Cara Menguasai Skill

Photo by Julia M Cameron on Pexels.com

Saya baca dari buku Coach Aji dan terapkan beberapa kali untuk RSA memang benar dan luar biasa tercengang dengan ternyata dalam usia saya saat ini masih memungkinkan untuk menambah skill, dan rapid (cepat) juga. Jadi teori tentang neuroplastisitas itu benar adanya. Memang bukan cuma itu sih yang meyakinkan saya. Saya juga nonton Curiosity Stream, Redesign My Brain, yang merupakan perjalanan dari Todds Sampson untuk membuktikan apakah otaknya masih bisa dilatih selama 3 bulan menjadi lebih cerdas, kreatif dan bahkan tangguh untuk menghadapi situasi stress, yang dalam episode ke-3 itu dikondisikan dengan harus membebaskan diri dari belitan rantai di dasar kolam renang tanpa alat bantu napas.

Seandainya saya belum mengikuti buku atau pelatihan-pelatihan berbasis NLP dari coach Aji mungkin film diatas mengundang rasa ragu. Tapi mengetahui bahwa itu mungkin dilakukan dari sisi teori dan melihat ada yang bisa membuktikannya sungguh bikin berdecak. Saya jadi ingin meringkas catatan-catatan saya di sini, agar bisa dibolak-balik lagi nanti waktu diperlukan menambah atau memperbaiki keterampilan tertentu.

Continue reading “Cara Menguasai Skill”

Tidak Ada Keraguan

Photo by Nathan Cowley on Pexels.com
Dan jika kamu meragukan (Alquran) yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. (23-24)

Allah memberikan tantangan bagi siapa saja yang ragu akan Quran. Cukup jelas disini Allah menantang siapa yang ingin membuktikan bahwa dia mampu bahkan mempersilakan ada yang mampu menolong selain Allah. Dan jika kita tidak dan tidak akan mampu melakukannya. Maka takutlah atau jagalah, kata yang berakar sama dengan takwa, menjaga diri azab Allah yang berupa api neraka. Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Yang disediakan bagi orang-orang kafir.(orang yang menutup diri).

Rasanya terhubung aja antara bahan bakar batu itu sementara Allah menyebutkan itu adalah orang kafir, yang berkepala dan berhati batu.

Tidak Ada Kompetisi

JANGAN
MENJADIKAN
SAINGAN

BAGI ALLAH

QS 2:22

Di ujung ayat 22 yang saya post kemaren, ada peringatan tentang tidak menjadikan Allah sebagai saingan. Dalam hal apapun dan darimanapun. Dari luar diri maupun dari dalam. Tidak hanya saingan dari luar yang cukup jelas, berhala-berhala yang memang wujudnya berhala. Maupun saingan dari dalam. Berhala yang berupa keserakahan, harga diri merasa tinggi di hadapan Allah, merasa ingin diakui dan lainnya. Jangan jadikan hal-hal tersebut kompetitor bagi Allah.

Wa antum ta’lamun

Sedangkan kau sangat mengetahui hal tersebut. Ini sangat berbeda dan kontras terhadap keraguan. Dalam hati sesungguhnya sudah tahu namun belum mau mengakui apa yang diketahui. Itu salah satu bentuk kemunafikan. Jadi masih relate dengan ayat tentang kemunafikan sebelumnya.

Ada dua permasalahan yang terjadi pada iman. Yang pertama adalah emosional dan kognitif yang menghalangi iman. Pada ujung surat ini Allah mempertegas bahwa sesungguhnya dalam pemahaman kognitif kita sudah tahu betul bahwa Allah tidak bisa dipersaingkan dengan segala sesuatu. Yang dipertanyakan bukan emosi tapi kognisi.

Bumi dan Langit

Photo by veeterzy on Pexels.com
(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (22)

Bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap bagi saya diibaratkan sebagai rumah seperti itu bermakna perlindungan. Keamanan. Sangat berbeda dengan ayat-ayat sebelum ini.

Kalau diingat sebelumnya Allah menggambarkan bahwa kekacauan bisa terjadi di bumi, kegelapan dan badai, juga langit membawa kilat yang mematikan. Dan yang demikian itu untuk orang yang munafik.

Sedangkan pada ayat ini Allah menggambarkan “perlindungan,” karena bila kita benar-benar menghamba, maka ia akan menjadikan perlindungan. Bukan hanya itu Allah akan membuat langit menurunkan hujan yang ramah untuk buah-buahan tumbuh sebagai rezeki. Ini sekali lagi jaminan untuk penghambaan yang mutlak. Bukan yang hipokrit atau munafik.

Dan sifat pencemburu Allah meminta untuk tidak menimbulkan “saingan” atau tandingan, padahal kita tahu itu tidak mungkin.

@draguscn

Menyembah sebagai Budak

Photo by Ali Arapou011flu on Pexels.com
Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (21)

Kata u’budu yang bermakna menyembah, beribadah (worship) tapi juga berarti menghamba (to be a slave). Dalam pemahaman saya, beribadah yang diharapkan adalah yang totalitas. Bukan sekedar beribadah hanya melaksanakan tapi esensi sebagai hamba (budak) dalam melaksanakannya. Bukan menyembah seolah-olah Allah hanya status yang diperlukan pada saat-saat tertentu saja. Karena status budak (hamba) tidaklah bebas. Tetap berada dalam kekuasaan.

Hal ini kembali mengingatkan bahwa dalam ayat-ayat sebelum ini, Allah mengancam dengan azab yang sangat pedih untuk orang yang munafik. Yang beribadah tanpa totalitas penghambaan. Yang antara hati, ucapan dan perbuatannya bisa berbeda-beda berdasarkan kepentingan berhadapan dengan siapa. Orang-orang yang diancam tersesat dalam ketulian, kebisuan dan kebutaaan.

Karena itulah beribadah yang diharapkan adalah yang menyadari status hamba. Bila dijadikan perilaku, maka seharusnya dalam perilaku ibadah yang manapun, sebelum masuk ke dalam rukun, kesadaran hamba harus dimunculkan. Belum terbiasa, ya, dilatih untuk dibiasakan. Jadi ibadah jangan terburu-buru. Kecuali mungkin hati sudah benar-benar menghadap dalam segala situasi. Perenungan status sebagai hamba setidaknya sekarang harus mulai saya ingat-ingat untuk selalu dilakukan. Itu insight yang saya dapat dalam ayat ini.