Merencanakan Bertemu Rahma

Produktivitas Spiritual.

Saya ingin membiasakan di Ramadhan ini:

  • Meneruskan sunnah yang sudah rutin.
  • Membaca Quran sekali khatam. Membaca dengan terjemah per tema (kelompok ayat).

Produktivitas Mental-Intelektual.

  • Membaca 3000 halaman buku.
  • Blogging kegiatan harian tiap hari (termasuk insight bacaan dan terjemahan)

Produktivitas Emosional.

  • Dengan teman-teman di Komunitas saya yang baru, saya ingin menambah relasi.

Produktivitas Fisik.

  • Saya akan tidur setelah Shalat Tarawih Witir. 20.30 – 03.00
  • Jam 03.00 bangun untuk menemani istri menyiapkan sahur dan bikin rencana/melakukan penilaian kegiatan harian.
  • Makan sahur, seperti biasa dengan sayur dan protein.
  • Olahraga yang saya lakukan : Jalan kaki 1 jam/hari, angkat beban tipis-tipis tiap 2 hari.

@draguscn

Esok Aja 02 – Tugas Aversif

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

Akar dari penundaan yang akan kita telaah adalah yang berasal dari tugasnya dulu. Tugas yang bersifat seperti kita mendapat hukuman, adalah aversif. Kita menjadi enggan melaksanakannya. Kenapa kita enggan melaksanakan tugas tersebut adalah karena terasa tidak bermakna, membosankan dan membingungkan.

Kita merasa tugas tidak bermakna karena kita sulit menghubungkan dengan tujuan-tujuan yang lebih besar. Sehingga kita kehilangan makna dalam menuntaskan tugas.

Kita merasa tugas terasa membosankan karena yang kita kerjakan hanya pengulangan-pengulangan.

Sedangkan tugas terasa membingungkan adalah karena tugasnya terlalu kompleks (sangat besar, sulit diselesaikan), abstrak (sulit dilihat apa yang mau dikerjakan), hampir sama dengan kompleks tugas bisa jadi sangat membingungkan bila terlalu banyak informasi yang harus dibenahi.

Hal-hal diatas bila kita mendapatkan tugas yang tidak bermakna, membosankan dan membingungkan kita akan melakukan penundaan dengan melakukan hal lain yang kita rasa menjadi lebih nyaman. Sehingga akhirnya terbentuklah lingkaran penundaan :

  1. Merasa tidak sanggup mengerjakan tugas
  2. Melakukan penundaan
  3. Mulai merasa bersalah setelah hilang kesenangan penundaan
  4. Dan timbullah mulai meragukan kemampuan menyelesaikan tugas.

Dan akan terulang dengan kita makin meragukan kemampuan. Bisa jadi pada tahap ini tugas sudah dipermudah tapi kemampuan makin terbatas. Dan ini bila berlanjut akan berakibat depresi.

Maka solusinya adalah :

  1. pahami bahwa penundaan yang kita lakukan adalah sementara.
  2. kemudian sadari bahwa kita manusia biasa dan bisa silap melakukan kesalahan penundaan. Kita bisa jadi mempunyai rasa tidak nyaman karena kita ingin tugas dilakukan dengan sempurna sehingga karena kita takut gagal maka akhirnya kita memilih penundaan. Ini bisa diatasi dengan self talk dengan muhasabah pengakuan ketidaksempurnaan. Ulangi terus sampai kita merasa ringan.
  3. mulai saja dulu pekerjaannya, untuk mengalihkan perhatian kita. Mulai dari bagian tugas tersebut yang paling sederhana. Jangan berpikir untuk menyelesaikan, karena pada tahap ini kita harus masuk dulu ke dalam tugas. Kalo kita sibuk menyiapkan untuk menyelesaikan kita akan masuk lagi ke dalam penundaan. Yakin kan diri bahwa kita memilih untuk menyelesaikannya. Meskipun baru kita mulai.

Esok Aja 01

Photo by Magoi on Pexels.com

Penundaan adalah hal yang sering dilakukan tapi jarang saya pikirkan apa definisi yang tepat. Kadang tercampur dengan rasa malas karena efek yang dihasilkannya tetap saja pekerjaan yang dimaksudkan tidak selesai. Tapi ada hal mendasar yang berbeda antara menunda dan sikap malas.

Saat kita menunda sebenarnya yang terjadi adalah kita memilih untuk mengerjakan hal lain dari pada hal yang ditunda. Dan tentu saja melihat katanya saja maka yang ditunda seharusnya adalah hal penting yang bila tidak dikerjakan akan berakibat penyesalan di kemudian hari. Sedangkan rasa malas adalah doing nothing (pasif).

Risiko yang terjadi akibat penundaan antara lain adalah :

  1. apa yang ingin kita capai jauh dari berhasil. Misalnya kita ingin mendapatkan 90% sebagai angka keberhasilan, hasil akhirnya bisa jadi tidak pernah mencapai angka separonya.
  2. secara emosi kita selalu tidak nyaman (ada perasaan penyesalan dan bisa jadi akan berakibat depresi)
  3. makin jauh akan berakibat pada permasalahan jangka panjang misalnya dalam keuangan, kesehatan dan relasi.

Karena itu penundaan harus diperhatikan dengan lebih serius. Agar bisa dicegah berdampak lebih jauh kita bisa melakukan identifikasi, pengenalan terhadap konsekwensi – baik pada saat ditunda maupun manfaat yang bisa diambil dari tidak menunda satu pekerjaan penting – dan yang paling penting adalah menghindari depresi karena berkelanjutannya sikap menunda dengan mampu memaafkan diri sendiri dan memulai suatu perilaku baru yang lebih baik.

@draguscn

Mengikuti Kelas Milik Esok

Mengikuti kelas baru lagi, entah kuat atau enggak, memang sengaja untuk push to the limit. Ingin tahu seberapa kuat mengikuti semuanya. Toh 1 tema. Dan Kelas Anti Prokrastinasi hanya sebentar, sehingga semoga malah jadi memantapkan kelas-kelas lain yang berjalan paralel.

Hari ini langsung dimulai dengan pemberian materi hari pertama dan langsung mengisi beberapa hal dalam identifikasi area-area hidup yang mengalami penundaan. Lah kok malah terisi semua. Memang ada saja hal penting dalam tiap area tersebut yang rasanya harus kita pertimbangkan sebagai kategori penting dan saat ini bukan cuma tertunda tapi malah ada beberapa yang sudah terlupa. Menyinggungnya lagi jadi menimbulkan rasa bersalah. Tapi ayolah .. ini kan tantangannya. Mari kita urai satu-satu, gajah juga kalo dimakan sesuap-sesuap pasti habis. (saya ngga akan sih makan gajah).

@draguscn