Belajar Menulis Lagi

Photo by cottonbro on Pexels.com

Hari ini saya ikut mentoring menulis, dan saya ingin berbagi catatan saya tentang apa saja yang diberikan mentor. Kali ini spesifik tentang kepenulisan non fiksi. Selama tiga bulan ini akan tetap meneruskan kebiasaan menulis yang sudah saya bangun di 30 DWC. Karena lebih lama, maka saya meyakinkan diri kali ini jadi buku. Bismillah.

Continue reading “Belajar Menulis Lagi”

Cara Menguasai Skill

Photo by Julia M Cameron on Pexels.com

Saya baca dari buku Coach Aji dan terapkan beberapa kali untuk RSA memang benar dan luar biasa tercengang dengan ternyata dalam usia saya saat ini masih memungkinkan untuk menambah skill, dan rapid (cepat) juga. Jadi teori tentang neuroplastisitas itu benar adanya. Memang bukan cuma itu sih yang meyakinkan saya. Saya juga nonton Curiosity Stream, Redesign My Brain, yang merupakan perjalanan dari Todds Sampson untuk membuktikan apakah otaknya masih bisa dilatih selama 3 bulan menjadi lebih cerdas, kreatif dan bahkan tangguh untuk menghadapi situasi stress, yang dalam episode ke-3 itu dikondisikan dengan harus membebaskan diri dari belitan rantai di dasar kolam renang tanpa alat bantu napas.

Seandainya saya belum mengikuti buku atau pelatihan-pelatihan berbasis NLP dari coach Aji mungkin film diatas mengundang rasa ragu. Tapi mengetahui bahwa itu mungkin dilakukan dari sisi teori dan melihat ada yang bisa membuktikannya sungguh bikin berdecak. Saya jadi ingin meringkas catatan-catatan saya di sini, agar bisa dibolak-balik lagi nanti waktu diperlukan menambah atau memperbaiki keterampilan tertentu.

Continue reading “Cara Menguasai Skill”

Merencanakan Bertemu Rahma

Produktivitas Spiritual.

Saya ingin membiasakan di Ramadhan ini:

  • Meneruskan sunnah yang sudah rutin.
  • Membaca Quran sekali khatam. Membaca dengan terjemah per tema (kelompok ayat).

Produktivitas Mental-Intelektual.

  • Membaca 3000 halaman buku.
  • Blogging kegiatan harian tiap hari (termasuk insight bacaan dan terjemahan)

Produktivitas Emosional.

  • Dengan teman-teman di Komunitas saya yang baru, saya ingin menambah relasi.

Produktivitas Fisik.

  • Saya akan tidur setelah Shalat Tarawih Witir. 20.30 – 03.00
  • Jam 03.00 bangun untuk menemani istri menyiapkan sahur dan bikin rencana/melakukan penilaian kegiatan harian.
  • Makan sahur, seperti biasa dengan sayur dan protein.
  • Olahraga yang saya lakukan : Jalan kaki 1 jam/hari, angkat beban tipis-tipis tiap 2 hari.

@draguscn

Esok Aja 02 – Tugas Aversif

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

Akar dari penundaan yang akan kita telaah adalah yang berasal dari tugasnya dulu. Tugas yang bersifat seperti kita mendapat hukuman, adalah aversif. Kita menjadi enggan melaksanakannya. Kenapa kita enggan melaksanakan tugas tersebut adalah karena terasa tidak bermakna, membosankan dan membingungkan.

Kita merasa tugas tidak bermakna karena kita sulit menghubungkan dengan tujuan-tujuan yang lebih besar. Sehingga kita kehilangan makna dalam menuntaskan tugas.

Kita merasa tugas terasa membosankan karena yang kita kerjakan hanya pengulangan-pengulangan.

Sedangkan tugas terasa membingungkan adalah karena tugasnya terlalu kompleks (sangat besar, sulit diselesaikan), abstrak (sulit dilihat apa yang mau dikerjakan), hampir sama dengan kompleks tugas bisa jadi sangat membingungkan bila terlalu banyak informasi yang harus dibenahi.

Hal-hal diatas bila kita mendapatkan tugas yang tidak bermakna, membosankan dan membingungkan kita akan melakukan penundaan dengan melakukan hal lain yang kita rasa menjadi lebih nyaman. Sehingga akhirnya terbentuklah lingkaran penundaan :

  1. Merasa tidak sanggup mengerjakan tugas
  2. Melakukan penundaan
  3. Mulai merasa bersalah setelah hilang kesenangan penundaan
  4. Dan timbullah mulai meragukan kemampuan menyelesaikan tugas.

Dan akan terulang dengan kita makin meragukan kemampuan. Bisa jadi pada tahap ini tugas sudah dipermudah tapi kemampuan makin terbatas. Dan ini bila berlanjut akan berakibat depresi.

Maka solusinya adalah :

  1. pahami bahwa penundaan yang kita lakukan adalah sementara.
  2. kemudian sadari bahwa kita manusia biasa dan bisa silap melakukan kesalahan penundaan. Kita bisa jadi mempunyai rasa tidak nyaman karena kita ingin tugas dilakukan dengan sempurna sehingga karena kita takut gagal maka akhirnya kita memilih penundaan. Ini bisa diatasi dengan self talk dengan muhasabah pengakuan ketidaksempurnaan. Ulangi terus sampai kita merasa ringan.
  3. mulai saja dulu pekerjaannya, untuk mengalihkan perhatian kita. Mulai dari bagian tugas tersebut yang paling sederhana. Jangan berpikir untuk menyelesaikan, karena pada tahap ini kita harus masuk dulu ke dalam tugas. Kalo kita sibuk menyiapkan untuk menyelesaikan kita akan masuk lagi ke dalam penundaan. Yakin kan diri bahwa kita memilih untuk menyelesaikannya. Meskipun baru kita mulai.

Esok Aja 01

Photo by Magoi on Pexels.com

Penundaan adalah hal yang sering dilakukan tapi jarang saya pikirkan apa definisi yang tepat. Kadang tercampur dengan rasa malas karena efek yang dihasilkannya tetap saja pekerjaan yang dimaksudkan tidak selesai. Tapi ada hal mendasar yang berbeda antara menunda dan sikap malas.

Saat kita menunda sebenarnya yang terjadi adalah kita memilih untuk mengerjakan hal lain dari pada hal yang ditunda. Dan tentu saja melihat katanya saja maka yang ditunda seharusnya adalah hal penting yang bila tidak dikerjakan akan berakibat penyesalan di kemudian hari. Sedangkan rasa malas adalah doing nothing (pasif).

Risiko yang terjadi akibat penundaan antara lain adalah :

  1. apa yang ingin kita capai jauh dari berhasil. Misalnya kita ingin mendapatkan 90% sebagai angka keberhasilan, hasil akhirnya bisa jadi tidak pernah mencapai angka separonya.
  2. secara emosi kita selalu tidak nyaman (ada perasaan penyesalan dan bisa jadi akan berakibat depresi)
  3. makin jauh akan berakibat pada permasalahan jangka panjang misalnya dalam keuangan, kesehatan dan relasi.

Karena itu penundaan harus diperhatikan dengan lebih serius. Agar bisa dicegah berdampak lebih jauh kita bisa melakukan identifikasi, pengenalan terhadap konsekwensi – baik pada saat ditunda maupun manfaat yang bisa diambil dari tidak menunda satu pekerjaan penting – dan yang paling penting adalah menghindari depresi karena berkelanjutannya sikap menunda dengan mampu memaafkan diri sendiri dan memulai suatu perilaku baru yang lebih baik.

@draguscn