Bumi dan Langit

Photo by veeterzy on Pexels.com
(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (22)

Bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap bagi saya diibaratkan sebagai rumah seperti itu bermakna perlindungan. Keamanan. Sangat berbeda dengan ayat-ayat sebelum ini.

Kalau diingat sebelumnya Allah menggambarkan bahwa kekacauan bisa terjadi di bumi, kegelapan dan badai, juga langit membawa kilat yang mematikan. Dan yang demikian itu untuk orang yang munafik.

Sedangkan pada ayat ini Allah menggambarkan “perlindungan,” karena bila kita benar-benar menghamba, maka ia akan menjadikan perlindungan. Bukan hanya itu Allah akan membuat langit menurunkan hujan yang ramah untuk buah-buahan tumbuh sebagai rezeki. Ini sekali lagi jaminan untuk penghambaan yang mutlak. Bukan yang hipokrit atau munafik.

Dan sifat pencemburu Allah meminta untuk tidak menimbulkan “saingan” atau tandingan, padahal kita tahu itu tidak mungkin.

@draguscn