Belajar Quran di Bulan Ramadhan

Photo by Pok Rie on Pexels.com

Satu-satunya kata ramadhan insyaAllah ada di surah Al-Baqarah (2) – 185, yang dalam terjemah disebutkan : Bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia, bulan diturunkannya Al-Quran.

Seolah-olah disebutkan dalam sentralnya ayat-ayat yang bercerita tentang puasa, bahwa yang disebut sebagai bulan Ramadhan adalah bulan dimana Al-Quran diturunkan. Saya mencoba memikirkan bahwa ini tidak dimaksudkan hanya sebagai cerita tentang sejarah tapi juga bahwa AlQuran sebagai petunjuk itu bisa lebih dipelajari pada bulan Ramadhan.

Diluar itu gimana? Mungkin sama ya .. sering kita dengar, ini adalah bulan latihan. Untuk nanti perilaku-perilaku yang baik-baik bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di luar Ramadhan. Karenanya kalo sekarang kita berlatih selama 30 hari mempelajari AlQuran dan bisa terbawa sampai terus di luar Ramadhan, maka kita bisa menjadikan Quran sebagai pedoman hidup sepanjang tahun secara terus-menerus.

Kita paham betul bahwa sehari-hari kita setidaknya ngurusi makan mulai pagi sampai siang bisa membutuhkan waktu tersendiri. Bukankah sekarang kita punya kelonggaran untuk melakukannya dalam jatah makan siang kita karena kita tidak makan siang. Jadi bila kita bisa menyisihkan sedikit waktu untuk mempelajari Quran mungkin bisa mendapat beberapa ayat agar bisa jadi bekal cara belajarnya sampai dengan setahun hingga bertemu lagi dengan Ramadhan jika masih diizinkan Allah.

Sekarang metode, bagaimana caranya.

Saya adalah seorang yang dididik tidak semenjak kecil dengan pendidikan Agama Islam yang cukup untuk menjadikan saya memahami Quran dengan memahami langsung dari membaca bahasa Arabnya. Bahasa Arab yang saya pahami adalah bahasa arab pasar yang digunakan pas menawar dagangan orang Arab di Mekkah – Madinah, saat haji atau pada kesempatan umrah tahun-tahun lalu. Padahal katanya bahasa Quran beda dengan bahasa Arab. Konon juga disebutkan bahwa bahasa Quran itu berlapis-lapis pengertian yang bisa diambil didalamnya. Maka cara paling mudah menurut saya yang awam ini adalah dengan melihat di Quran Terjemah. Ada beberapa Quran terjemah di rumah yang bisa saya gunakan. Saya juga sempat mengoleksi tafsir Al-Azhar buya Hamka dan tafsir Al-Mishbah pak Quraisy Shihab. Meski belum lengkap.

Jadi saya ingin coba lihat terjemah saja dulu, di rumah kebetulan ada Quran terjemah Adz Zikr dari penerbit Fatwa. Di dalamnya ada Klasifikasi Ayat Tematik. Dengan begini saya akan baca dengan melihat Tema-tema yang disampaikan, idenya sih cover to cover ya. Tapi nanti lihat aja bagaimana sepanjang saya mulai belajar, semoga dimudahkan.

Saya ingin mencoba melihat terjemah saja dulu. Semoga saya sempat juga bikin insight dengan bahan dari tafsir. Setidaknya ini yang bisa saya lakukan untuk belajar Quran di bulan Quran. Pengennya sih mencoba agak dalam, tapi mungkin ini yang bisa saya lakukan dulu. Sebisanya dengan cara ini ada upaya untuk mendekatkan diri dan berharap dari cara ini akan ada pencerahan yang bisa memberikan pengertian. Minimal menjadi rasa ingin tahu yang bisa membawa saya bertanya lebih banyak kepada yang ngerti.

Semoga dengan begini baca Quran yang sering dengan target banyak baca bisa mendapatkan petunjuk menjadi banyak ngerti. Bismillah.

@draguscn

Membangun Habit Baca

Photo by Liza Summer on Pexels.com

Ini cuma pengen merekam nasihat dari coach Teddi, karena saya rasa ini beneran jadi jalan ninja saya, khususon karena saya tukang ngumpulin buku. Bukan tukang baca. Yaikss .. Bagaimana mau menghabiskan sekian banyak buku yang ada saat ini di lemari buku saya supaya beneran jadi model dalam otak saya. Dan saya tertarik dengan cara yang disarankan oleh coach Teddi.

Sebelumnya saya pikir dengan cepat membaca diiringi dengan bagaimana kita memahami maka dengan sendirinya kecepatan akan menambah juga pemahaman karena makin banyaknya info yang masuk dan akan makin mempercepat proses baca karena hal-hal yang sudah kita pahami. Mungkin ini benar dan bisa ikut disandingkan dengan ide yang akan kita bahas ini sebagai praktiknya.

Saran pertama adalah bawa bukunya kemana-mana. Bener juga. Kalo dibawa kemana-mana minimal jadi pada saat kita ada jeda bisa langsung dibaca, meski cuma menambah 1 – 2 paragraf. Bedanya dengan yang saya pikirkan itu, yang ini adalah memanfaatkan waktu sedangkan saya mengalokasikan waktu khusus untuk baca cepet-cepetan .. hehehe.

Kemudian yang kedua adalah prinsip orang ngga diet. Perlakukan mana makanan utama dan mana cemilan. Saya sangat cocok dengan nasihat ini. Maksudnya gini, kalo baca satu buku saya suka bosan setelah menginjak halaman berapa saya mulai melirik buku lain. Nah untuk ini maka cari 1 buku yang akan dijadikan ‘makanan utama’ ini harus bagus progressnya meskipun lambat, separagraf setiap kali tapi maju terus. Ini main course. Sedangkan buku yang akan kita camil adalah yang menarik perhatian kita dan ingin kita sambi baca. Daripada desakannya tidak dipenuhi dan makin bikin frustasi berakhir dengan menumpuknya buku-buku yang akan dibaca, lebih baik baca saja makanan utamanya sambil ngemilnya juga. Belum tentu tidak akan saling berkaitan dan bisa menimbulkan keterkaitan tersendiri. Mungkin itu “jalan kita”.

Yang ketiga adalah bikin catatan. Coach Teddi kayaknya orang yang sangat sayang dengan buku sehingga menceritakan kurang sependapat dengan corat-coret di buku. Saya kadang-kadang disana nyoretnya. Sejak punya tablet memang lebih banyak di Notes. Karena lebih mudah orat-oret tanpa batas. Beberapa ide melakukan coretan sudah saya lakukan. Saya membaca buku dengan melihat judul-judul dulu bolak-balik beberapa kali. Bila ini buku yang sudah teratur biasanya akan mudah menemukan bagian cara berpikir penulisnya. Oh ini pas dia mulai dengan pengenalan, ini dia mulai membahas, ini mulai menyarankan beberapa perubahan, ini closingnya. Pola-pola itu tentu saja bisa terlihat. Dan saya senang bolak balik depan belakang kira-kira 6-10 kali baru mulai bikin catatan tentang buku tersebut. Garis besarnya. Belum mendetil. Kemudian mulai melihat bab-per-bab. Anehnya seringkali terasa mudah membaca bab setelah melihat secara keseluruhan (skimming reading) yang pasti saya haramkan banget untuk buku fiksi. Bagi saya kalo baca buku fiksi harus halaman demi halaman. Bahkan kadang ada yang saya hemat ngga cepat-cepat seperti buku Harry Potter. Saya sepakat. Untuk buku non fiksi, saya akan bikin catatan. Ide yang muncul dari membaca ini biasanya yang saya tuangkan di blog ini. Walaupun acak sekali. Cara saya bikin catatan juga tidak terbatas di Blog saja, selain di Notes di tablet, kadang jadi presentasi powerpoint, kadang jadi Instagram Post. Pokoknya idenya ditangkap dalam bentuk rekaman.

Yang keempat, sarannya adalah mencari buku yang benar-benar berguna untuk tujuan kita. Saya saat ini masih mencari buku yang saya senangi. Cari buku dengan konsep hiburan, meskipun bukunya bertemakan hal-hal yang perbaikan diri dll seperti itu. Tapi bahwa mulai dari mencari tujuan hidup dan kemudian mengisi kemampuan dengan skill yang melengkapi ilmunya dengan cara membaca buku.

Nah itu deh saya terpicu dengan apa yang dibuat oleh coach Teddi memberikan saran, saya punya gaya sendiri tentu saja. Tapi beberapa tepat dengan apa yang saya lakukan karenanya saya taro di blog ini biar jadi pengingat.

@draguscn

Merencanakan Bertemu Rahma

Produktivitas Spiritual.

Saya ingin membiasakan di Ramadhan ini:

  • Meneruskan sunnah yang sudah rutin.
  • Membaca Quran sekali khatam. Membaca dengan terjemah per tema (kelompok ayat).

Produktivitas Mental-Intelektual.

  • Membaca 3000 halaman buku.
  • Blogging kegiatan harian tiap hari (termasuk insight bacaan dan terjemahan)

Produktivitas Emosional.

  • Dengan teman-teman di Komunitas saya yang baru, saya ingin menambah relasi.

Produktivitas Fisik.

  • Saya akan tidur setelah Shalat Tarawih Witir. 20.30 – 03.00
  • Jam 03.00 bangun untuk menemani istri menyiapkan sahur dan bikin rencana/melakukan penilaian kegiatan harian.
  • Makan sahur, seperti biasa dengan sayur dan protein.
  • Olahraga yang saya lakukan : Jalan kaki 1 jam/hari, angkat beban tipis-tipis tiap 2 hari.

@draguscn

Esok Aja 02 – Tugas Aversif

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

Akar dari penundaan yang akan kita telaah adalah yang berasal dari tugasnya dulu. Tugas yang bersifat seperti kita mendapat hukuman, adalah aversif. Kita menjadi enggan melaksanakannya. Kenapa kita enggan melaksanakan tugas tersebut adalah karena terasa tidak bermakna, membosankan dan membingungkan.

Kita merasa tugas tidak bermakna karena kita sulit menghubungkan dengan tujuan-tujuan yang lebih besar. Sehingga kita kehilangan makna dalam menuntaskan tugas.

Kita merasa tugas terasa membosankan karena yang kita kerjakan hanya pengulangan-pengulangan.

Sedangkan tugas terasa membingungkan adalah karena tugasnya terlalu kompleks (sangat besar, sulit diselesaikan), abstrak (sulit dilihat apa yang mau dikerjakan), hampir sama dengan kompleks tugas bisa jadi sangat membingungkan bila terlalu banyak informasi yang harus dibenahi.

Hal-hal diatas bila kita mendapatkan tugas yang tidak bermakna, membosankan dan membingungkan kita akan melakukan penundaan dengan melakukan hal lain yang kita rasa menjadi lebih nyaman. Sehingga akhirnya terbentuklah lingkaran penundaan :

  1. Merasa tidak sanggup mengerjakan tugas
  2. Melakukan penundaan
  3. Mulai merasa bersalah setelah hilang kesenangan penundaan
  4. Dan timbullah mulai meragukan kemampuan menyelesaikan tugas.

Dan akan terulang dengan kita makin meragukan kemampuan. Bisa jadi pada tahap ini tugas sudah dipermudah tapi kemampuan makin terbatas. Dan ini bila berlanjut akan berakibat depresi.

Maka solusinya adalah :

  1. pahami bahwa penundaan yang kita lakukan adalah sementara.
  2. kemudian sadari bahwa kita manusia biasa dan bisa silap melakukan kesalahan penundaan. Kita bisa jadi mempunyai rasa tidak nyaman karena kita ingin tugas dilakukan dengan sempurna sehingga karena kita takut gagal maka akhirnya kita memilih penundaan. Ini bisa diatasi dengan self talk dengan muhasabah pengakuan ketidaksempurnaan. Ulangi terus sampai kita merasa ringan.
  3. mulai saja dulu pekerjaannya, untuk mengalihkan perhatian kita. Mulai dari bagian tugas tersebut yang paling sederhana. Jangan berpikir untuk menyelesaikan, karena pada tahap ini kita harus masuk dulu ke dalam tugas. Kalo kita sibuk menyiapkan untuk menyelesaikan kita akan masuk lagi ke dalam penundaan. Yakin kan diri bahwa kita memilih untuk menyelesaikannya. Meskipun baru kita mulai.