Hal yang Membatalkan Puasa

Hal yang Membatalkan Puasa
  1. Makan dan minum dengan sengaja, jika dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.
  2. Jima’ (senggama)
  3. Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk yang mengenyangkan dan tranfusi darah bagi orang yan berpuasa
  4. Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja yang menimbulkansyahwat. Adapun keluar mani karena “mimpi basah” tidak membatalkan.
  5. Keluar darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita mendapati darah haid atau nifas batallah puasanya, baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.
  6. Sengaja muntah, dengan mengeluarkan makanan dan atau minuman dari perut melalui mulut.
  7. Murtad dari Islam (na’udzubillahi min dzalik). Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan.

Sunnah-Sunnah Puasa

Sunnah-Sunnah Puasa

Berikut adalah beberapa sunnah atau amalan-amalan yang dianjurkan pada saat berpuasa

  1. Mengakhirkan sahur
    Mengakhirkan sahur sampai akhir waktu malam, selama tidak dikhawatirkan terbit fajar. (HR. Bukhari Muslim)
  2. Menyegerakan berbuka
    Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR Bukhari Muslim)
  3. Berdoa ketika berbuka
    Perlu diketahui bahwa do’a ketika berbuka adalah salah satu dia yang mustajab dan tidak akan ditolak. Nabi SAW bersabda : “Ada 3 orang yang do’anya tidak ditolak [1] Pemimpin yang adil; [2] Orang yang berpuasa ketika dia berbuka [3] Doa orang yang terzhalimi. (HR Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Ibnu Majjah)
  4. Memberi makan orang berbuka
    Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun (HR Tirmidzi)
  5. Memperbanyak ibadah di bulan ramadhan
    Rasul mencontohkan psling banyak bersedekah, berbuat baik, membaca Al-Quran, Shalat, Dzikr dan I’tikaf.
  6. Sabar
    Jika dicaci maki, supaya mengatakan “saya berpuasa” dan membalas kejahatan yang dilakukan dengan kebaikan.

Selamat Berpuasa !

Mengajar Anak Berpuasa

Sudah biasa pada saat bulan puasa, orangtua yang mempunyai anak berumur balita, usia pra sekolah atau bahkan kelas 1-3 SD, mulai memikirkan bagaimana caranya mengajari anak ikut berpuasa. Ada beberapa yang sudah sering kita dengar sebagai iming-iming anak yang bisa berpuasa sampai maghrib, atau sebulan penuh, atau sekedar puasa beduk. Mulai dari iming-iming uang, pakaian lebaran, mainan dll.

Continue reading “Mengajar Anak Berpuasa”

Hal-hal yg boleh dalam puasa

Allah dan RasulNya telah membolehkan beberapa hal bagi orang yang berpuasa, dan tidak menganggapnya suatu kesalahan jika mengamalkannya.

  1. Memasuki waktu shubuh dalam keadaan junub.
    Diantara yang pernah dilakukan Rasul SAW adalah masuk fajar dalam keadaan junuib karena jima’ dengan isterinya, beliau mandi setelah fajar kemudian shalat.
  2. Bersiwak
    Rasul bersabda “seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali wudlu”
  3. Berkumur dan Istinsyaq
    Karena rasul SAW berkumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke hidung) dalam keadaan berpuasa, tapi melarang orang yang berpuasa berlebihan ketika beristinsyaq.
  4. Bercengkerama dan mencium isteri
    Aisyah RA pernah berkata “Adalah Rasulullah SAW pernah mencium dalam keadaan berpuasa dan bercengkerama, akan tetapi  beliau adalaha orang yang paling bisa menahan diri.
  5. Mengeluarkan darah dan suntikan yang tidak mengandung zat makanan.
  6. Berbekam
    Ibnu Abbas RA meriwayatkan “Sesungguhnya Nabi SAW berbekam, padahal beluiau sedang berpuasa”.
  7. Mencicipi makanan
    Hal ini dibatasi, yaitu tidak melewati tenggorokan.
  8. Bercelak, memakai tetes mata dan lainnya yang masuk ke mata.
  9. Mengguyurkan Air ke Atas Kepala dan Mandi.
    Tidak apa-apa berkumur-kumur dan memakai air dingin dalam keadaan puasa. Rasul SAW mengguyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa karena haus atau kepanasan.

20 Ciri-Ciri Gagal Ramadhan

Sebagai sebuah medan training (tarbiyah), Ramadhan punya indikator keberhasilan. Bagaimana mengukurnya? Yang paling mudah dengan melihat ciri kegagalannya. 20 Indikator ini memang tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya, bahkan kadang sampai hilanglah pahala puasanya.

  1. Tidak mempersiapkan diri semaksimal mungkin jauh hari sebelum Ramadhan.
    Persiapan ini meliputi persiapan hati (al isti’dad al ruhiy) dengan kerinduan dan kegembiraan menyambut kedatangannya serta dengan berdia agar bisa dipanjangkan umur sampai ke Ramadhan, persiapan keilmuan (al isti’dad al fikriy) dengan menguasai ilmu dan hakikat Ramadhan, persiapan fisik (al isti’dad al jasadiy) dengan menjaga kesehatan dan membiasakan tubuh untuk berpuasa sunnah di bulan Sya’ban, persiapan logistik (al isti’dad al maliy) dengan menyiapkan bekal baik untuk diri dan keluarga maupun untuk sedekah. Dan juga termasuk dalam mempersiapkan adalah kondisikan lingkungan.
  2. Gampang mengulur shalat fardhu. Orang yang berpuasa Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.
  3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah. termasuk qiyamullail.
  4. Kikir dan rakus pada harta benda, sebab salah satu sasaran utama shiyam adalah membuat manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan dan minum maupun pada harta benda.
  5. Malas membaca Al-Qur’an. Berbincang-bincang dengan Allah di bulan dimana diturunkan Al-Qur’an didalamnya, sudah semestinya merupakan ibadah yang banyak dilakukan di bulan ini.
  6. Mudah mengumbar amarah. Ramadhan adalah bulan kekuatan, Nabi SAW bersabda “orang kuat bukanlah orang yang selalu menang bila berkelahi, tapi orang yang yang bisa menguasai diri ketika marah”
  7. Gemar bicara sia-sia dan dusta. Umar bin Khattab RA berkata “ Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah, dan tutur kata yang sia-sia”
  8. Memutuskan tali silaturrahim. Ketika menyambut datangnya ramadhan, Rasulullah SAW bersabda “barangsiapa menyambung tali persaudaraan di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmatNya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmatNya pada hari ia berjumpa denganNya.
  9. Menyia-nyiakan  waktu. Termasuk gagal Ramadhan adalah lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan dan hura-huara. Disiplin waktu selama ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.
  10. Labil dalam menjalani hidup. Labil alias gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup adalah tanda gagal Ramadhan. bila seorang meraibh berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.
  11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam. Ketakwaan yang semakin kuat berwujud semangat mensyiarkan Islam.
  12. Khianat terhadap amanah. Puasa adalah amanah Allah SWT yg seharusnya dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggung-jawabkan di hadapanNya kelak. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sirr (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata.
  13. Rendah motivasi hidup berjamaah. Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjamaah. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya ALlah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam 1 barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh” [61:4]
  14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk. Hawa nafsu dan syahwat merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syaitan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq.
  15. Malas membela dan menegakkan kebenaran. Ramadhan adalah bulan dakwah dan jihad. Maka, di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin merajalela saat ini, kita harusnya makin gigih membela dan menegakkan kebenaran.
  16. Tidak mencintai kaum dhuafa. Ramadhan adalah bulan kasih sayang. Karena itu cinta kita terhadap orang-orang lemah di kalangan masyarakat seharusnya bertambah.
  17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan. Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sedekah, karena istighfar dan sedekah dapat menambal yang robek-robek dari puasa.
  18. Terlalu sibuk mempersiapkan lebaran, sementara i’tikaf diabaikan. 10 malam terakhir adalah saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah SWT dalam bulan berkah ini. Jadi fokuslah kesini, bukan kepada urusan dunia.
  19. Menganggap dan menjalani idul fitri sebagai hari kebebasan berbuat jahiliyah lagi. Makna idul fitri antara lain berarti kembali ke fitrah. namun kebanyakan orang memandangnya sebagai hari dibebaskannya mereka dari “penjara” ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah ramadhan pergi, ucapan dan tindakannya kembali jahiliyyah.
  20. Tidak mengalami peningkatan keharmonisan dalam keluarga.

Ya Allah tolong kami untuk seberhasil mungkin dalam ramadhan tahun ini dan pertemukan lagi dengan ramadhan tahun-tahun selanjutnya.