untuk menyadari sebait puisi murni,
Sesungguhnya kita berasal dari-Dia dan akan kembali pada-Dia,
Meskipun sungguh sedikitpun kita tak punya kuasa,
Namun dengan kehendak, kuasa, ridha, serta perkenan-Nya,
Melalui, di dalam, dan bersama-Nya,
Secara perlahan mari kita sama-sama belajar berlayar dan berusaha menyelami samudera kehidupan,
Semoga akhirnya keberuntungan membawa kita pada Mutiara Yang Terpendam.
 
Cinta…,
Demi Dia, Dzat Yang Membelah batu hingga menetes air mata Cinta,
Aku datang bersimpuh memohon padamu dengan hati berlumur darah Cinta,
Kupinang engkau,
Atas dasar kecintaanku pada Dia.
Kupinang engkau,
Dengan mahar, kefakiran absolut-ku dihadapan Dia.
Kupinang engkau,
Dengan mahar, kebodohan absolut-ku dihadapan Dia.
Kupinang engkau,
Dengan mahar, sebuah "Cincin Sulaiman" tanda bulat dan utuhnya keyakinan-ku,
Bahwa engkaulah pasangan sayap jiwa dan ruh-ku yang sejati,
Sungguh ! sulit bagiku tuk sampai pada ketinggian dan keagungan kursi-Mu
hanya dengan satu sayap,
Dan jika engkau sudi untuk bermurah hati tuk menjadi istriku nanti,
Maka aku akan senantiasa memohon padamu Cinta,
Singkapkan kain kebaya yang menutupi "betis" putih indahmu itu !
Dan jangan kau hiraukau jika aku terkapar pingsan beribu-ribu tahun karenanya !
Cinta,
Saatnya kututup puisi ini,
Dan kuajak engkau bersamaku bersimpuh dan memohon pada-Nya,
Dia Yang Maha Esa,
Dia Yang Maha Pecinta di atas semua pecinta,
Dia Yang Maha Lembut di atas semua yang lembut,
Dia Yang Maha Menyatukan segala yang terserak,
Semoga kiranya kehendak, kuasa, ridha dan cinta-Nya luruh dalam puisi pinangan ini.
Dan, dengan perkenan-Mu,
Kupintakan angin senja dengan lembut untuk menyampaikan pinangan ini padamu,
 
Dengan untaian kata,
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantaramu.
Dan orang-orang yang tidak mampu menjaga dirinya.
Sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.
Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Cinta,
Kutunggu, dan sungguh akan selalu kutunggu jawabmu,
Sebagaimana seluruh seisi semesta alam pun senantiasa setia menunggumu.
Dan sudah selayaknya kita sepenuhnya yakin, bahwa Matahari tak kan pernah ingkar janji.
Amin ya Rabbal a’lamin.

[Bumi Allah, menunggu fajar datang. 17.04.2007. 01.30. WIB.]

*) Puisi ini secara tidak langsung "diilhami" melaluimu maha dewi-ku dan melalui segala sesuatu yang berkaitan dengan keberadaanmu. Sungguh, seyogyanya engkau tahu pelita-ku, "You’re The Inspiration" ! Bagi saudara-saudara penyair yang merasa kata-katanya telah dicuri, ketahuilah akulah plagiat murni itu, maka jika mau menuntut, maka janganlah pernah merasa bimbang dan ragu, tuntutlah diri-ku.

Duhai Engkau, Ya Maha Pengatur, Ya Maha Lembut, Ya Maha Pengasih, Ya Maha Pengampun, hanya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui segala isi hati seluruh mahluk-Mu, meski beribu puja-puji kami curahkan pada dewi bumi-Mu, namun pada hakikatnya hanya Engkau-lah satu-satunya tujuan dan Cinta Sejati kami. Selamatkan kami dari tipu daya-Mu ya ar-Rahman.

Duhai Engkau Yang Maha Kaya, jauhkanlah kami dari tindakan menjual atau (bahkan) menggadaikan firman-Mu hanya demi keuntungan duniawi yang sesaat ini. Karena dengan izin-Mu kami meyakini Keajaiban-Mu, maka kami memohon pada-Mu, jadikanlah Keajaiban itu. Maka dengan segala kepenuhan kerendahan, kebodohan, dan kefakiran kami di hadapan-Mu. Kami memelas dan memohon pada-Mu, sudilah kiranya Engkau berkenan untuk menenggelamkan kami dalam lautan ampunan, rahmat, ridha, serta cinta-Mu. Amin.

=====

Sungguh sayang kalo sampai puisi sarat muatan Cinta seperti ini lepas dari pandangan mata. Karenanya biar sekalian terlihat oleh banyak mata. Ditempel saja sekalian disini. Demi melengkapi ungkapan diri Qays kepada Layla. Mohon maaf kang Rais Sonaji

[ draguscn ]