Membangun Habit Baca

Photo by Liza Summer on Pexels.com

Ini cuma pengen merekam nasihat dari coach Teddi, karena saya rasa ini beneran jadi jalan ninja saya, khususon karena saya tukang ngumpulin buku. Bukan tukang baca. Yaikss .. Bagaimana mau menghabiskan sekian banyak buku yang ada saat ini di lemari buku saya supaya beneran jadi model dalam otak saya. Dan saya tertarik dengan cara yang disarankan oleh coach Teddi.

Sebelumnya saya pikir dengan cepat membaca diiringi dengan bagaimana kita memahami maka dengan sendirinya kecepatan akan menambah juga pemahaman karena makin banyaknya info yang masuk dan akan makin mempercepat proses baca karena hal-hal yang sudah kita pahami. Mungkin ini benar dan bisa ikut disandingkan dengan ide yang akan kita bahas ini sebagai praktiknya.

Saran pertama adalah bawa bukunya kemana-mana. Bener juga. Kalo dibawa kemana-mana minimal jadi pada saat kita ada jeda bisa langsung dibaca, meski cuma menambah 1 – 2 paragraf. Bedanya dengan yang saya pikirkan itu, yang ini adalah memanfaatkan waktu sedangkan saya mengalokasikan waktu khusus untuk baca cepet-cepetan .. hehehe.

Kemudian yang kedua adalah prinsip orang ngga diet. Perlakukan mana makanan utama dan mana cemilan. Saya sangat cocok dengan nasihat ini. Maksudnya gini, kalo baca satu buku saya suka bosan setelah menginjak halaman berapa saya mulai melirik buku lain. Nah untuk ini maka cari 1 buku yang akan dijadikan ‘makanan utama’ ini harus bagus progressnya meskipun lambat, separagraf setiap kali tapi maju terus. Ini main course. Sedangkan buku yang akan kita camil adalah yang menarik perhatian kita dan ingin kita sambi baca. Daripada desakannya tidak dipenuhi dan makin bikin frustasi berakhir dengan menumpuknya buku-buku yang akan dibaca, lebih baik baca saja makanan utamanya sambil ngemilnya juga. Belum tentu tidak akan saling berkaitan dan bisa menimbulkan keterkaitan tersendiri. Mungkin itu “jalan kita”.

Yang ketiga adalah bikin catatan. Coach Teddi kayaknya orang yang sangat sayang dengan buku sehingga menceritakan kurang sependapat dengan corat-coret di buku. Saya kadang-kadang disana nyoretnya. Sejak punya tablet memang lebih banyak di Notes. Karena lebih mudah orat-oret tanpa batas. Beberapa ide melakukan coretan sudah saya lakukan. Saya membaca buku dengan melihat judul-judul dulu bolak-balik beberapa kali. Bila ini buku yang sudah teratur biasanya akan mudah menemukan bagian cara berpikir penulisnya. Oh ini pas dia mulai dengan pengenalan, ini dia mulai membahas, ini mulai menyarankan beberapa perubahan, ini closingnya. Pola-pola itu tentu saja bisa terlihat. Dan saya senang bolak balik depan belakang kira-kira 6-10 kali baru mulai bikin catatan tentang buku tersebut. Garis besarnya. Belum mendetil. Kemudian mulai melihat bab-per-bab. Anehnya seringkali terasa mudah membaca bab setelah melihat secara keseluruhan (skimming reading) yang pasti saya haramkan banget untuk buku fiksi. Bagi saya kalo baca buku fiksi harus halaman demi halaman. Bahkan kadang ada yang saya hemat ngga cepat-cepat seperti buku Harry Potter. Saya sepakat. Untuk buku non fiksi, saya akan bikin catatan. Ide yang muncul dari membaca ini biasanya yang saya tuangkan di blog ini. Walaupun acak sekali. Cara saya bikin catatan juga tidak terbatas di Blog saja, selain di Notes di tablet, kadang jadi presentasi powerpoint, kadang jadi Instagram Post. Pokoknya idenya ditangkap dalam bentuk rekaman.

Yang keempat, sarannya adalah mencari buku yang benar-benar berguna untuk tujuan kita. Saya saat ini masih mencari buku yang saya senangi. Cari buku dengan konsep hiburan, meskipun bukunya bertemakan hal-hal yang perbaikan diri dll seperti itu. Tapi bahwa mulai dari mencari tujuan hidup dan kemudian mengisi kemampuan dengan skill yang melengkapi ilmunya dengan cara membaca buku.

Nah itu deh saya terpicu dengan apa yang dibuat oleh coach Teddi memberikan saran, saya punya gaya sendiri tentu saja. Tapi beberapa tepat dengan apa yang saya lakukan karenanya saya taro di blog ini biar jadi pengingat.

@draguscn

Merencanakan Bertemu Rahma

Produktivitas Spiritual.

Saya ingin membiasakan di Ramadhan ini:

  • Meneruskan sunnah yang sudah rutin.
  • Membaca Quran sekali khatam. Membaca dengan terjemah per tema (kelompok ayat).

Produktivitas Mental-Intelektual.

  • Membaca 3000 halaman buku.
  • Blogging kegiatan harian tiap hari (termasuk insight bacaan dan terjemahan)

Produktivitas Emosional.

  • Dengan teman-teman di Komunitas saya yang baru, saya ingin menambah relasi.

Produktivitas Fisik.

  • Saya akan tidur setelah Shalat Tarawih Witir. 20.30 – 03.00
  • Jam 03.00 bangun untuk menemani istri menyiapkan sahur dan bikin rencana/melakukan penilaian kegiatan harian.
  • Makan sahur, seperti biasa dengan sayur dan protein.
  • Olahraga yang saya lakukan : Jalan kaki 1 jam/hari, angkat beban tipis-tipis tiap 2 hari.

@draguscn

Esok Aja 02 – Tugas Aversif

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

Akar dari penundaan yang akan kita telaah adalah yang berasal dari tugasnya dulu. Tugas yang bersifat seperti kita mendapat hukuman, adalah aversif. Kita menjadi enggan melaksanakannya. Kenapa kita enggan melaksanakan tugas tersebut adalah karena terasa tidak bermakna, membosankan dan membingungkan.

Kita merasa tugas tidak bermakna karena kita sulit menghubungkan dengan tujuan-tujuan yang lebih besar. Sehingga kita kehilangan makna dalam menuntaskan tugas.

Kita merasa tugas terasa membosankan karena yang kita kerjakan hanya pengulangan-pengulangan.

Sedangkan tugas terasa membingungkan adalah karena tugasnya terlalu kompleks (sangat besar, sulit diselesaikan), abstrak (sulit dilihat apa yang mau dikerjakan), hampir sama dengan kompleks tugas bisa jadi sangat membingungkan bila terlalu banyak informasi yang harus dibenahi.

Hal-hal diatas bila kita mendapatkan tugas yang tidak bermakna, membosankan dan membingungkan kita akan melakukan penundaan dengan melakukan hal lain yang kita rasa menjadi lebih nyaman. Sehingga akhirnya terbentuklah lingkaran penundaan :

  1. Merasa tidak sanggup mengerjakan tugas
  2. Melakukan penundaan
  3. Mulai merasa bersalah setelah hilang kesenangan penundaan
  4. Dan timbullah mulai meragukan kemampuan menyelesaikan tugas.

Dan akan terulang dengan kita makin meragukan kemampuan. Bisa jadi pada tahap ini tugas sudah dipermudah tapi kemampuan makin terbatas. Dan ini bila berlanjut akan berakibat depresi.

Maka solusinya adalah :

  1. pahami bahwa penundaan yang kita lakukan adalah sementara.
  2. kemudian sadari bahwa kita manusia biasa dan bisa silap melakukan kesalahan penundaan. Kita bisa jadi mempunyai rasa tidak nyaman karena kita ingin tugas dilakukan dengan sempurna sehingga karena kita takut gagal maka akhirnya kita memilih penundaan. Ini bisa diatasi dengan self talk dengan muhasabah pengakuan ketidaksempurnaan. Ulangi terus sampai kita merasa ringan.
  3. mulai saja dulu pekerjaannya, untuk mengalihkan perhatian kita. Mulai dari bagian tugas tersebut yang paling sederhana. Jangan berpikir untuk menyelesaikan, karena pada tahap ini kita harus masuk dulu ke dalam tugas. Kalo kita sibuk menyiapkan untuk menyelesaikan kita akan masuk lagi ke dalam penundaan. Yakin kan diri bahwa kita memilih untuk menyelesaikannya. Meskipun baru kita mulai.

Esok Aja 01

Photo by Magoi on Pexels.com

Penundaan adalah hal yang sering dilakukan tapi jarang saya pikirkan apa definisi yang tepat. Kadang tercampur dengan rasa malas karena efek yang dihasilkannya tetap saja pekerjaan yang dimaksudkan tidak selesai. Tapi ada hal mendasar yang berbeda antara menunda dan sikap malas.

Saat kita menunda sebenarnya yang terjadi adalah kita memilih untuk mengerjakan hal lain dari pada hal yang ditunda. Dan tentu saja melihat katanya saja maka yang ditunda seharusnya adalah hal penting yang bila tidak dikerjakan akan berakibat penyesalan di kemudian hari. Sedangkan rasa malas adalah doing nothing (pasif).

Risiko yang terjadi akibat penundaan antara lain adalah :

  1. apa yang ingin kita capai jauh dari berhasil. Misalnya kita ingin mendapatkan 90% sebagai angka keberhasilan, hasil akhirnya bisa jadi tidak pernah mencapai angka separonya.
  2. secara emosi kita selalu tidak nyaman (ada perasaan penyesalan dan bisa jadi akan berakibat depresi)
  3. makin jauh akan berakibat pada permasalahan jangka panjang misalnya dalam keuangan, kesehatan dan relasi.

Karena itu penundaan harus diperhatikan dengan lebih serius. Agar bisa dicegah berdampak lebih jauh kita bisa melakukan identifikasi, pengenalan terhadap konsekwensi – baik pada saat ditunda maupun manfaat yang bisa diambil dari tidak menunda satu pekerjaan penting – dan yang paling penting adalah menghindari depresi karena berkelanjutannya sikap menunda dengan mampu memaafkan diri sendiri dan memulai suatu perilaku baru yang lebih baik.

@draguscn