Pinjaman Lunak Seumur Hidup

A beautiful house in village Vetrino, Bulgaria

Image via Wikipedia

Seorang ustadz menasehati saya tentang kenapa shalat harus khusyu dengan mengambil sebuah perumpamaan sebagai berikut.

Anggap saja diwaktu lampau saya meminjamkan rumah kepada Mas Agus, dan waktu kondisi rumah masih kecil belum ada apa-apa. Seiring berjalan waktu, mas Agus sudah bikin banyak perubahan pada rumah tersebut.

Satu tahun, saya ngga ambil juga itu rumah dan mas sudah bikin dapur. 5 tahun, belum saya ambil juga dan mas sudah mulai bikin kamar belajar. 17 tahun, tetap belum saya ambil juga sekarang rumahnya sudah bagus sekali. Banyak ruangan dan dipelihara dengan baik. 25 tahun masih saya pinjamkan juga Pagar yang berdiri di depan rumah sudah diganti dengan yang lebih permanen, garasi juga sudah berdiri. 40 tahun, 50 tahun, 63 tahun … sekarang saya tagih lagi rumah itu .. apa yang akan dirasakan ?

“Ya .. pasti sangat berat ..” saya bilang.

Continue reading “Pinjaman Lunak Seumur Hidup”

Mencari Tuhan Yang Sederhana

Seusai menunaikan shalat shubuh, kami bertiga menunggu pak Kyai, seperti biasa. Aku, Abi dan Lili sudah sejak lama kami punya kebiasaan ini, bersama beliau kami selalu merasa tenteram. Mungkin karena gelombang ikhlas dari hati beliau yang begitu luas sehingga kami selalu merasa nyaman di dekat pak Kyai.

Lili mulai bertanya “bagaimana sebenarnya mencari keberadaan Tuhan itu Yai, kenapa rasanya sulit sekali?”

“memangnya ..

Shilatun, Shalatun & Shalawatun

Seorang pemuda berjaket kulit warna hitam, celananya juga masih ‘nganak muda’ banget datang dari jauh dengan memberikan senyuman merekah di bibirnya .. Ia mengembangkan tangannya dan kamipun berpelukan erat lama .. cukup lama sampai mataku terpejam dan basah oleh air mata .. kali berikutnya kesadaran menampar, saat dimana dibawahku ada hamparan awan begitu putih begitu lembut tapi menyangga .. sehingga kami bisa duduk dengan nyaman berhadapan .. pemuda di depanku tadi sudah berganti baju dengan gamis putih, baju yang sama membalut badanku yang mulai menggigil, tapi ini pasti bukan kedinginan. Wajah pemuda itu cerah sekali .. di antara berhembusnya angin dan bergeraknya selapis tipis awan di antara kami .. perbincangan hati itu pun dimulai …

Lelaki yang diperjalankan ..

Lelaki itu bangun dari tidurnya. Ia memandang istrinya yang sedang terlelap dan mendengkur halus di sebelahnya. Kamar tempat mereka menginap adalah kamar yang tidak terlalu besar. Lantainya terbuat dari kayu dan penataannya pun cukup sederhana. Tidak ada cukup ventilasi tapi suara jangkrik dan tetesan gerimis di dedaunan bisa menerobos masuk membuat suasana yang sangat cocok untuk beristirahat.

Sambil meluruskan punggungnya lelaki itu memandangi pesawat televisi yang masih menyiarkan tayangan ulang gol-gol yang diciptakan kesebelasan Jerman dan Uruguay di babak pertama. Malam itu memang ada perebutan gelar juara III dari pesta akbar Piala Dunia 2010. Ia masih termangu sejenak memandangi sudut kamar. Sajadahnya yang terlipat rapi diatas kursi memanggilnya. Ia beranjak dari sisi tempat tidur yang serasa menahannya pergi, meluruskan kaki dan kedua tangannya. Mengusir penat yang belum sepenuhnya terbayar dengan tidur yang barusan.
Continue reading “Lelaki yang diperjalankan ..”