Belajar 1.1 sampai dengan 2.20


Photo by Tayeb MEZAHDIA on Pexels.com

Sebelumnya saya sudah berniat untuk mencoba mempelajari AlQuran dengan cara membaca dulu bagian arti dan mencoba memahami kumpulan ayat-ayat tersebut dengan melihat pada terjemah yang saya punya. Minimal dalam memilih mana yang ingin saya pahami saya bisa membuka sendiri dan membacanya. Saya juga mencoba menambah bahan-bahan bacaan dengan tafsir dari AlMisbah – Quraisy Shihab dan AlAzhar – HAMKA. Saya juga berlangganan Bayyinah TV, mengikuti ustadz Nouman Ali Khan, selain mengakses Youtube beberapa ustadz di Indonesia.  Meskipun belum bisa meguru langsung, semoga ini bisa dihitung sebagai upaya saya untuk mengenali Quran.

Kenapa saya tulis di blog? Karena saya ingin sesuai dengan pemahaman saya bahwa untuk menjadikan ini sebagai ilmu yang ada dalam otak saya, maka saya memilih melalui proses refleksi dengan sharing pemahaman pada media yang bisa diupdate, bila nanti mungkin ada pemahaman yang bisa saya tambahkan atau koreksi, akan saya lakukan revisi. Alasan kedua adalah media yang saya mengerti cara kerjanya adalah blog. Semoga Allah melindungi saya dari berbuat riyya.

Apa yang saya tulis sebagai alinea di bagian bawah ini adalah terjemah yang saya ambil dari Terjemah Kementerian Agama pada situs quran.com. Sedangkan yang berupa bullet points adalah proses saya memahami ayat atau sekelompok ayat. Secara sederhana, karena saya belum punya kesempatan menjadi pembelajar AlQuran yang runut keilmuannya. Tapi juga rasa ingin tahu, terbaca tiap hari, dan ada rasa tidak ingin bila hanya membaca tanpa mencoba mengerti. Tentu saja jauh dari sempurna.

Al-Fatihah

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Pemilik Hari Pembalasan. (1-4)

  • Pada bagian pertama ini, yang bisa saya tangkap adalah Allah memperkenalkan diriNya dengan menekankan nama-namaNya yang berupa Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena adanya pengulangan.
  • Allah juga mengikrarkan secara tersirat bahwa Dia Maha Pemberi (Pengasih) dan itu berlaku untuk seluruh alam. Tapi juga Dia mendeklarasikan Maha Penyayang, yang ini diberikan kepada hambaNya. Ada juga yang menyampaikan bahwa Arrahmaan kasih sayang Allah untuk kehidupan di dunia ini, sedangkan Arrahiim untuk kehidupan di akhirat.
  • Namun demikian Allah juga memberikan peringatan untuk kita tidak terbuai dengan sifat kemurahan Allah, dengan mengingatkan bahwa Dia juga yang memiliki hari pembalasan.

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (5-7)

  • Bagian ini menurut saya Allah ingin kita berikrar bahwa hanya Dia sesembahan dan hanya kepadaNya permintaan tolong dialamatkan.
  • Permintaan tolong tersebut berupa jalan yang lurus. Jalan yang memungkinkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  • Diakhiri dengan klasifikasi orang-orang berdasarkan:
    1. orang yang dapat nikmat,
    2. orang yang dimurkai
    3. orang yang sesat
  • Tentu yang diharapkan adalah jalan orang-orang yang diberi  nikmat. Bila dibaca ke surah berikutnya, AlBaqarah, ditemukan bahwa orang-orang tersebut adalah orang-orang yang bertakwa disertai cirinya dan pernyataan bahwa orang-orang tersebut adalah orang yang mendapatkan petunjuk dan beruntung.

Al-Baqarah

Aliif Lam Miim. Kitab (alQuran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman pada yang gaib, melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. dan mereka beriman pada AlQuran yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (1-5)

  • Adalah pada ayat pertama ini, diawali dengan menggunakan akses terhadap kondisi yang disebut sebagai knowing nothing state. Kondisi dimana kita memahami bahwa kita tidak tahu apa-apa. Saat Allah menggunakan aksara muqotta’ah (ayat mutasyabihat). Kemudian diinstall keyakinan bahwa kitab AlQuran ini tidak ada keraguan di dalamnya.
  • Dan inilah petunjuk — yang kalau mau dihubungkan dengan apa yang diminta pada surah sebelumnya, Alfatihah — yaitu permintaan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Berarti apa yang ada di dalam AlQuran ini adalah jalan yang lurus.
  • Penjelasan 5 ayat ini dalam pemahaman saya merujuk kepada klasifikasi pertama dari golongan yang dijelaskan oleh AlFatihah. Yaitu orang-orang yang diberi nikmat. Mereka adalah orang-orang yang bertakwa. Merekalah yang dapat petunjuk. Cirinya adalah :
    1. beriman pada hal yang gaib
    2. melaksanakan shalat
    3. berinfak
    4. beriman pada kitab suci
    5. yakin pada hari akhirat. – karena Allah adalah pemilik Hari Pembalasan.
  • Dan ditutup dengan ayat ke-5 yang menyatakan bahwa orang yang bertakwa tersebut sekali lagi adalah yang mendapatkan petunjuk dan mereka adalah orang yang beruntung, ini tentu saja masih relate kepada orang yang diberi nikmat.

Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati, pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup. Dan mereka akan mendapat azab yang berat. (6-7)

  • Kalo disejajarkan dengan klasifikasi di AlFatihah maka 2 ayat ini bercerita tentang al-magdhub, orang-orang yang dimurkai. Dan disini disebut sebagai orang-orang yang kafir.
  • Hanya 2 (dua) ayat. Dibanding penjelasan tentang orang beriman ada 5 ayat. Orang Munafik malah berjumlah 13 ayat. Pada pembagian ini dalam pemahaman saya, sama dengan “wis no reken”. Bahkan rasul saja dilarang untuk memperpanjang memberi peringatan kepada mereka. Toh merekalah yang “menutup“. Artinya disini ya memang orang yang menutup dari hidayah-lah yang ngga usah diperingati lagi. Dan akan makin ditutup oleh Allah.
  • Disini juga disampaikan bahwa orang-orang kafir tersebut oleh Allah telah ditutup hati, pendengaran dan penglihatan mereka. Allah murka, dan tidak berpanjang-panjang kalo untuk orang seperti ini.
  • Pertanyaan ke diri sendiri: Apakah hati masih belum terbuka terhadap sesuatu yang diperingatkan oleh AlQuran dan Rasulullah? Bukankah ini akan berimplikasi menjadi bibit-bibit kekufuran?

Penjelasan golongan ke-3

Diantara manusia ada yang berkata “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir” Padahal sesungguhnya mereka itu bukan orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Padahal tanpa disadari mereka menipu diri sendiri. Dalam hati mereka terdapat penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. (8-10)

  • Kelompok ketiga ini diyakini adalah golongan orang-orang munafik. Jadi kalo kita ingat ini termasuk dalam Addhalliin. (Golongan orang-orang yang sesat). Pada golongan kedua, Allah ngga banyak menjabarkan. Di sini malah sampe 13 ayat, tapi sepertinya bukan karena disayang. Kalau kita lihat secara umum, rangkaian ayat 8-20 ini lebih karena memberi peringatan untuk mewaspadai tanda-tanda orang yang seperti ini, mereka adalah penyamar dan tidak terdeteksi berada di tengah umat.
  • Pada bagian pertama (ayat 8-10) ini disebutkan ada orang yang mengaku beriman pada Allah dan Hari Akhir. Tapi Allah tahu sebenarnya itu tidak sama antara keyakinananya dan mulutnya. Justru sebenarnya itu adalah penyakit yang ada dalam dirinya, hipokrit. Dan Allah akan menambahkan penyakit ke dalam hatinya. Penyakit hati yang lain bila ditambahkan bisa sangat banyak, contohnya amarah, iri dan dengki, buruk sangka, cinta dunia, dendam, ghibah, riya dan lainnya. Bukan tidak mungkin itu yang akan ditambahkan ke dalam diri orang yang munafik.
  • Di akhir ayat ke-10 disebutkan karena mereka berdusta. Dusta berarti juga merupakan salah satu ciri dari orang yang munafik. Dilihat dari konteks ayat ini kedustaan tersebut dari perkataan mereka beriman dan Allah mengetahui bahwa dalam hatinya tidak beriman.
  • Introspeksinya adalah: Kita sudah declare bahwa kita meyakini Rukun Iman. Apakah kita betul-betul mengaku dan betul-betul mengimani Allah, Malaikat, Rasul, Kitab Suci, Hari Akhir dan Ketetapan Qadha dan Qadar? Adakah hal yang kita negasi di dalam hati tentang keberadaan dari rukun tersebut. Ini tentunya akan membutuhkan kajian panjang ke dalam diri kita sendiri.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (11-12)

  • Selain yang tersimpan di dalam hati, Allah juga menyatakan bahwa mereka mengingkari berbuat kerusakan dan berdalih melakukan perbaikan. Padahal sebenarnya mereka melakukan kerusakan. Bedanya tadi ada di dalam hati, yang ini berupa tindakan.
  • Mungkin hal yang tidak diakui tersebut bisa disembunyikan, bila melihat bahwa Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya itu adalah perusakan. Atau mungkinkah keyakinan salah yang tidak mau diubah? Sehingga berdalih pada manfaat yang tidak sebanding dengan kerusakan yang terjadi. – tapi mereka tidak menyadari.
  • Insight: Apakah kita melakukan kerusakan atas nama perbaikan, berkeras itu adalah perbaikan? Sudah yakinkah perbaikan-perbaikan yang kita lakukan itu benar-benar tidak menimbulkan kerusakan. Dalam skala mikro, apakah kita cukup yakin yang kita lakukan bukan menimbulkan kerusakan, misalnya hal-hal baik yang dilakukan karena riyya. Dan kemudian kita aku-aku sebagai kebaikan padahal kita tidak amanah pada tubuh dan jiwa yang Allah beri dengan menambahinya dengan penyakit batin.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain yang telah beriman!” Mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu. Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.” Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (13-15)

  • Pemahaman saya tentang 3 ayat diatas sesuai dengan istilah “memperolok-olokkan agama” orang yang plintat-plintut, bila diperingatkan akan iman, dia bilang yang beriman adalah orang kurang akal. Kenapa dia berani bilang seperti itu karena yang memperingati ghaib. Allah, Quran, Rasul. Tapi saat dia bertemu dengan mu’min dia mengaku beriman, dan begitu kembali kepada setan-setannya (diterjemahkan juga sebagai pemimpinnya) dia bilang cuma berolok-olok.
  • Sebenarnya dengan melakukan itu saja kita bila menyaksikan rangkaian ini bisa meyakini bahwa Allah yang memperolokkan mereka dengan membiarkan mereka dalam kesesatan.
  • Adakah kita memperolokkan agama dengan sikap plintat-plintut seperti itu. Memandang rendah pada orang yang melakukan praktik dengan dasar keimanan dan menganggap itu adalah kerjaan orang-orang yang kurang akal? Lihat apakah kita punya sikap seperti itu? Apakah ini merupakan bibit-bibit kemunafikan?

Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk. Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (16-17)

  • Pertukaran berupa perdagangan pada zaman itu adalah hal yang lumrah dilakukan, karenanya istilah membeli kesesatan dengan petunjuk sesuai. Dan perdagangan seperti ini tidak ada untungnya. Kita lihat perdagangkan itu merujuk pada kesesatan yang dibawa oleh setan-setan yang bisa diperkirakan lebih instan rasa kemanfaatannya dibanding dengan janji petunjuk yang kemungkinan adalah janji surga yang bisa didapat setelah kiamat.
  • Maka orang munafik adalah orang-orang yang mudah tergoda dengan manfaat kesesatan yang sesaat dibanding bersabar dengan petunjuk yang memang berupa janji.
  • Pertanyaan yang kita bisa ajukan kepada diri sendiri adalah apakah kita membeli kesesatan (sesaat) dengan petunjuk yang datangnya dari Allah.

Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali. Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (18-20)

  • Bayangkan orang yang memperjualkan petunjuk dengan kesesatan ini ditinggalkan di suatu gurun, seharusnya seorang survivor di gurun akan bisa selamat dengan pertama mendengar dimana ada suara, Allah ambil itu dari dia. Seharusnya ia bisa teriak untuk minta bantuan, tapi tidak, Allah ambil juga itu dari dia. Terakhir seharusnya untuk survive dia bisa kembali dengan mencari jalan, tapi tidak Allah ambil juga itu. Bayangkan posisi itu dimana kita merangkak tanpa arah karena tuli, bisu dan buta – tidak dapat pertolongan. Tentu saja orang seperti ini tidak dapat kembali.
  • Kondisi diatas masih lebih soft dibandingkan dengan ancaman berikutnya yang menggambarkan ketakutan. Dalam badai kilat yang menyambar-nyambar dan membuat kita menutup telinga. Takut mati. Jadi perbandingan azabnya ada dua, ketelantaran karena tidak tahu arah kembali atau ketakutan yang sangat, yang meski bisa berjalan tapi tersaruk-saruk karena takut mati disambar petir.

Ringkasan

Sampai disini, mulai dari Alfatihah dan AlBaqarah sampai 20, telah menggambarkan :

  • Bagaimana permohonan kita untuk petunjuk ke jalan yang benar kepada Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang diwujudkan Allah dengan diturunkannya AlQuran sebagai petunjuk yang tidak ada keraguan di dalamnya.
  • Dan sikap kita terhadap petunjuk Allah bagi menjadi 3 kelas :
    • Orang-orang yang bertakwa (patuh perintah dan menghindari yang dilarang) dan digambarkan dengan ciri-ciri keimanan (Allah, kitab dan hari akhir), melaksanakan shalat dan berinfaq. Mereka adalah orang yang beruntung, karena mendapat nikmat.
    • Orang-orang yang dimurkai (Almaghdub) dan digambarkan secara ringkas adalah orang yang menolak petunjuk tersebut karena menutup dirinya.
    • Orang-orang yang sesat (Addhalliin) dan digambarkan cukup panjang ciri-cirinya sebagai berikut
      • mengaku beriman padahal tidak
      • mengaku berbuat kebaikan padahal kerusakan
      • memperolok agama
      • lebih tertarik dengan kesesatan sesaat dibanding dengan sabar melaksanakan petunjuk
  • Allah menghukumi orang-orang yg maghdub dengan mengunci mati pendengaran, penglihatan dan hati mereka; dan dengan azab yang pedih. Sedangkan untuk orang-orang yang munafik Allah menghukumi dengan keterpisahan/isolated – tidak bisa kembali mendapat petunjuk atau ketakutan.

Wallahua’lam

@draguscn

One thought on “Belajar 1.1 sampai dengan 2.20

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s