Menyembah sebagai Budak

Photo by Ali Arapou011flu on Pexels.com
Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (21)

Kata u’budu yang bermakna menyembah, beribadah (worship) tapi juga berarti menghamba (to be a slave). Dalam pemahaman saya, beribadah yang diharapkan adalah yang totalitas. Bukan sekedar beribadah hanya melaksanakan tapi esensi sebagai hamba (budak) dalam melaksanakannya. Bukan menyembah seolah-olah Allah hanya status yang diperlukan pada saat-saat tertentu saja. Karena status budak (hamba) tidaklah bebas. Tetap berada dalam kekuasaan.

Hal ini kembali mengingatkan bahwa dalam ayat-ayat sebelum ini, Allah mengancam dengan azab yang sangat pedih untuk orang yang munafik. Yang beribadah tanpa totalitas penghambaan. Yang antara hati, ucapan dan perbuatannya bisa berbeda-beda berdasarkan kepentingan berhadapan dengan siapa. Orang-orang yang diancam tersesat dalam ketulian, kebisuan dan kebutaaan.

Karena itulah beribadah yang diharapkan adalah yang menyadari status hamba. Bila dijadikan perilaku, maka seharusnya dalam perilaku ibadah yang manapun, sebelum masuk ke dalam rukun, kesadaran hamba harus dimunculkan. Belum terbiasa, ya, dilatih untuk dibiasakan. Jadi ibadah jangan terburu-buru. Kecuali mungkin hati sudah benar-benar menghadap dalam segala situasi. Perenungan status sebagai hamba setidaknya sekarang harus mulai saya ingat-ingat untuk selalu dilakukan. Itu insight yang saya dapat dalam ayat ini.