Qasydu syai’in muktarinan bifi’lihi

Menyengaja melakukan sesuatu, dan menjaga tujuan dari berbuat sesuatu tadi terus menerus selama perbuatan itu berlangsung. Demikian saya mengartikan definisi niat dari Sayyid Quthb :

melakukan perbuatan dengan penuh kesadaran sepanjang perbuatan itu berlangsung

Dalam melakukan perbuatan apapun kita dituntut untuk mempunyai tujuan dari perbuatan tersebut. Dan tentu saja setinggi-tinggi tujuan adalah semata-mata penghambaan kepada Allah SWT.

Continue reading “Qasydu syai’in muktarinan bifi’lihi”

Pelatihan Shalat Khusyuk

iftirasyHari Minggu kemaren ini kali ke-2 di Krejengan diadakan pelatihan shalat khusyuk. Waktu pertama kali mengadakan memang merupakan bagian dari upaya puskesmas untuk membuat kegiatan di bulan Ramadhan supaya lebih hikmat, sehingga diadakannya pun sebelum memasuki bulan puasa. Smile

Kali ini Shalat Center Probolinggo memandang di Krejengan masih bisa dikembangkan lebih jauh dan meminta kami untuk sekali lagi mengadakan acara yang sama. Bahkan masih dengan ustadz yang sama, Ust. Sukanan dari Surabaya.

Ada beberapa hal yang menarik untuk pelatihan kali ini dan bahkan bukan mengenai pelatihan itu sendiri. Begini ceritanya ..

Belajar Dengan Rasa Primitif

iftirasy Saya sudah menceritakan bagaimana saya menyibukkan pikiran pada saat duduk iftirasy, tapi dalam posisi itu sebenarnya adalah saat dimana kita berinteraksi dengan Allah. Berarti dua arah. Karena bentuknya doa, maka anda memohon, Allah merespon. Lalu dimana bagian Allah merespon? Apakah menunggu sampai kita selesai shalat kemudian baru akan ada kiriman paket berupa pengampunan, tanda cinta dst dst? Atau sebenarnya Allah sudah mengirim signal terlebih dahulu di dalam shalat?

Mari kita tinggalkan dulu pertanyaan-pertanyaan itu. Saya ingin anda mencermati beberapa rasa di bawah ini yang sebenarnya sering atau setidaknya pernah kita alami.

Pinjaman Lunak Seumur Hidup

A beautiful house in village Vetrino, Bulgaria

Image via Wikipedia

Seorang ustadz menasehati saya tentang kenapa shalat harus khusyu dengan mengambil sebuah perumpamaan sebagai berikut.

Anggap saja diwaktu lampau saya meminjamkan rumah kepada Mas Agus, dan waktu kondisi rumah masih kecil belum ada apa-apa. Seiring berjalan waktu, mas Agus sudah bikin banyak perubahan pada rumah tersebut.

Satu tahun, saya ngga ambil juga itu rumah dan mas sudah bikin dapur. 5 tahun, belum saya ambil juga dan mas sudah mulai bikin kamar belajar. 17 tahun, tetap belum saya ambil juga sekarang rumahnya sudah bagus sekali. Banyak ruangan dan dipelihara dengan baik. 25 tahun masih saya pinjamkan juga Pagar yang berdiri di depan rumah sudah diganti dengan yang lebih permanen, garasi juga sudah berdiri. 40 tahun, 50 tahun, 63 tahun … sekarang saya tagih lagi rumah itu .. apa yang akan dirasakan ?

“Ya .. pasti sangat berat ..” saya bilang.

Continue reading “Pinjaman Lunak Seumur Hidup”