Menghitung Perolehan

Photo by Ahmed Aqtai on Pexels.com

Evaluasi Ramadhan 1442H ini masih jauh dari rencana:

Produktivitas Spiritual.

  • Shalat Dhuha masih ketinggalan beberapa kali
  • Tahajud alhamdulillah lengkap
  • Tarawih dan Witir berjamaah lengkap.
  • 10 hari terakhir cuma 8 hari yang iktikaf di Mesjid
  • Khatam Quran pada hari ke 25.
  • Membaca dengan terjemah per tema (kelompok ayat) Baru sampai AlBaqaroh : 20.

Produktivitas Mental-Intelektual.

  • Membaca 1021 dari 3000 halaman buku.
  • Blogging kegiatan harian tiap hari : 12 dari 30.

Produktivitas Emosional.

  • Berkumpul dengan teman-teman di grup WA, masih lebih banyak karena kerjaan
  • Grup Powerpoint Designers sesekali
  • Grup Medsos lebih jarang.
  • Berkumpul dengan anak lebih intens dibanding tahun lalu
  • Mengajak mereka lebih produktif. Mas – Programming, mba – nulis cerita. Adek belum.

Produktivitas Fisik.

  • Tidur kurang bisa mengatur. Ada dua hari yang sampai ketiduran di kantor.
  • Bikin rencana/melakukan penilaian kegiatan harian cuma kurang lebih 50%. Terutama 10 hari terakhir ini sama sekali ngga dilakukan.
  • Makan sahur dan buka dengan sayur dan protein.
  • Olahraga yang saya lakukan : Jalan kaki 1 jam/hari, angkat beban lewat.

Semoga masih diberi kesempatan memperbaiki di Ramadhan 1443H.

@draguscn

Bertaruh Kurma dalam Mangkuk

Photo by Meruyert Gonullu on Pexels.com

Bila anda kenal dengan teori probabilitas berarti anda juga sudah tahu bahwa seringkali inilah yang digunakan untuk bertaruh, kita tidak akan bicara perjudiannya, tapi probabilitasnya. Kemungkinan-kemungkinan yang digunakan untuk meletakkan pilihan yang kemudian menghasilkan sesuatu (hadiah) bila tebakan kita benar.

Sekarang mari kita lihat dengan cara pandang saya tentang pertaruhan:

  • Anda memiliki 10 kurma dan anda diminta untuk memasukkan pilihan anda ke dalam 10 mangkuk. Bila anda memasukkan 1 saja kurma dengan tepat pada satu mangkuk tersebut dan anda akan memenangkan hadiah – katakan saja anda akan mendapat uang 1 juta rupiah dengan kondisi tersebut. Nah apa yang akan anda lakukan?
    Bila anda benar-benar paham kondisi diatas maka anda akan memasukkan setiap mangkuk 1 kurma, bukan? Nothing to lose. 1 saja masuk, pasti menang kan. 9 diantaranya salah anda sudah dapat uang 1 juta.
  • Anda memiliki 100 kurma dan anda diminta untuk memasukkan pilihan anda ke dalam 10 mangkuk. Bila ada satu saja dalam mangkuk yang benar maka anda akan diganjar 1 juta untuk tiap kurma. Apa yang akan anda lakukan?
    Menurut saya yang paling masuk akal adalah anda membagi 100 kurma anda ke dalam 10 mangkuk tadi sehingga manapun mangkuk yang benar anda akan dapat 10 juta, benar kan?

Yeyy .. anda menang. Sekarang saya tambah persoalannya :

  • Anda punya 100 kurma, 10 diantaranya kualitas yang benar-benar bagus. Sehingga kalo anda masukkan dalam mangkuk tadi dan mangkuknya terpilih oleh Sang Pemberi Hadiah, maka dia akan memberikan hadiah 10 kali lebih banyak untuk satu kurma spesial tadi. Jadi saat ini anda pasti akan membagi 10-10 dan membagi 10 kurma spesial ke dalam tiap mangkuk.
  • Sekarang bayangkan anda belum memiliki kurma, dan anda diminta memasukkan sejumlah 10 kurma ke dalam tiap mangkuk, anda akan beli kurma yang bagaimana? Yang spesial semua?

Mari kita analogikan terhadap yang sedang update saat ini, Lailatul qadr, bila anda sudah tahu dalam 1 malam di 10 hari terakhir bulan ramadhan ada malam lailatul qadr, ganjarannya bukan cuma seremeh 1 juta rupiah. Tapi lifetime, seumur hidup. Apakah yang akan anda lakukan? Pastilah anda akan melakukan “pertaruhan” pada setiap malamnya bukan? letakkan tiap “kurma” pada tiap malam. Benar? Karena boleh jadi .. eh maaf karena pasti dengan kita meletakkan tiap kurma di tiap mangkuk kita akan beroleh kemenangan.

Lailatul Qadr, pada surah (97) Al-Qadr, disebutkan akan diturunkan (dalam bentuk fiil mudhari) sekarang dan seterusnya. Berarti tiap bulan ramadhan, Allah sediakan 10 ‘mangkuk’. Kita tinggal mengisinya dengan masing-masing mangkuk dengan ibadah maka kita pasti akan dapat ganjaran, sesuai dengan janji. Lebih dari 1000 bulan. Kalo anda punya 10 kemampuan dan 10 kesempatan, apakah anda hanya akan bertaruh di mangkuk nomor 23 atau 27 saja? Iya kalo benar, kalo ternyata anda keliru?

Kalo kita punya kesempatan 10 jam dalam 10 hari, kita akan membagi melaksanakan 1 jam sehari. Kalo kita punya waktu 100 jam dalam 10 hari, kita akan membaginya menjadi 10 jam sehari. Boleh jadi kita akan mengutamakan beberapa hari tapi kita terbatasi waktu dan energi kita sendiri. Misalkan kita merencanakan akan menghabiskan 40 jam dalam 10 hari terakhir bulan ramadhan. Tapi kita habiskan 10 jam pertama di hari pertama dan kecapekan sampai hari ketiga. Ini justru tidak konsisten dan tidak optimal juga. Jadi menurut saya, bagi saja secara merata energi untuk melakukan fokus kepada ibadah 10 hari terakhir. Sehingga kita benar benar bisa konsisten mendapatkan perimbangan yang manapun “mangkuk” yang terpilih.

Lailatul Qadr itu adalah pemilihan waktu yang akan diagungkan meliputi seluruh manusia, konon katanya saking rapatnya jarak antara manusia dan malaikat yang semuanya hadir di bumi ini , tidak ada lagi kesempatan untuk tidak terhubung. Jadi menurut saya ini berkaitan dengan konten ibadah yang kita lakukan di malam itu. Ini tentang jenis kurma yang kita letakkan dalam mangkuk. Bukan masalah apakah anda akan diminta memilih atau tidak. Anda sudah pasti akan memilih. Dan pilihan paling bijak saat ini adalah pilih semua mangkuk untuk memasukkan kurma spesial. . Tidak perlu bertimbang yang manapun kemudian yang akan terpilih. Lebar mangkuknya terbatas, dari mulai maghrib sampai dengan mathlail fajr. Jadi itu saja wadahnya. Tidak bisa lebih lebar lagi. Kontennya yang bisa kita perbaiki untuk meningkatkan nilai pertaruhan.

Aplikasi

Saya kemaren mengikuti kuliah UAH, dan didalamnya disampaikan tentang ibadah apa yang sebaiknya dilakukan dalam malam qadr.

  • Shalat (sunnah). Mendirikan shalat dengan keimanan dan ketundukan hati. (HR Bukhari 35; HR Muslim 765)
  • Doa “Allahumma innaka affuwun, tuhibbul afwa, fa fuanni” (HR Tarmidzi 3513; HR Ibnu Majah 3119).

Shalat dan Doa itu saja. Cuma sebiji kurma? Tapi ayo kasih yang spesial. Yang dengan pemahaman, yang dengan pengertian tentang apa itu yang dimaksud dengan iman dan ketundukan (wahtisaban). Agar benar-benar keluarnya menjadi manfaat. Dan syukur-syukur kita bisa memberikan kurma-kurma yang lain yang tidak diminta tapi kita masih punya untuk diletakkan ditiap mangkuknya. Ibadah sunnah lainnya, misalnya.

Bagi saya ketundukan yang diharapkan saat ini adalah kesadaran akan kesalahan. Agar sesuai konteks, dihapuskannya dosa-dosa dan permintaan maaf dalam doa yang dianjurkan. Jadi mestinya ketundukan adalah introspeksi terhadap kesalahan-kesalahan yang dibuat. Jadi penting untuk membuat pengakuan. Bahkan kalo perlu ditulis dan dimintakan maaf pada saat kita selesai menulis tiap kesalahan. Ini akan jadi ibadah terfokus saat merenungi malam qadr.

Lebih jauh kita bisa merencanakan perbaikan juga. Agar ada kondisi “melangkah” untuk mendapatkan Allah “berlari” menghampiri. Sedikit-dikitnya bikin rencana, agar Allah bener-bener yakin ini serius mau memperbaiki kesalahan-kesalahan. Bukan cuma berangan-angan.

Kesalahan yang mana yang bisa kita identifikasi? Bisa jadi kesalahan-kesalahan yang kita perbuat kepada:

  • diri sendiri – apa hal-hal dzalim yang kita lakukan kepada diri yang pengelolaannya dititipkan kepada kita ini? Apa apa yang kita terima, miliki, gunakan (input), apa yang kita perbuat (proses) dan bagaimana kita memaknai hasil (output).
  • orang lain – orang-orang yang mungkin ada di sekitar kita, orang-orang yang terhubung dengan kita, apakah kita sudah baik terhadap mereka, kesalahan apa yang mungkin kita perbaiki bila itu ada. (hablum minannas)
  • Allah, pada akhirnya kita juga bisa melihat apakah ada hablum minnallah yang masih belum benar, dosa besar dan dosa-dosa kecil dari ibadah-ibadah mahdhoh dan sunnah. Apakah pertaubatan yang bisa dilakukan dan bagaimana untuk kembali menjaga “hubungan” baik kepada Allah.

So, sebagai komitmen saya untuk melakukan perbaikan di Ramadhan ini, maka dalam sisa malam yang ada ini saya akan merenung dengan menggabungkannya dengan ibadah shalat dan doa sebagai bentuk pengakuan. Tiap kesalahan yang saya bisa identifikasi telah saya lakukan dalam kehidupan saya yg lalu maupun yang sedang saya jalani, akan saya pertaubati, saya catat, saya perhitungkan (muhasabah) dan saya coba lakukan kebaikan (rencana perbaikan). Sedikitnya saya akan membaca doa “Allahumma affuwun, tuhibbul afwa, fa fuanni” dan shalat dua rakaat untuk tiap poin kesalahan tersebut dan saya gunakan untuk menandai keinginan saya untuk memperbaikinya. Bismillah. InsyaAllah bisa memberikan nuansa beda tahun ini.

@draguscn

Belajar Quran di Bulan Ramadhan

Photo by Pok Rie on Pexels.com

Satu-satunya kata ramadhan insyaAllah ada di surah Al-Baqarah (2) – 185, yang dalam terjemah disebutkan : Bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia, bulan diturunkannya Al-Quran.

Seolah-olah disebutkan dalam sentralnya ayat-ayat yang bercerita tentang puasa, bahwa yang disebut sebagai bulan Ramadhan adalah bulan dimana Al-Quran diturunkan. Saya mencoba memikirkan bahwa ini tidak dimaksudkan hanya sebagai cerita tentang sejarah tapi juga bahwa AlQuran sebagai petunjuk itu bisa lebih dipelajari pada bulan Ramadhan.

Diluar itu gimana? Mungkin sama ya .. sering kita dengar, ini adalah bulan latihan. Untuk nanti perilaku-perilaku yang baik-baik bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di luar Ramadhan. Karenanya kalo sekarang kita berlatih selama 30 hari mempelajari AlQuran dan bisa terbawa sampai terus di luar Ramadhan, maka kita bisa menjadikan Quran sebagai pedoman hidup sepanjang tahun secara terus-menerus.

Kita paham betul bahwa sehari-hari kita setidaknya ngurusi makan mulai pagi sampai siang bisa membutuhkan waktu tersendiri. Bukankah sekarang kita punya kelonggaran untuk melakukannya dalam jatah makan siang kita karena kita tidak makan siang. Jadi bila kita bisa menyisihkan sedikit waktu untuk mempelajari Quran mungkin bisa mendapat beberapa ayat agar bisa jadi bekal cara belajarnya sampai dengan setahun hingga bertemu lagi dengan Ramadhan jika masih diizinkan Allah.

Sekarang metode, bagaimana caranya.

Saya adalah seorang yang dididik tidak semenjak kecil dengan pendidikan Agama Islam yang cukup untuk menjadikan saya memahami Quran dengan memahami langsung dari membaca bahasa Arabnya. Bahasa Arab yang saya pahami adalah bahasa arab pasar yang digunakan pas menawar dagangan orang Arab di Mekkah – Madinah, saat haji atau pada kesempatan umrah tahun-tahun lalu. Padahal katanya bahasa Quran beda dengan bahasa Arab. Konon juga disebutkan bahwa bahasa Quran itu berlapis-lapis pengertian yang bisa diambil didalamnya. Maka cara paling mudah menurut saya yang awam ini adalah dengan melihat di Quran Terjemah. Ada beberapa Quran terjemah di rumah yang bisa saya gunakan. Saya juga sempat mengoleksi tafsir Al-Azhar buya Hamka dan tafsir Al-Mishbah pak Quraisy Shihab. Meski belum lengkap.

Jadi saya ingin coba lihat terjemah saja dulu, di rumah kebetulan ada Quran terjemah Adz Zikr dari penerbit Fatwa. Di dalamnya ada Klasifikasi Ayat Tematik. Dengan begini saya akan baca dengan melihat Tema-tema yang disampaikan, idenya sih cover to cover ya. Tapi nanti lihat aja bagaimana sepanjang saya mulai belajar, semoga dimudahkan.

Saya ingin mencoba melihat terjemah saja dulu. Semoga saya sempat juga bikin insight dengan bahan dari tafsir. Setidaknya ini yang bisa saya lakukan untuk belajar Quran di bulan Quran. Pengennya sih mencoba agak dalam, tapi mungkin ini yang bisa saya lakukan dulu. Sebisanya dengan cara ini ada upaya untuk mendekatkan diri dan berharap dari cara ini akan ada pencerahan yang bisa memberikan pengertian. Minimal menjadi rasa ingin tahu yang bisa membawa saya bertanya lebih banyak kepada yang ngerti.

Semoga dengan begini baca Quran yang sering dengan target banyak baca bisa mendapatkan petunjuk menjadi banyak ngerti. Bismillah.

@draguscn

Membangun Habit Baca

Photo by Liza Summer on Pexels.com

Ini cuma pengen merekam nasihat dari coach Teddi, karena saya rasa ini beneran jadi jalan ninja saya, khususon karena saya tukang ngumpulin buku. Bukan tukang baca. Yaikss .. Bagaimana mau menghabiskan sekian banyak buku yang ada saat ini di lemari buku saya supaya beneran jadi model dalam otak saya. Dan saya tertarik dengan cara yang disarankan oleh coach Teddi.

Sebelumnya saya pikir dengan cepat membaca diiringi dengan bagaimana kita memahami maka dengan sendirinya kecepatan akan menambah juga pemahaman karena makin banyaknya info yang masuk dan akan makin mempercepat proses baca karena hal-hal yang sudah kita pahami. Mungkin ini benar dan bisa ikut disandingkan dengan ide yang akan kita bahas ini sebagai praktiknya.

Saran pertama adalah bawa bukunya kemana-mana. Bener juga. Kalo dibawa kemana-mana minimal jadi pada saat kita ada jeda bisa langsung dibaca, meski cuma menambah 1 – 2 paragraf. Bedanya dengan yang saya pikirkan itu, yang ini adalah memanfaatkan waktu sedangkan saya mengalokasikan waktu khusus untuk baca cepet-cepetan .. hehehe.

Kemudian yang kedua adalah prinsip orang ngga diet. Perlakukan mana makanan utama dan mana cemilan. Saya sangat cocok dengan nasihat ini. Maksudnya gini, kalo baca satu buku saya suka bosan setelah menginjak halaman berapa saya mulai melirik buku lain. Nah untuk ini maka cari 1 buku yang akan dijadikan ‘makanan utama’ ini harus bagus progressnya meskipun lambat, separagraf setiap kali tapi maju terus. Ini main course. Sedangkan buku yang akan kita camil adalah yang menarik perhatian kita dan ingin kita sambi baca. Daripada desakannya tidak dipenuhi dan makin bikin frustasi berakhir dengan menumpuknya buku-buku yang akan dibaca, lebih baik baca saja makanan utamanya sambil ngemilnya juga. Belum tentu tidak akan saling berkaitan dan bisa menimbulkan keterkaitan tersendiri. Mungkin itu “jalan kita”.

Yang ketiga adalah bikin catatan. Coach Teddi kayaknya orang yang sangat sayang dengan buku sehingga menceritakan kurang sependapat dengan corat-coret di buku. Saya kadang-kadang disana nyoretnya. Sejak punya tablet memang lebih banyak di Notes. Karena lebih mudah orat-oret tanpa batas. Beberapa ide melakukan coretan sudah saya lakukan. Saya membaca buku dengan melihat judul-judul dulu bolak-balik beberapa kali. Bila ini buku yang sudah teratur biasanya akan mudah menemukan bagian cara berpikir penulisnya. Oh ini pas dia mulai dengan pengenalan, ini dia mulai membahas, ini mulai menyarankan beberapa perubahan, ini closingnya. Pola-pola itu tentu saja bisa terlihat. Dan saya senang bolak balik depan belakang kira-kira 6-10 kali baru mulai bikin catatan tentang buku tersebut. Garis besarnya. Belum mendetil. Kemudian mulai melihat bab-per-bab. Anehnya seringkali terasa mudah membaca bab setelah melihat secara keseluruhan (skimming reading) yang pasti saya haramkan banget untuk buku fiksi. Bagi saya kalo baca buku fiksi harus halaman demi halaman. Bahkan kadang ada yang saya hemat ngga cepat-cepat seperti buku Harry Potter. Saya sepakat. Untuk buku non fiksi, saya akan bikin catatan. Ide yang muncul dari membaca ini biasanya yang saya tuangkan di blog ini. Walaupun acak sekali. Cara saya bikin catatan juga tidak terbatas di Blog saja, selain di Notes di tablet, kadang jadi presentasi powerpoint, kadang jadi Instagram Post. Pokoknya idenya ditangkap dalam bentuk rekaman.

Yang keempat, sarannya adalah mencari buku yang benar-benar berguna untuk tujuan kita. Saya saat ini masih mencari buku yang saya senangi. Cari buku dengan konsep hiburan, meskipun bukunya bertemakan hal-hal yang perbaikan diri dll seperti itu. Tapi bahwa mulai dari mencari tujuan hidup dan kemudian mengisi kemampuan dengan skill yang melengkapi ilmunya dengan cara membaca buku.

Nah itu deh saya terpicu dengan apa yang dibuat oleh coach Teddi memberikan saran, saya punya gaya sendiri tentu saja. Tapi beberapa tepat dengan apa yang saya lakukan karenanya saya taro di blog ini biar jadi pengingat.

@draguscn

Merencanakan Bertemu Rahma

Produktivitas Spiritual.

Saya ingin membiasakan di Ramadhan ini:

  • Meneruskan sunnah yang sudah rutin.
  • Membaca Quran sekali khatam. Membaca dengan terjemah per tema (kelompok ayat).

Produktivitas Mental-Intelektual.

  • Membaca 3000 halaman buku.
  • Blogging kegiatan harian tiap hari (termasuk insight bacaan dan terjemahan)

Produktivitas Emosional.

  • Dengan teman-teman di Komunitas saya yang baru, saya ingin menambah relasi.

Produktivitas Fisik.

  • Saya akan tidur setelah Shalat Tarawih Witir. 20.30 – 03.00
  • Jam 03.00 bangun untuk menemani istri menyiapkan sahur dan bikin rencana/melakukan penilaian kegiatan harian.
  • Makan sahur, seperti biasa dengan sayur dan protein.
  • Olahraga yang saya lakukan : Jalan kaki 1 jam/hari, angkat beban tipis-tipis tiap 2 hari.

@draguscn