Bertaruh Kurma dalam Mangkuk


Photo by Meruyert Gonullu on Pexels.com

Bila anda kenal dengan teori probabilitas berarti anda juga sudah tahu bahwa seringkali inilah yang digunakan untuk bertaruh, kita tidak akan bicara perjudiannya, tapi probabilitasnya. Kemungkinan-kemungkinan yang digunakan untuk meletakkan pilihan yang kemudian menghasilkan sesuatu (hadiah) bila tebakan kita benar.

Sekarang mari kita lihat dengan cara pandang saya tentang pertaruhan:

  • Anda memiliki 10 kurma dan anda diminta untuk memasukkan pilihan anda ke dalam 10 mangkuk. Bila anda memasukkan 1 saja kurma dengan tepat pada satu mangkuk tersebut dan anda akan memenangkan hadiah – katakan saja anda akan mendapat uang 1 juta rupiah dengan kondisi tersebut. Nah apa yang akan anda lakukan?
    Bila anda benar-benar paham kondisi diatas maka anda akan memasukkan setiap mangkuk 1 kurma, bukan? Nothing to lose. 1 saja masuk, pasti menang kan. 9 diantaranya salah anda sudah dapat uang 1 juta.
  • Anda memiliki 100 kurma dan anda diminta untuk memasukkan pilihan anda ke dalam 10 mangkuk. Bila ada satu saja dalam mangkuk yang benar maka anda akan diganjar 1 juta untuk tiap kurma. Apa yang akan anda lakukan?
    Menurut saya yang paling masuk akal adalah anda membagi 100 kurma anda ke dalam 10 mangkuk tadi sehingga manapun mangkuk yang benar anda akan dapat 10 juta, benar kan?

Yeyy .. anda menang. Sekarang saya tambah persoalannya :

  • Anda punya 100 kurma, 10 diantaranya kualitas yang benar-benar bagus. Sehingga kalo anda masukkan dalam mangkuk tadi dan mangkuknya terpilih oleh Sang Pemberi Hadiah, maka dia akan memberikan hadiah 10 kali lebih banyak untuk satu kurma spesial tadi. Jadi saat ini anda pasti akan membagi 10-10 dan membagi 10 kurma spesial ke dalam tiap mangkuk.
  • Sekarang bayangkan anda belum memiliki kurma, dan anda diminta memasukkan sejumlah 10 kurma ke dalam tiap mangkuk, anda akan beli kurma yang bagaimana? Yang spesial semua?

Mari kita analogikan terhadap yang sedang update saat ini, Lailatul qadr, bila anda sudah tahu dalam 1 malam di 10 hari terakhir bulan ramadhan ada malam lailatul qadr, ganjarannya bukan cuma seremeh 1 juta rupiah. Tapi lifetime, seumur hidup. Apakah yang akan anda lakukan? Pastilah anda akan melakukan “pertaruhan” pada setiap malamnya bukan? letakkan tiap “kurma” pada tiap malam. Benar? Karena boleh jadi .. eh maaf karena pasti dengan kita meletakkan tiap kurma di tiap mangkuk kita akan beroleh kemenangan.

Lailatul Qadr, pada surah (97) Al-Qadr, disebutkan akan diturunkan (dalam bentuk fiil mudhari) sekarang dan seterusnya. Berarti tiap bulan ramadhan, Allah sediakan 10 ‘mangkuk’. Kita tinggal mengisinya dengan masing-masing mangkuk dengan ibadah maka kita pasti akan dapat ganjaran, sesuai dengan janji. Lebih dari 1000 bulan. Kalo anda punya 10 kemampuan dan 10 kesempatan, apakah anda hanya akan bertaruh di mangkuk nomor 23 atau 27 saja? Iya kalo benar, kalo ternyata anda keliru?

Kalo kita punya kesempatan 10 jam dalam 10 hari, kita akan membagi melaksanakan 1 jam sehari. Kalo kita punya waktu 100 jam dalam 10 hari, kita akan membaginya menjadi 10 jam sehari. Boleh jadi kita akan mengutamakan beberapa hari tapi kita terbatasi waktu dan energi kita sendiri. Misalkan kita merencanakan akan menghabiskan 40 jam dalam 10 hari terakhir bulan ramadhan. Tapi kita habiskan 10 jam pertama di hari pertama dan kecapekan sampai hari ketiga. Ini justru tidak konsisten dan tidak optimal juga. Jadi menurut saya, bagi saja secara merata energi untuk melakukan fokus kepada ibadah 10 hari terakhir. Sehingga kita benar benar bisa konsisten mendapatkan perimbangan yang manapun “mangkuk” yang terpilih.

Lailatul Qadr itu adalah pemilihan waktu yang akan diagungkan meliputi seluruh manusia, konon katanya saking rapatnya jarak antara manusia dan malaikat yang semuanya hadir di bumi ini , tidak ada lagi kesempatan untuk tidak terhubung. Jadi menurut saya ini berkaitan dengan konten ibadah yang kita lakukan di malam itu. Ini tentang jenis kurma yang kita letakkan dalam mangkuk. Bukan masalah apakah anda akan diminta memilih atau tidak. Anda sudah pasti akan memilih. Dan pilihan paling bijak saat ini adalah pilih semua mangkuk untuk memasukkan kurma spesial. . Tidak perlu bertimbang yang manapun kemudian yang akan terpilih. Lebar mangkuknya terbatas, dari mulai maghrib sampai dengan mathlail fajr. Jadi itu saja wadahnya. Tidak bisa lebih lebar lagi. Kontennya yang bisa kita perbaiki untuk meningkatkan nilai pertaruhan.

Aplikasi

Saya kemaren mengikuti kuliah UAH, dan didalamnya disampaikan tentang ibadah apa yang sebaiknya dilakukan dalam malam qadr.

  • Shalat (sunnah). Mendirikan shalat dengan keimanan dan ketundukan hati. (HR Bukhari 35; HR Muslim 765)
  • Doa “Allahumma innaka affuwun, tuhibbul afwa, fa fuanni” (HR Tarmidzi 3513; HR Ibnu Majah 3119).

Shalat dan Doa itu saja. Cuma sebiji kurma? Tapi ayo kasih yang spesial. Yang dengan pemahaman, yang dengan pengertian tentang apa itu yang dimaksud dengan iman dan ketundukan (wahtisaban). Agar benar-benar keluarnya menjadi manfaat. Dan syukur-syukur kita bisa memberikan kurma-kurma yang lain yang tidak diminta tapi kita masih punya untuk diletakkan ditiap mangkuknya. Ibadah sunnah lainnya, misalnya.

Bagi saya ketundukan yang diharapkan saat ini adalah kesadaran akan kesalahan. Agar sesuai konteks, dihapuskannya dosa-dosa dan permintaan maaf dalam doa yang dianjurkan. Jadi mestinya ketundukan adalah introspeksi terhadap kesalahan-kesalahan yang dibuat. Jadi penting untuk membuat pengakuan. Bahkan kalo perlu ditulis dan dimintakan maaf pada saat kita selesai menulis tiap kesalahan. Ini akan jadi ibadah terfokus saat merenungi malam qadr.

Lebih jauh kita bisa merencanakan perbaikan juga. Agar ada kondisi “melangkah” untuk mendapatkan Allah “berlari” menghampiri. Sedikit-dikitnya bikin rencana, agar Allah bener-bener yakin ini serius mau memperbaiki kesalahan-kesalahan. Bukan cuma berangan-angan.

Kesalahan yang mana yang bisa kita identifikasi? Bisa jadi kesalahan-kesalahan yang kita perbuat kepada:

  • diri sendiri – apa hal-hal dzalim yang kita lakukan kepada diri yang pengelolaannya dititipkan kepada kita ini? Apa apa yang kita terima, miliki, gunakan (input), apa yang kita perbuat (proses) dan bagaimana kita memaknai hasil (output).
  • orang lain – orang-orang yang mungkin ada di sekitar kita, orang-orang yang terhubung dengan kita, apakah kita sudah baik terhadap mereka, kesalahan apa yang mungkin kita perbaiki bila itu ada. (hablum minannas)
  • Allah, pada akhirnya kita juga bisa melihat apakah ada hablum minnallah yang masih belum benar, dosa besar dan dosa-dosa kecil dari ibadah-ibadah mahdhoh dan sunnah. Apakah pertaubatan yang bisa dilakukan dan bagaimana untuk kembali menjaga “hubungan” baik kepada Allah.

So, sebagai komitmen saya untuk melakukan perbaikan di Ramadhan ini, maka dalam sisa malam yang ada ini saya akan merenung dengan menggabungkannya dengan ibadah shalat dan doa sebagai bentuk pengakuan. Tiap kesalahan yang saya bisa identifikasi telah saya lakukan dalam kehidupan saya yg lalu maupun yang sedang saya jalani, akan saya pertaubati, saya catat, saya perhitungkan (muhasabah) dan saya coba lakukan kebaikan (rencana perbaikan). Sedikitnya saya akan membaca doa “Allahumma affuwun, tuhibbul afwa, fa fuanni” dan shalat dua rakaat untuk tiap poin kesalahan tersebut dan saya gunakan untuk menandai keinginan saya untuk memperbaikinya. Bismillah. InsyaAllah bisa memberikan nuansa beda tahun ini.

@draguscn

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s