Cara Menguasai Skill


Photo by Julia M Cameron on Pexels.com

Saya baca dari buku Coach Aji dan terapkan beberapa kali untuk RSA memang benar dan luar biasa tercengang dengan ternyata dalam usia saya saat ini masih memungkinkan untuk menambah skill, dan rapid (cepat) juga. Jadi teori tentang neuroplastisitas itu benar adanya. Memang bukan cuma itu sih yang meyakinkan saya. Saya juga nonton Curiosity Stream, Redesign My Brain, yang merupakan perjalanan dari Todds Sampson untuk membuktikan apakah otaknya masih bisa dilatih selama 3 bulan menjadi lebih cerdas, kreatif dan bahkan tangguh untuk menghadapi situasi stress, yang dalam episode ke-3 itu dikondisikan dengan harus membebaskan diri dari belitan rantai di dasar kolam renang tanpa alat bantu napas.

Seandainya saya belum mengikuti buku atau pelatihan-pelatihan berbasis NLP dari coach Aji mungkin film diatas mengundang rasa ragu. Tapi mengetahui bahwa itu mungkin dilakukan dari sisi teori dan melihat ada yang bisa membuktikannya sungguh bikin berdecak. Saya jadi ingin meringkas catatan-catatan saya di sini, agar bisa dibolak-balik lagi nanti waktu diperlukan menambah atau memperbaiki keterampilan tertentu.

Motivasi

Untuk membuat kita bisa bertahan melaksanakan perbaikan diri memang harus memahami bahwa kita tidak bisa hanya mengkhayalkan melakukan sesuatu dan kemudian segalanya menjadi mudah. Greget yang terus terbakar akan menyebabkan kita mampu bertahan untuk melaksanakan pada saat kita menyentuh area kebosanan, karena mungkin terlalu monoton, atau cemas dan kekhawatiran karena terlalu berat memberikan porsi latihan.

Dengan memahami bahwa ini adalah yang memang jadi kecenderungan kita sebagai manusia, maka kita akan lebih mudah menggali pertanyaan apakah kita memang sudah punya motivasi untuk melakukan latihan-latihan tersebut. Pertanyaan tentang ada tidaknya motivasi kita untuk melakukan sesuatu bisa seperti ini:

  • Sudahkah kita mengejar tujuan yang bermakna dalam hidup kita? Tujuan yang lebih besar dari diri kita? Yang mungkin berdampak pada lingkungan dan orang-orang di sekitar kita? (Purpose)
  • Sudahkah kita memiliki keinginan untuk menguasai keahlian di bidang tersebut? Apa investasi yang sudah kita berikan? Sampai seberapa jauh kita sudah menantang batas kemampuan kita? (mastery)
  • Sudahkah kita mulai melakukan hal-hal yang benar-benar ingin kita lakukan dan dengan cara kita sendiri? (autonomy)

Bila pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab dan kita punya sebidang atau beberapa bentuk keahlian yang ingin ditingkatkan, kita sudah mulai menemukan WHY dari apa yang ingin kita kerjakan.

Skill Dunia dalam 10.000 jam

Selanjutnya apa yang ingin kita kuasai tersebut dalam rentang yang ekstrim kita bisa melihat keberhasilan orang-orang yang dalam bidang tersebut sudah mendunia. Agar kita bisa melihat dan mengukur sampai sejauh mana kita bisa meningkatkan.

Akhir-akhir ini saya ingin sekali bisa menulis buku baik itu fiksi – seperti beberapa postingan dalam blog ini yang mungkin bisa dikumpulkan menjadi cerita. Atau beberapa pelatihan yang sudah saya ikuti dan ternyata didalamnya ada kesempatan untuk menjadikannya buku. Misalnya yang berkaitan dengan akreditasi puskesmas. Saya jadi ingin sekali membuatnya menjadi catatan perjalanan saya dari tahun 2015 sampai sekarang tentang bagaimana saya bukan hanya belajar tentang akreditasinya – yang bisa jadi cerita tentang perjalanan survey – tapi juga turut mengawal beberapa puskesmas menjadi terakreditasi. Jadilah untuk contoh ini saya ingin bikin tentang bagaimana saya mencoba untuk menjadi ahli dalam menulis. Tentu saja di dua spesialisasi tentang menulis ini, baik fiksi maupun non fiksi saya sudah banyak mendapatkan “gambaran cita-cita” ingin sebesar siapa. Atau bahasa halusnya siapa yang akan saya teladani. Penulis-penulis Indonesia sendiri cukup banyak yang karya-karyanya menurut saya spektakuler.

Nah balik lagi ke bagaimana meningkatkan skill, konon itu bisa dilakukan dengan metode berlatih 10.000 jam. Waw belum apa-apa sudah horor. Mari kita coba hitung ya. Kalo kita bisa menyisihkan waktu 1 jam sehari melakukan latihan yang sudah terencana. Maka kita akan punya waktu 10.000 hari = 27 tahun lebih. Kayaknya secara kewajaran memodel dengan cara itu tentu saja ngga sampai umur sudah keburu harus pindah alam. (hehe). Kita lihat dulu apa yang harus dilakukan ya.

Nah konon 10.000 jam itu bisa dilakukan sebagai berikut :

  1. Pilih beberapa skill yang diminati (max 5 skill). Urutkan berdasarkan yang paling diminati. Perhatikan syarat kepemilikan terhadap sarana yang akan digunakan, karena bisa menghambat kalo kita mau jago piano tapi ngga punya alatnya, misalnya. Tetapkan standar keahlian mau sejago apa kita nantinya. Ini tentu saja menuntut pemahaman apa saja yang bisa dicapai dalam skill tersebut.
  2. Setelahnya kita bisa Lakukan Rapid Skill Acquisition (RSA) – atau penguasaan cepat 3-5 skill tersebut dalam waktu masing-masing 20 jam saja. Satu skill satu waktu. Agar tidak kehilangan fokus. Berarti 100 jam pertama kita gunakan untuk meyakinkan mana dari skill ini yang akan kita kembangkan dengan lebih baik. Bila kita sudah bener-bener ingin melakukan 1 skill saja, tahapan ini tetap harus dilalui. Pilih yang akan dikuasai selama 10 tahun ke depan.
  3. Idealnya setelah masuk ke dalam RSA kita sebaiknya menemukan Mentor, kehadiran mentor memang diperlukan terutama untuk umpan balik segera (feedback). Seorang yang sudah berpengalaman bisa melihat bintik buta kita.
  4. Lakukan latihan tiap hari. Bentuk yang dilatih adalah pengulangan dengan berada pada area flow atau tidak terlalu berat sehingga kita jadi neurotik cemas, atau terlalu mudah sehingga membosankan. Ini perlu direncanakan dengan baik. Ini juga salah satu manfaat mentor. Kita bisa membuat sasaran dan rencana yg tertulis bersama mentor sehingga yang menjadi target capaian lebih jelas.
    • Perhari atlit-atlit dunia berlatih 4 – 5 sesi
    • Dilakukan di waktu yg sama (pagi hari lebih baik)
    • Setiap 1 sesi max 1 jam sehari
    • Dan diantara sesi ada istirahat yang cukup.
  5. Fokus DOING daripada KNOWING

Nah kalo seperti ini maka apa yang akan dikerjakan dalam 10.000 jam jadi lebih masuk akal. Berarti kalo bisa menyisihkan waktu 4-5 jam sehari, maka yang diperlukan sekarang 5-7 tahun sudah bisa menjadi kelas dunia. Secara hitungan begitu. Tapi 4-5 jam sehari itu apa ya mungkin disisihkan. Bisa saja coba betul-betul dilakukan tracking terhadap kebiasaan harian kita berapa banyak waktu yang tidak produktif yang bisa dikonversi menjadi waktu yang digunakan untuk berlatih.

Untuk diri saya sendiri yang ingin mengembangkan skill menulis maka saya juga harus menyisihkan waktu. Anggaplah waktu pagi setelah shalat shubuh bisa kita gunakan 1 jam, kemudian di jam pulang kantor itu ada waktu sekitar 3,5 jam menuju maghrib yang bisa kita ambil lagi barang 1-2 jam. Kemudian malam hari juga bisa sebelum tidur digunakan untuk berlatih menulis 1 jam lagi. Ya kalo mau jadi “atlet dunia” memang mesti lihat kemampuan kita bisa digeber sampe mana dengan waktu yang ada sekarang. Untuk istirahat cukup saya mengandalkan suasana rumah dan Pomodoro teknik yang bisa dilakukan 25 menit fokus – 5 menit istirahat. Saya pengen tahu sampe seberapa optimal dalam 3 waktu itu.

Rapid Skill Acquisition

Satu tahapan yang harus dilalui adalah segera menuntaskannya dalam waktu 20 jam. Apapun skill yang kita harus lakukan ini. Konon katanya dalam 20 jam kita sudah bisa menjadi ahli “ala kadarnya”. Bisa menghibur, bermain untuk kesenangan sendiri dan mungkin untuk beberapa skill itu sudah cukup.

Prinsip dari RSA ini adalah:

  1. Skill yang disukai
  2. Fokus 1 skill 1 waktu
  3. Target Performance Level sudah ditetapkan
  4. Deconstruction/Chunking ke Subskill yang lebih mudah.
  5. Miliki sarana dan alat yang dibutuhkan.
  6. Eliminasi hambatan berlatih, terutama emosional.
  7. Luangkan waktu khusus untuk latihan
  8. Ciptakan feedback (minimal, tracking and reporting)
  9. Gunakan Timer
  10. Fokus pada kwantitas dan kecepatan.

5 langkah melakukan RSA bisa diuraikan sebagai berikut:

  1. Memutuskan apa yang akan dikuasai (deciding), pastikan sesuai dengan WHY-nya, alasan pribadi kita.
  2. Memecah skill ke dalam subskill yang lebih sederhana (deconstructing)
  3. Mempelajari konsep dasar teori secukupnya (Learning) berguna untuk self correcting
  4. Menyingkirkan hambatan fisik, mental dan emosional (Removing), jangan terlalu keras pada diri sendiri, jika masih terasa dipaksakan, ada hambatan. Segera lakukan eliminasi terhadap hambatan tersebut. Masuklah dalam suasana Flow
  5. Melatih elemen sub-skill terpenting setidaknya 20 jam (Practicing), fokus pada lebih sering berlatih dan kecepatan. Minta umpan balik dari orang lain. Kalau tidak ada rekam aktivitas.

20 jam ternyata bisa hanya 1 minggu lho kalo bener-bener rutin dilakukan. Lebih bagus kalo dilakukan sebulan, jadi beneran memberikan istirahat yang cukup kepada otak dan otot. Secara kemungkinan bisa kalo memang kita bener-bener punya motivasi yang kuat.

Sekarang kalo diterapkan dalam skill menulis yang ingin saya kuasai ini maka berarti saat ini saya sudah melampaui point 1. Saya sudah deciding apa yang ingin saya kuasai. Yaitu menulis. Tapi masih sangat besar. Karena menulisnya dari sarana yang dipunyai bisa fiksi dan non fiksi ini belum dipilih mana yang akan dilatih duluan.

Masih dalam tahap kognitif adalah memecah skill, ini perlunya memang mencacah skill besar menjadi skill kecil-kecil yang bisa kita laksanakan dengan lebih mudah. Bagusnya menulis ngga terlalu banyak pecahannya. Atau mungkin karena memang belum sampai juga sayanya ke area dimana dibutuhkan skill lain. Sejauh yang saya pahami, saat ini subskillnya adalah perluasan kosa kata; penggunaan kata yg tepat, padanan dan lawan kata; penggunaan kalimat-kalimat dan paragraf; kemampuan mengekspresikan maksud dalam kata, kalimat dan alinea; kemampuan membuat outline; kemampuan riset dan mencari referensi; kemampuan mengembangkan ide tulisan. Apa lagi ya ..

Untuk fiksi mungkin bisa ditambah dengan kemampuan menciptakan karakter, setting, dialog dan plot. Belum lagi kemampuan editing. Minimal pas disampaikan ke editor ngga terlalu banyak yang harus diperbaiki. Berarti harus bisa self editing.

Menulis juga mungkin dicacah dalam kemampuan menulis adalah jumlah kata yang bisa ditulis dalam satuan waktu tertentu misalnya 1.000 kata perjam. Sebagai gambaran buku-buku dengan format A5 dengan 200-300 halaman itu mengandung kurang lebih 90.000-100.000 kata.

3 tahap dalam penguasaan Skill

  1. Kognitif (tahap ini pemahaman kita tentang apa saja skill makin meningkat sehingga mampu mencacah, memilah dan mengurutkan)
  2. Asosiatif (mulai terbentuknya hubungan antara otak dan otot)
  3. Otonom (Saat sudah terbentuk memori otot, sehingga penguasaan skill tidak perlu dipikirkan)

5 level penguasaan Skill

  1. Novice (pemula) masih kaku dalam mengikuti teknik-teknik yang didapatkan dari pengetahuan. Masih berpikir untuk melakukannya.
  2. Competent (mampu) mulai memahami konteks teknik yang efektif dan bisa dengan sadar menganalisis teknik yang digunakan.
  3. Proficient (cakap) mulai memahami kaidah-kaidah dibalik teknik yang digunakan. Sehingga lebih fleksibel.
  4. Expert (ahli) pada saat Intuisi praktisi mulai terbentuk, mulai memahami pola-pola yg terkait dengan keterampilan yang mereka kuasai.
  5. Master (master) pada saat intuisi sangat tajam sehingga melakukan skill tanpa perlu berpikir. Unconscious competence.

Aplikasi

  • Saya sudah mengumpulkan beberapa buku yang bertemakan menulis, baik menulis fiksi maupun non fiksi. Saya sudah baca sebagian besar. Skimming reading, beberapa saya seriusi, kemudian ada beberapa yang bahkan saya buatkan tracking. Misalnya pada menulis fiksi saya bikin tracking progressnya di Notion. Sedangkan untuk Kosa kata – Kalimat – Paragraf saya gunakan Google Sheet dan WordPress Blogs.
  • Saya juga sudah mengalokasikan waktu
  • Saya sudah mencari mentor. Dua malah.
  • Sudah mencacah, memilah dan mengurutkan.
  • Sekarang tinggal mulai berlatihnya yang harus dimulai. Sesuai rencana, hari ini kamis 20-05-2021 saya akan memulai dari melatih bagian fiksi dulu. (padahal tulisan ini non fiksi dan sudah di hari kamis).

Baiklah. Kita mulai. Bismillah.

@draguscn

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s