Bersih-bersih dan berdandan ..

Pagi ini saya diingatkan bahwa dulu sudah pernah ada bacaan demikian menariknya yang memalingkan saya dari berbagai novel dan menjadikan saya kelak mengoleksi berbagai buku yang serupa. Continue reading “Bersih-bersih dan berdandan ..”

Advertisements

Oppo dan Nexus bertemu pasangan

Kemaren saya dikirimi Bhinneka 2 barang yang saya beli sejak 4 hari yang lalu. Datang dengan kotak besar dan diberi semacam balon udara untuk menghindarkan goncangan di sebelah dalamnya.
Di dalamnya terbungkus dengan apik, keyboard rapoo E6100 dan Headset Jabra Clear berwarna putih keduanya. Maka dimulailah ngudak yang namanya barang baru.

image

Keyboard Rapoo ngga susah-susah dikoneksi dengan Oppo N1, Nexus 5 dan iPad. langsung bisa buat ngetik seperti post sekarang ini diketik di Oppo N1. Iseng-iseng bikin tulisan ini pas listrik padam, dan pengen jajal sampai seberapa kemampuan keyboard ini bisa nyaman digunakan. Sebenernya pengen bikinnya di iPad. Tapi karena iseng minggu ngga kemana-mana, pas sadar ternyata batrenya sudah menipis, jadi sekarang sedang dicharge dulu. Rencananya mau buat editing aja nanti.
Dan bener aja para pendahulu yang sudah review keyboard ini, ternyata memang cukup nyaman, tutsnya segede keyboard laptop dan kunci-kunci yang diperlukan cukup tersedia. Saat N1 mati karena sedang berpikir cari ide, keyboard juga mati saat dinyalakan  kembali lagi connected .. lumayan.

Keterbatasan yang tadinya karena layar handphone yang walaupun sudah cukup lebar, tapi menjadi berkurang separonya karena dibagi dengan keyboard, sekarang sudah bisa teratasi. Sedianya memang mau digunakan untuk iPad. dan beginilah jadinya kalo berpasangan dengan iPad

image

Nah kemudahan dengan koneksi bluetooth Keyboard dari Rapoo ngga serta merta diiringi dengan jabra clear, bluetooth headset. Bentuknya memang nyaman sekali di telinga. Dan pada Oppo N1 metode koneksinya sangat mirip dengan keyboard Rapoo. Tapi tidak demikian dengan Nexus. sampe geregetan rasanya dan rasa-rasa menyesal sebelumnya ngga waspada bahwa Nexus membesut Bluetooth 4.0 sedangkan Jabra cuma 3.0 menimbulkan kekhawatiran tidak kompatibelnya kedua alat ini.

image

Setelah bolak-balik melihat petunjuk pengoperasian di situs jabra.com, menghabiskan antara 2 waktu shalat dan 2 lembar kaos yang turut basah karena keringat, akhirnya berhasil juga terhubung. Hal yang tidak saya lakukan di Oppo adalah pada saat menghidupkan Jabra, kemudian diikuti dengan menekan tombol multifungsi beberapa detik sehingga kemudian nama Jabra Clear muncul di layar Nexus. Alhamdulillah.

Memang ini dibeli karena penggunaannya sudah tidak aneh lagi di Dinkes, tentunya pada saat rapat. Saya ingat dulu pernah punya Bluetooth Headset, waktu itu masih terasa aneh, ada orang kemana-mana telinganya ada batangan berwarna hitam. Padahal ya sudah sekecil Jabra ini juga, tapi ya namanya aneh ya aneh aja .. bahkan kemaren-kemaren di tahun 2012 pada saat mas Anang yang juga penggila gadget mulai rapat dengan menggunakan headset masih terasa ngga enak liat orang-orang yang memandang aneh .. hehehe .. bagaimana enaknya teknologi pun kalo kita jadi weirdo gara-gara memanfaatkan diantara orang yang belum terbiasa akan bikin perasaan tidak enak.

image

Kebetulan, baik Oppo dan Nexus, datang dengan ‘bungkus’ yang memang memudahkan dan melindungi. Tapi jadi bikin konyol pas terima telpon dengan cover yang terpaksa dibuka bak pake buku di depan muka .. Jadi saya putuskan untuk menggunakan headset.

Nah jadilah Oppo ketemu Rapoo, dan Nexus ketemu Jabra. Meski begitu rasanya saya akan menggunakan Rapoo lebih dengan iPad. Karena layarnya lebih lebar itu saja. segitu dulu deh edisi minggu ini.

[draguscn]

semoga perang terakhir ..

gigisayaSaya terpaksa harus kekurangan tentara lagi .. 1 gugur demi kenyamanan saya meskipun dia cuma kebagian terdesak oleh tentara di depannya .. Dua lagi berkhianat dengan memberikan rasa sakit kepada saya, satu tahun 1998 dan satu lagi menentang saya 2 malam yang lalu .. Saya pensiunkan dia dari posisinya dan sudah saya pukuli dengan palu hingga tak ada bentuk .. sekarang mereka tinggal 29 semoga tidak ada lagi yang berkhianat ..

Sekarang yang tersisa 29 my teeth .. 1 Wisdom tooth beberapa bulan lalu juga terpaksa dikorbankan karena bagian depannya sudah bogang. Jadi yang belakangnya mudah terdorong ke depan, Celah antara gigi 7 dan 8 itu yang kemasukan daging. Akhirnya demi saya ngga keseleilitan lagi terpaksa deh itu ‘kebijaksanaan’ saya dibuang satu.

Dah lama ngga sakit gigi sebenernya barengan antara yang keselilitan itu dan gigi 5 sebelah, gigi 6 yang sebelah kanan pun bermasalah. Tapi karena sungkan ngerepoti teman yang ngga mau dibayar, jadilah saya pikir ngga terlalu bermasalah. Sampai 4 hari yang lalu ngilu banget karena pecah. Ditambal dan masih bermasalah. Puncaknya 2 hari yang lalu. Tembelan ke 2 pecah juga dan ngilunya bikin ngga tidur. Enough is enough! Meski sebenernya masih ada satu cara lagi. Saya juga sangat terganggu. Jadilah hari ini ekstraksi ke-3 yang pernah saya alami selama hidup. Semoga ini yang terakhir. Aamiin.

[draguscn]

menghalau jin Pohon Mangga

BB 03 13 035Hehehe .. horror yak .. sebenernya sih cuma nebang pohon mangga depan rumah, yang daunnya sangat rimbun sehingga menutupi halaman rumah ini dan berakibat lembab sangat di dalam rumah. Bagaimanapun lebih enak kalau udaranya kering daripada lembab seperti saat sebelum ditebang. Dan ternyata ada yang komentar “nah .. ini baru keliatan rumahnya, pak dokter”. Jadi ternyata selain mengakibatkan kelembaban, jin pohon mangga di depan juga berakibat rumah ini tidak nampak. Hiiii .. Vampire bat

Selain memang warna rumahnya –  yang entah kenapa kok diberi warna perpaduan biru dan hijau yang menurut saya ngga nyambung – dan sejarah rumah ini memang dari para kepala puskesmas awal-awal puskesmas kraksaan berdiri. Maka tentu saja ini tergolong rumah tua. Konon memang beberapa kapus ada yang cerita horor-horor. Staf-staf saya juga ada yang cerita bahwa dulu Pak Joyolelono sang pemimpin Probolinggo pada masa itu punya kuda-kuda yang area parkirnya ada di sekitar rumah dinas. Konon karena kesaktian beliau maka terkadang suara yang sering didengar di istal itupun masih terdengar hingga kini.

Hehehe .. sejauh ini sih saya ngga diganggu. Mungkin karena saya memang percaya jin ada. Kan memang literatur yang kita imani menyebutkan demikian. Dan saya merasa perlu bertetangga dengan baik dengan beliau-beliau itu. Lagipula mungkin pas mereka nengok liat saya yang tinggal, pada balik kanan semua “wah ini mbahnya Jin, ngga usah diganggu deh” Rolling on the floor laughing

Penebangan Pohon depan Rumah

Tentu aja cerita horor itu ngga ada kaitannya dengan saya nebang pohon di depan rumah. Semata-mata lembab dan pengen lebih bersih. Rumah ini masih harus banyak yang dibersihkan nampaknya. Sarcastic smile

[draguscn]

Ke Kawinannya dr. elok

Eh dimana ini kawinannya? Kalo lihat arahnya ini menuju Arc de Triomphe, ini mestinya sedang di Avenue des ChampsÉlysées .. wekekek .. mungkin kalo diterjemahkan jadi Simpang Lima Gumul (SLG), Kediri. Baru sekarang bisa lihat yang dalam negeri, setelah dapat kesempatan di negeri orang. Ternyata yang lokalan juga bagus kok. Cuma kurang gede dan kurang gede promosinya aja.

Yang sedang mengadakan acara perkawinan ini adalah Dr. Elok Widya Kirana, dokter internship saya waktu masih di Puskesmas Krejengan. Beliau ini sempat bertugas selama 4 bulan di sana.

Ini kali pertama ke Kediri yang beneran tujuannya Kediri. Biasanya kelewatan, singgah makan, atau mau ke kawinan di mana, singgah di rumah temen, numpang ngaca ama sholat. Kali ini tujuannya emang disini. Jadi agak relaks, sempat masuk hotel-hotelan di tengah kotanya.

Justru tempat kawinannya dilewatin dulu karena mau masuk ke tengah kota untuk anak-anak dan uti bisa istirahat selama saya dan istri ke resepsi. Tempat resepsinya di gedung ABRI. Penjagaannya lumayan ketat. Ya ABRI sih ..

Setelah berfoto-foto dengan pengantinnya dan tidak bisa berhai-hai dengan pengunjung lainnya karena ngga kenal semua Sad smile .. akhirnya kami pulang. Jemput anak-anak, melanjutkan acara ke Mbah Kacung. Hehehehe ngga boleh lupa soalnya ini oleh-oleh yang cukup khas untuk kota kediri. TAHU.

Konon dari segala tahu kuning yang ada di Kediri disinilah tahu yang paling enak. Bener sih. Berapa kali nyoba ini memang yang paling pas. Harganya juga beda. Mungkin njagani ada yang nyicip-nyicip kebanyakan kayak model di sebelah ini.

[draguscn]

Up ↑