Belajar Menulis Lagi

Photo by cottonbro on Pexels.com

Hari ini saya ikut mentoring menulis, dan saya ingin berbagi catatan saya tentang apa saja yang diberikan mentor. Kali ini spesifik tentang kepenulisan non fiksi. Selama tiga bulan ini akan tetap meneruskan kebiasaan menulis yang sudah saya bangun di 30 DWC. Karena lebih lama, maka saya meyakinkan diri kali ini jadi buku. Bismillah.

Menulis adalah Skill

Pada blog ini, saya juga sudah sharing tentang bagaimana saya melihat menulis sebagai skill. Kita bisa pelajari dan bisa jadi ahli. Sebaliknya juga kita bisa memaklumi bahwa ada kemungkinan kita masih berada di awal spektrum keahlian ini, pemula. Yang berarti kita tinggal berlatih untuk mendapatkan keahlian tersebut.

Di tahap kognitif. mungkin bisa menggunakan apa yang saat ini sudah ada yaitu:

  • Seri Terampil Menulis Bahasa Indonesia, KOSA KATA
  • Seri Terampil Menulis Bahasa Indonesia, KALIMAT
  • Seri Terampil Menulis Bahasa Indonesia, PARAGRAF

Ketiganya adalah buku karangan Prof. Dr. Djoko Saryono, MPd dan Prof. Drs. Soejito. Coach Aji juga menambahkan buku-buku karangan Prof. Dr. Gorys Keraf.

  • Komposisi
  • Diksi dan Gaya Bahasa
  • Argumentasi dan Narasi
  • Eksposisi dan Deskripsi

Saya memang sudah berencana untuk mencacah, memilah dan mengurutkan dari mulai kata, kalimat dan paragraf. Dan dari sini saya sudah mereka-reka mau melatih kata bagaimana, kalimat bagaimana dan seterusnya sampai terbentuk paragraf (-paragraf).

Bila makin sering melatih semoga bisa mengenali tahapan asosiasi sampai dengan otonom. Untuk itu tentu tidak cukup hanya melatih pengetahuan berbahasanya saja. Tapi pasti juga ada yang dilakukan untuk membiasakan proses menulisnya. Ada dua metode yang memperlancar skill menulis, yaitu:

  • Outer Game; hard skill, hal-hal teknis terkait kepenulisan.
  • Inner Game; hal-hal yang berkait motivasi, beliefs.

Outer Game

Ada empat kebiasaan yang bisa dilakukan untuk melengkapi pemahaman dan kebiasaan penggunaan Bahasa Indonesia di atas.

Note Taking

Ide bisa jadi berasal dari bacaan, riset dan imajinasi. Kebiasaan mencatat ide sebaiknya dilakukan pada saat kita mendapatkan ide. Karena Ide datang dan pergi, saat ini kita mendapatkan, sesaat kemudian mungkin ide sudah tidak bisa diingat lagi. Mengandalkan kemampuan otak yang seperti ini akan menyebabkan kita banyak kehilangan. Apa yang digambarkan memang sering terjadi pada saya. Ini juga dulu sebab membiasakan diri menuliskan morning journal di tablet. Karena ingin membentuk kebiasaan menulis.

Dalam menggunakan external brain atau second brain, yang gampangnya berupa sistem pencatatan yang diorganisir dengan rapi agar mudah ditarik kembali pada saat diperlukan, saya menggunakan aplikasi online dan buku tulis untuk offline. Saat ini buku nyaris jarang sekali terisi. HP dan tablet berjarak lebih dekat daripada buku. Belum lagi hampir semua aplikasi yang saya gunakan sebagai external brain., ada web atau desktop app-nya.

Untuk aplikasi online ini, sayangnya saya belum bisa mengatur untuk membuatnya hanya ada dalam satu aplikasi. Jadilah seperti ini:

  • Untuk menulis yang sedikit-sedikit saja, biasanya saya gunakan Google Keep.
  • Untuk menulis morning journals, disini berisikan gratitude journals, short term goals dan daily goals saya gunakan Samsung Notes. Saat ini paling nyaman, cepat dan memenuhi kebiasaan corat-coret saya. Biasanya daily goals akan saya oper ke Google Tasks. Lebih simple daripada Any Do yang sudah saya pensiunkan.
  • Untuk menulis panjang-panjang gini saya gunakan blog, kebanyakan wordpress. Ya, memang banyak. Banyak yang tidak aktif. Tapi baru-baru ini saya merasakan manfaat dari menghidupkan satu blog lagi karena tulisan di dalamnya ternyata sangat perlu dikenang dan bisa ditulis kembali jadi bakal novel.
  • Sedangkan untuk belajar yang membutuhkan referensi silang, saya mengandalkan Notion. Di Notion, ada Master Tag Database yang sudah saya bangun selama dua tahun belakangan ini. Masih nggak banyak, sih. Karena belum bener-bener rutin mengerjakannya. Ini juga saya gunakan menggeser Trello dan Asana dalam mengorganisir hal-hal yang saya tracking berdasarkan waktu/step.

Researching

Buku referensi diperlukan terutama untuk menulis non fiksi. Catatan (note taking) bisa jadi tidak lengkap dan belum cukup jelas. Tapi juga tidak perlu terlalu banyak, anjuran dari Coach Aji:

  • 3-4 referensi utama
  • Referensi tambahan bisa disesuaikan

Melakukan riset tidak harus mendahului proses menulis. Ada istilah “backload” research yang maksudnya adalah melakukan riset pada simultan dengan proses penulisan. Kepentingan riset selain memperluas pengembangan ide tulisan, juga bisa memberikan bobot sebagai data pendukung dengan memanfaatkan data yang sudah diriset oleh orang lain.

Writing

Proses menulis tentu saja adalah keniscayaan dalam perilaku yang dilakukan. Maka ada beberapa tips yang disarankan coach Aji yaitu:

  • free writing, penting untuk menggunakan topi creator terlebih dulu baru menggunakan topi editor kemudian. Bila digunakan bersamaan akan melelahkan.
  • menulis di tempat yang sama dan waktu yang sama
  • Lakukan satu demi satu. Di atas sekali tahapan kognitif sudah dicanangkan, tinggal yang bentuknya pelatihan perlu dibuatkan tracking untuk dilaksanakan harian.
  • Menggunakan timer dan pomodoro.

Sesuaikan kecepatan dengan kebiasaan yang sudah berjalan saat ini. Misalnya sudah biasa menulis 200 kata maka menulislah sedikit lebih banyak. Agar bisa meregang otot menulisnya.

Editing

Kalau setara Tere Liye mungkin bisa menyerahkan hasil tulisan dengan masih belum bersih. Tapi kalau baru belajar ya kita coba untuk melakukan pembiasaan perilaku ini. Berikut ini tipsnya:

  • baca bersuara, pada saat dibaca keras begitu maka kita akan mendengar kejanggalan dari tulisan kita;
  • buang kata dan kalimat yang membingungkan;
  • tambahkan ilustrasi, contoh atau referensi;
  • sesuaikan gaya bahasa dan ejaan;
  • cukupkan diri; dan
  • sewa seorang editor. Saya kayaknya menantikan ini.

Inner Game

What to feel

  • Kreatif
  • Tidak terburu-buru
  • Tidak melekat pada target
  • Merasa Cukup

What to think

Empowering

  • Semua orang punya cerita untuk ditulis
  • Menulis itu mencatat pemahaman -feedback
  • Menulis itu pekerjaan tangan – Yang kerja tangan bukan hanya otak
  • Tidak ada buku yang benar-benar selesai ditulis – direvisi
  • Segala sesuatu dapat diselesaikan bila kita memecahnya ke bagian-bagian yang lebih kecil

Disempowering

  • Harus Sempurna
  • Untuk menunjukkan saya hebat

Bagian inner game ini saya sisakan demikian karena setelah ini saya akan menulis tentang inner game di 30DWC. Nanti bila tulisannya sudah selesai akan saya linkkan dengan tulisan ini. Sampai sini dulu tentang catatan apa yang sudah disampaikan untuk hari pertama mentoring kepenulisan. Materi berikutnya dua minggu kemudian. Sementara itu, saat ini dilakukan pembiasaan menulis setiap hari menulis satu post. Sampai ketemu dua minggu lagi.

@draguscn

Cara Menguasai Skill

Photo by Julia M Cameron on Pexels.com

Saya baca dari buku Coach Aji dan terapkan beberapa kali untuk RSA memang benar dan luar biasa tercengang dengan ternyata dalam usia saya saat ini masih memungkinkan untuk menambah skill, dan rapid (cepat) juga. Jadi teori tentang neuroplastisitas itu benar adanya. Memang bukan cuma itu sih yang meyakinkan saya. Saya juga nonton Curiosity Stream, Redesign My Brain, yang merupakan perjalanan dari Todds Sampson untuk membuktikan apakah otaknya masih bisa dilatih selama 3 bulan menjadi lebih cerdas, kreatif dan bahkan tangguh untuk menghadapi situasi stress, yang dalam episode ke-3 itu dikondisikan dengan harus membebaskan diri dari belitan rantai di dasar kolam renang tanpa alat bantu napas.

Seandainya saya belum mengikuti buku atau pelatihan-pelatihan berbasis NLP dari coach Aji mungkin film diatas mengundang rasa ragu. Tapi mengetahui bahwa itu mungkin dilakukan dari sisi teori dan melihat ada yang bisa membuktikannya sungguh bikin berdecak. Saya jadi ingin meringkas catatan-catatan saya di sini, agar bisa dibolak-balik lagi nanti waktu diperlukan menambah atau memperbaiki keterampilan tertentu.

Continue reading “Cara Menguasai Skill”

Menghitung Perolehan

Photo by Ahmed Aqtai on Pexels.com

Evaluasi Ramadhan 1442H ini masih jauh dari rencana:

Produktivitas Spiritual.

  • Shalat Dhuha masih ketinggalan beberapa kali
  • Tahajud alhamdulillah lengkap
  • Tarawih dan Witir berjamaah lengkap.
  • 10 hari terakhir cuma 8 hari yang iktikaf di Mesjid
  • Khatam Quran pada hari ke 25.
  • Membaca dengan terjemah per tema (kelompok ayat) Baru sampai AlBaqaroh : 20.

Produktivitas Mental-Intelektual.

  • Membaca 1021 dari 3000 halaman buku.
  • Blogging kegiatan harian tiap hari : 12 dari 30.

Produktivitas Emosional.

  • Berkumpul dengan teman-teman di grup WA, masih lebih banyak karena kerjaan
  • Grup Powerpoint Designers sesekali
  • Grup Medsos lebih jarang.
  • Berkumpul dengan anak lebih intens dibanding tahun lalu
  • Mengajak mereka lebih produktif. Mas – Programming, mba – nulis cerita. Adek belum.

Produktivitas Fisik.

  • Tidur kurang bisa mengatur. Ada dua hari yang sampai ketiduran di kantor.
  • Bikin rencana/melakukan penilaian kegiatan harian cuma kurang lebih 50%. Terutama 10 hari terakhir ini sama sekali ngga dilakukan.
  • Makan sahur dan buka dengan sayur dan protein.
  • Olahraga yang saya lakukan : Jalan kaki 1 jam/hari, angkat beban lewat.

Semoga masih diberi kesempatan memperbaiki di Ramadhan 1443H.

@draguscn

Belajar 1.1 sampai dengan 2.20

Photo by Tayeb MEZAHDIA on Pexels.com

Sebelumnya saya sudah berniat untuk mencoba mempelajari AlQuran dengan cara membaca dulu bagian arti dan mencoba memahami kumpulan ayat-ayat tersebut dengan melihat pada terjemah yang saya punya. Minimal dalam memilih mana yang ingin saya pahami saya bisa membuka sendiri dan membacanya. Saya juga mencoba menambah bahan-bahan bacaan dengan tafsir dari AlMisbah – Quraisy Shihab dan AlAzhar – HAMKA. Saya juga berlangganan Bayyinah TV, mengikuti ustadz Nouman Ali Khan, selain mengakses Youtube beberapa ustadz di Indonesia.  Meskipun belum bisa meguru langsung, semoga ini bisa dihitung sebagai upaya saya untuk mengenali Quran.

Kenapa saya tulis di blog? Karena saya ingin sesuai dengan pemahaman saya bahwa untuk menjadikan ini sebagai ilmu yang ada dalam otak saya, maka saya memilih melalui proses refleksi dengan sharing pemahaman pada media yang bisa diupdate, bila nanti mungkin ada pemahaman yang bisa saya tambahkan atau koreksi, akan saya lakukan revisi. Alasan kedua adalah media yang saya mengerti cara kerjanya adalah blog. Semoga Allah melindungi saya dari berbuat riyya.

Apa yang saya tulis sebagai alinea di bagian bawah ini adalah terjemah yang saya ambil dari Terjemah Kementerian Agama pada situs quran.com. Sedangkan yang berupa bullet points adalah proses saya memahami ayat atau sekelompok ayat. Secara sederhana, karena saya belum punya kesempatan menjadi pembelajar AlQuran yang runut keilmuannya. Tapi juga rasa ingin tahu, terbaca tiap hari, dan ada rasa tidak ingin bila hanya membaca tanpa mencoba mengerti. Tentu saja jauh dari sempurna.

Continue reading “Belajar 1.1 sampai dengan 2.20”

Bertaruh Kurma dalam Mangkuk

Photo by Meruyert Gonullu on Pexels.com

Bila anda kenal dengan teori probabilitas berarti anda juga sudah tahu bahwa seringkali inilah yang digunakan untuk bertaruh, kita tidak akan bicara perjudiannya, tapi probabilitasnya. Kemungkinan-kemungkinan yang digunakan untuk meletakkan pilihan yang kemudian menghasilkan sesuatu (hadiah) bila tebakan kita benar.

Sekarang mari kita lihat dengan cara pandang saya tentang pertaruhan:

  • Anda memiliki 10 kurma dan anda diminta untuk memasukkan pilihan anda ke dalam 10 mangkuk. Bila anda memasukkan 1 saja kurma dengan tepat pada satu mangkuk tersebut dan anda akan memenangkan hadiah – katakan saja anda akan mendapat uang 1 juta rupiah dengan kondisi tersebut. Nah apa yang akan anda lakukan?
    Bila anda benar-benar paham kondisi diatas maka anda akan memasukkan setiap mangkuk 1 kurma, bukan? Nothing to lose. 1 saja masuk, pasti menang kan. 9 diantaranya salah anda sudah dapat uang 1 juta.
  • Anda memiliki 100 kurma dan anda diminta untuk memasukkan pilihan anda ke dalam 10 mangkuk. Bila ada satu saja dalam mangkuk yang benar maka anda akan diganjar 1 juta untuk tiap kurma. Apa yang akan anda lakukan?
    Menurut saya yang paling masuk akal adalah anda membagi 100 kurma anda ke dalam 10 mangkuk tadi sehingga manapun mangkuk yang benar anda akan dapat 10 juta, benar kan?

Yeyy .. anda menang. Sekarang saya tambah persoalannya :

  • Anda punya 100 kurma, 10 diantaranya kualitas yang benar-benar bagus. Sehingga kalo anda masukkan dalam mangkuk tadi dan mangkuknya terpilih oleh Sang Pemberi Hadiah, maka dia akan memberikan hadiah 10 kali lebih banyak untuk satu kurma spesial tadi. Jadi saat ini anda pasti akan membagi 10-10 dan membagi 10 kurma spesial ke dalam tiap mangkuk.
  • Sekarang bayangkan anda belum memiliki kurma, dan anda diminta memasukkan sejumlah 10 kurma ke dalam tiap mangkuk, anda akan beli kurma yang bagaimana? Yang spesial semua?

Mari kita analogikan terhadap yang sedang update saat ini, Lailatul qadr, bila anda sudah tahu dalam 1 malam di 10 hari terakhir bulan ramadhan ada malam lailatul qadr, ganjarannya bukan cuma seremeh 1 juta rupiah. Tapi lifetime, seumur hidup. Apakah yang akan anda lakukan? Pastilah anda akan melakukan “pertaruhan” pada setiap malamnya bukan? letakkan tiap “kurma” pada tiap malam. Benar? Karena boleh jadi .. eh maaf karena pasti dengan kita meletakkan tiap kurma di tiap mangkuk kita akan beroleh kemenangan.

Lailatul Qadr, pada surah (97) Al-Qadr, disebutkan akan diturunkan (dalam bentuk fiil mudhari) sekarang dan seterusnya. Berarti tiap bulan ramadhan, Allah sediakan 10 ‘mangkuk’. Kita tinggal mengisinya dengan masing-masing mangkuk dengan ibadah maka kita pasti akan dapat ganjaran, sesuai dengan janji. Lebih dari 1000 bulan. Kalo anda punya 10 kemampuan dan 10 kesempatan, apakah anda hanya akan bertaruh di mangkuk nomor 23 atau 27 saja? Iya kalo benar, kalo ternyata anda keliru?

Kalo kita punya kesempatan 10 jam dalam 10 hari, kita akan membagi melaksanakan 1 jam sehari. Kalo kita punya waktu 100 jam dalam 10 hari, kita akan membaginya menjadi 10 jam sehari. Boleh jadi kita akan mengutamakan beberapa hari tapi kita terbatasi waktu dan energi kita sendiri. Misalkan kita merencanakan akan menghabiskan 40 jam dalam 10 hari terakhir bulan ramadhan. Tapi kita habiskan 10 jam pertama di hari pertama dan kecapekan sampai hari ketiga. Ini justru tidak konsisten dan tidak optimal juga. Jadi menurut saya, bagi saja secara merata energi untuk melakukan fokus kepada ibadah 10 hari terakhir. Sehingga kita benar benar bisa konsisten mendapatkan perimbangan yang manapun “mangkuk” yang terpilih.

Lailatul Qadr itu adalah pemilihan waktu yang akan diagungkan meliputi seluruh manusia, konon katanya saking rapatnya jarak antara manusia dan malaikat yang semuanya hadir di bumi ini , tidak ada lagi kesempatan untuk tidak terhubung. Jadi menurut saya ini berkaitan dengan konten ibadah yang kita lakukan di malam itu. Ini tentang jenis kurma yang kita letakkan dalam mangkuk. Bukan masalah apakah anda akan diminta memilih atau tidak. Anda sudah pasti akan memilih. Dan pilihan paling bijak saat ini adalah pilih semua mangkuk untuk memasukkan kurma spesial. . Tidak perlu bertimbang yang manapun kemudian yang akan terpilih. Lebar mangkuknya terbatas, dari mulai maghrib sampai dengan mathlail fajr. Jadi itu saja wadahnya. Tidak bisa lebih lebar lagi. Kontennya yang bisa kita perbaiki untuk meningkatkan nilai pertaruhan.

Aplikasi

Saya kemaren mengikuti kuliah UAH, dan didalamnya disampaikan tentang ibadah apa yang sebaiknya dilakukan dalam malam qadr.

  • Shalat (sunnah). Mendirikan shalat dengan keimanan dan ketundukan hati. (HR Bukhari 35; HR Muslim 765)
  • Doa “Allahumma innaka affuwun, tuhibbul afwa, fa fuanni” (HR Tarmidzi 3513; HR Ibnu Majah 3119).

Shalat dan Doa itu saja. Cuma sebiji kurma? Tapi ayo kasih yang spesial. Yang dengan pemahaman, yang dengan pengertian tentang apa itu yang dimaksud dengan iman dan ketundukan (wahtisaban). Agar benar-benar keluarnya menjadi manfaat. Dan syukur-syukur kita bisa memberikan kurma-kurma yang lain yang tidak diminta tapi kita masih punya untuk diletakkan ditiap mangkuknya. Ibadah sunnah lainnya, misalnya.

Bagi saya ketundukan yang diharapkan saat ini adalah kesadaran akan kesalahan. Agar sesuai konteks, dihapuskannya dosa-dosa dan permintaan maaf dalam doa yang dianjurkan. Jadi mestinya ketundukan adalah introspeksi terhadap kesalahan-kesalahan yang dibuat. Jadi penting untuk membuat pengakuan. Bahkan kalo perlu ditulis dan dimintakan maaf pada saat kita selesai menulis tiap kesalahan. Ini akan jadi ibadah terfokus saat merenungi malam qadr.

Lebih jauh kita bisa merencanakan perbaikan juga. Agar ada kondisi “melangkah” untuk mendapatkan Allah “berlari” menghampiri. Sedikit-dikitnya bikin rencana, agar Allah bener-bener yakin ini serius mau memperbaiki kesalahan-kesalahan. Bukan cuma berangan-angan.

Kesalahan yang mana yang bisa kita identifikasi? Bisa jadi kesalahan-kesalahan yang kita perbuat kepada:

  • diri sendiri – apa hal-hal dzalim yang kita lakukan kepada diri yang pengelolaannya dititipkan kepada kita ini? Apa apa yang kita terima, miliki, gunakan (input), apa yang kita perbuat (proses) dan bagaimana kita memaknai hasil (output).
  • orang lain – orang-orang yang mungkin ada di sekitar kita, orang-orang yang terhubung dengan kita, apakah kita sudah baik terhadap mereka, kesalahan apa yang mungkin kita perbaiki bila itu ada. (hablum minannas)
  • Allah, pada akhirnya kita juga bisa melihat apakah ada hablum minnallah yang masih belum benar, dosa besar dan dosa-dosa kecil dari ibadah-ibadah mahdhoh dan sunnah. Apakah pertaubatan yang bisa dilakukan dan bagaimana untuk kembali menjaga “hubungan” baik kepada Allah.

So, sebagai komitmen saya untuk melakukan perbaikan di Ramadhan ini, maka dalam sisa malam yang ada ini saya akan merenung dengan menggabungkannya dengan ibadah shalat dan doa sebagai bentuk pengakuan. Tiap kesalahan yang saya bisa identifikasi telah saya lakukan dalam kehidupan saya yg lalu maupun yang sedang saya jalani, akan saya pertaubati, saya catat, saya perhitungkan (muhasabah) dan saya coba lakukan kebaikan (rencana perbaikan). Sedikitnya saya akan membaca doa “Allahumma affuwun, tuhibbul afwa, fa fuanni” dan shalat dua rakaat untuk tiap poin kesalahan tersebut dan saya gunakan untuk menandai keinginan saya untuk memperbaikinya. Bismillah. InsyaAllah bisa memberikan nuansa beda tahun ini.

@draguscn