Diam (II)

as time goes by

Hari terbilang, minggu berlalu, Nadia tetap setia berkabar walau John tak menanggapi. Membuka folder foto, folder sound, folder musik semua yang berkaitan dengan John menjadi pelipur rindu yang sangat berarti bagi Nadia. Tak sekalipun, bahkan dalam hati dan pikirannya, Nadia mengeluhkan sikap John padanya. Walau sejak peristiwa di Hotel Oranye saat itu tak sepatah katapun keluar dari John

“Kenapa, sayang, kok melamun?” tegur Ken saat dilihatnya Nadia, istrinya selama 15 tahun, termenung di hadapan laptopnya. “Gak kok, bang, aku sedang cari ide untuk menulis” jawab Nadia seraya berpaling seakan takut Ken melihat matanya yang berkaca-kaca. “Wah, abang harus jadi orang pertama yang membaca tulisanmu nanti, ya” ucap Ken sambil mengecup kepala Nadia.

Nadia habiskan sebagian besar waktunya di depan laptop….sampai satu saat matanya tertumbuk pada satu kesempatan, beasiswa S3 di Perancis! Nadia mulai berpikir untuk meneruskan studi nya, apalagi bidangnya sesuai dengan kecintaannya terhadap menulis. Akhirnya ia memutuskan untuk berdiskusi dengan Ken tentang kesempatan ini dan nasib kedua putri cantik mereka, Hanna dan Rara.

[one_third][quote]Diamnya John tak pernah membuat Nadia berputus asa, ia begitu yakin satu waktu nanti John akan menemukannya kembali, menemukan orang yang ia sayangi belasan tahun lamanya[/quote][/one_third]

[two_third_last] 

Beberapa bulan kemudian, di satu pagi, Kevin beserta kedua orang tuanya hadir di rumah adiknya untuk melepas kepergian Nadia ke Perancis. Saat Hanna dan Rara sibuk berebut bercerita kepada eyang mereka tentang bagaimana mereka membantu mamanya berkemas, di beranda Nadia menghampiri Kevin yang sedang menyulut rokok, yang entah keberapa di pagi itu. “Mas, masih sering kontak dengan John?” suara Nadia sedikit bergetar saat menyebut nama John. “Ya, tapi nggak se intens dulu, dia sedang sangat sibuk dengan bisnis barunya, ada apa? Bukannya kalian sering ngobrol via bbm?”

[/two_third_last]

Kevin tak sedikitpun memperhatikan mata Nadia yang menerawang kosong… “Sama seperti mas, aku juga sudah jarang kontak karena sepertinya dia sangat sibuk” bibir Nadia tergetar berucap, ia tahu ia bohong karena selama ini ia selalu berkabar via bbm walau tanpa respons John. Tiba-tiba Kevin memeluk erat adiknya dari belakang “Hayoooo sudahlaaah jangan bicarakan John lagi, adik kecilku ini kenapa harus pergi begitu jauh??” Nadia membalikkan badannya dan memeluk erat Kevin sambil terisak, “Hey bidadariku….kenapa menangis??? Sudah kangenkah sama mas mu yang ganteng dan baik hati ini??” Kevin tertawa menghibur tanpa tau penyebab tangis adiknya.

Dalam pesawat yang membawanya ke negeri tempat impiannya akan diraih, Nadia berpikir perlukah John tahu kemana ia pergi? Tapi sekali lagi ia sadar, di manapun ia berada, sepertinya buat John takkan pernah ada arti beda nya…tapi Nadia bertekad untuk terus berkabar kali ini ia pastikan via email karena akan banyak cerita untuk di share nantinya.

Begitu Nadia membuka pintu kamar asramanya, ia langsung membuka laptop dan menulis email berkabar dengan seluruh keluarga dan berbicara dengan dua malaikat cantiknya via skype, setelah itu tak lupa menulis email untuk John. Hal ini terus dilakukannya setiap hari dengan cerita yang berbeda namun energi bahagia yang sama, sambil terus berharap John akan membalas satu saja email nya.

Diamnya John tak pernah membuat Nadia berputus asa, ia begitu yakin satu waktu nanti John akan menemukannya kembali, menemukan orang yang ia sayangi belasan tahun lamanya. Nadia tetap tersenyum dalam sunyinya hati John.

[button link=”http://dragus.cn/cerita/diam-iii/” color=”silver” newwindow=”yes”] bersambung[/button]

 

 

Diam (1)

jendela 2

 

[one_third]

[quote]”tak seharusnya semua tadi terjadi, mas mencintai Tasya, dan aku mencintai Ken”[/quote]

[/one_third]

[two_third]

Sejuknya hembusan pendingin udara dalam kamar hotel no 455, membuat tirai berwarna jingga di tepi kamar melambai seiring dengan cium dan peluk hangat John dengan Nadia. Suara TV yang sedang menayangkan acara lomba masak memasak pun seakan jadi musik pengiring gairah kedua pasang manusia yang tengah memadu indahnya kasih.

[two_third_last]

……..

Tersentak Nadia berucap seraya mendorong dada John “maaf mas, aku gak bisa”…. dengan nafas memburu John merayu “ayolah sayang, tahukan betapa aku memujamu sejak dulu?”….”ya,mas, tapi jangan paksa aku, aku tidak mau dipaksa, maaf”….”baiklah sayang, aku tak akan pernah memaksamu”….

John beranjak dari pembaringan untuk menyalakan sebatang rokok … rokok pertamanya hari itu … sementara Nadia beringsut meraih pakaiannya dan memakainya dibalik selimut. “maaf ya, mas” …..”tak apa sayang” John tersenyum seraya merengkuh Nadia dalam pelukannya sambil mencium kening dan kepalanya. “maaf, mas harus segera pergi, mas ada janji dengan Tasya”

Sepeninggal John, Nadia merenung dan tiba-tiba terisak…..”tak seharusnya semua tadi terjadi, mas mencintai Tasya, dan aku mencintai Ken”

Angan Nadia pun melayang belasan tahun lalu saat kakaknya, Kevin, memperkenalkan seorang teman yang kemudian menjadi sahabat baiknya hingga kini, John. Perawakan John yang tinggi, gagah, berkulit cerah, berhidung mbangir, membuatnya terpesona. Ternyata John pun jatuh hati saat pertama diperkenalkan dengan Nadia, gadis kecil, dengan rambut terurai di bahu, menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan wajah tersipu. Namun semuanya berhenti di saat itu karena masing-masing dari mereka tenggelam dengan kesibukan studi yang mendera.

Sampai akhirnya 4 tahun kemudian Nadia memutuskan menikah di usianya yang masih belia, John tak sanggup berbuat apa-apa karena statusnya yang masih mahasiswa saat itu.

15 tahun berjalan, John tetap mengenang Nadia, adik sahabat terbaiknya. 15 tahun berlalu, Nadia tetap menyimpan John dalam hatinya. Pesatnya tekhnologi akhirnya menyatukan mereka kembali melalui satu jejaring sosial, bertukar nomer telpon sampai bertukar PIN BB. … percikan bara kembali menyala … saat Nadia telah memiliki Ken dan John telah memiliki Tasya.

Sejak peristiwa di kamar Hotel Jingga hari Sabtu 14 Juli, Nadia tak pernah mendapat kabar sedikitpun dari John …. bagai hilang ditelan riuhnya kehidupan di kota metropolitan.

Hari demi hari Nadia menanti kabar, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk menyapa melalui bbm ….. satu hari berlalu … belum juga ada respons … Nadia terisak dipelukan sahabatnya tanpa berani bercerita apa penyebabnya … sang sahabat hanya berpesan “apapun atau siapapun membuatmu hancur berkeping, tetaplah berbesar hati, tetaplah tersenyum, karena kau tak pernah tahu bahwa kebesaran hatimu, senyuman hangatmu yang tak pernah pudar mampu membuat orang di sekitarmu bahagia”…. Nadia tetap terisak …. “Nadia sayang, menangislah sepuasmu sekarang, setelah itu, tegakkan kepalamu, lihat baik-baik….senyumanmu membuat dunia orang-orang yang menyayangimu tetap berputar …. ayah ibumu, kakakmu, suamimu, anak-anakmu, dan kami sahabat-sahabatmu”…. Nadia menyimak sambil mengusap air matanya, “ya, aku sudah puas menangis, aku akan tegakkan kepalaku dan tetap menebar senyumku, demi orang-orang yang menyayangiku”

Bahkan sampai detik ini sang sahabat tak pernah tahu apa yang di alami Nadia, namun ia bahagia melihat sahabatnya yang bagai boneka tak bernyawa kembali ‘hidup’.

Tak sedetikpun Nadia melupakan John, tapi kali ini ia mengingatnya sambil tersenyum. Terbayang di benaknya tentang John yang menyanyikan lagu di depannya sambil mengajaknya berdansa …. terbayang di pikirnya tentang John yang selalu mampu membuatnya tersenyum bahkan tertawa saat air mata mulai menggenang …

Sampai detik ini tak sepatah kata terdengar dari John….dalam hilangnya kata-kata John, dalam diamnya hati John, Nadia tetap tersenyum karena ia tahu John akan selalu menyayanginya sebagaimana ia menyayangi John…

Dalam diam, Nadia terus berkabar, terus bertegur sapa, karena ia tahu, dalam hati John menjawab semua pertanyaan dan tegurannya panjang lebar walau dengan tanpa kata-kata sepatah pun.

Walau hati dan mulut John terkatup rapat, Nadia tak pernah surut kebahagiaannya…tak pernah absen mengirim dan bertanya kabar …. karena ia tahu … persahabatan 19 tahun lamanya takkan pudar dengan DIAM …

[button link=”http://dragus.cn/cerita/diam-ii/” color=”silver” newwindow=”yes”] bersambung[/button]

 

 

Besarnya Penghargaan

anjing jenius

Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi. Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu.

Ia mengambil catatan itu dan membacanya, “Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini.” Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar di sana.

Segera ia mengambil uang itu, ..