Semiloknas Akreditasi FKTP 2018

Semiloknas Akreditasi FKTP 2018

Dari tanggal 15-16 Februari 2018 diadakan semiloknas, Seminar dan Lokakarya Akreditasi FKTP di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta. Yang hadir ? Sudah pasti para pelaku kesehatan, ta kurang dari Ibu Menteri sendiri hingga kapus. Tentu saja tidak semua. Peserta berkisar 600 menurut saya pada waktu acara dimulai. Cukup memenuhi ruang utama di hotel tersebut hingga sampai ke meja yang paling belakang. Untunglah sound systemnya cukup bagus. Sehingga yang di belakang juga ikutan bisa menikmati.

Acara yang digelar dua hari dimaksudkan untuk memberikan penyegaran kepada surveior maupun peminat Akreditasi FKTP, seperti para pendamping puskesmas dan para pelaku kesehatan lainnya. Tak pelak acara reunian tidak bisa dihindarkan. Satu angkatan yang jarang kumpul karena berjauh2an bisa melepaskan kerinduan disini. Atau yang dijodohkan karena harus berada dalam satu tim saat survei juga ikut ber-hai-hai.

Diluar ballroom disediakan booth Komisi Akreditasi FKTP, disini juga ramai. Ada yang baru pertama kali ketemu mba Indi, mas Ikbal, mba Tanti dll yang selama ini ‘ngurusin’ jadwal bertugasnya surveior-surveior dari seluruh pelosok Indonesia.

Tak kurang juga hadir di bagian depan, surveior-surveior jangkar. Suhu dan subo kita semua. Para konsultan yang bukan hanya membuat instrumen survei, tapi juga yang melatihkan kepada para surveior yang hadir saat ini.

Dibawah ini adalah link untuk materi yang disampaikan :

  1. Pembukaan Seminar dan Lokakarya Nasional Akreditasi FKTP Tahun 2018 oleh Menteri Kesehatan RI
  2. Kebijakan Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)  oleh Dirjen Pelayanan Kesehatan
  3. Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Oleh Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan-Kemenkes RI
  4. Evaluasi Pelaksanaan Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) oleh Ketua Eksekutif Komisi Akreditasi FKTP
  5. Keselamatan pasien dalam implementasi FKTP oleh dr. Adib A, Yahya, MARS
  6. Evaluasi dan Penegakan Kode Etik oleh Komite Etik dan Hukum Komisi Akreditasi FKTP oleh Ketua Tim Etik Komisi Akreditasi FKTP
  7. Pembinaan dan Peningkatan Kompetensi Surveior dan Pendamping serta Pelaksanaan Re-Akreditasi FKTP oleh Ketua Bidang Akreditasi Komisi Akreditasi FKTP
  8. Rangkuman dari Semiloknas 2018

Tentu saja dalam 2 hari ada materi lain yang berupa pendalaman materi di tiap pokja. Namun mengingat bahan yang diberikan lebih mirip pada bahan pelatihan. Sementara yang disampaikan verbal malah yang penting karena banyak berasal dari pengalaman.

Pendapat Saya tentang Semiloknas Akreditasi FKTP 2018

Cukup banyak hal yang bisa dimanfaatkan dalam pertemuan ini. Meskipun saat ini keramaian silaturrahimnya masih mengalahkan manfaat keilmuannya. Saya memahami ini karena baru pertama kalinya Semilok ini bersifat nasional. Mungkin dengan pengalaman dan keharusan tiap surveior harus hadir tiap tahun tentu saja manfaat update dan kesamaan persepsinya bisa makin mendominasi.

Ada harapan yang besar saat saya memilih untuk mengikuti pertemuan ini, meski pemahaman saya tentang kuliah umum dengan ratusan peserta pasti tidak luput dari kendala mudah bergesernya fokus materi. Semoga pada semiloknas-semiloknas akreditasi FKTP berikutnya kita bisa menemukan cara yang lebih baik untuk mengatasi kendala-kendala dalam pertemuan dua hari  ini.

Mari kita tutup cerita ini dengan menggemakan apa yang diminta bu Tari saat mengakhiri materi kode etiknya. Sebuah slogan yang ditujukan untuk introspeksi agar kode etik surveior terus dijaga. Minimal dalam pertemuan semiloknas pertama ini bila kita belum cukup banyak bisa menstandarkan cara pandang 776 EP, setidaknya kode etik bisa terjaga dan standar.

JAGA DIRI !
JAGA TEMAN !
JAGA INSTITUSI !

Agus Ciptosantoso

Ada instrumen akreditasi baru ?

Ada instrumen akreditasi baru ?

Instrumen Akreditasi Puskesmas sebenarnya didasarkan dari standar yang ada di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI no 46 tahun 2015. Setiap elemen penilaian (EP) yang ada dalam PMK 46 sama persis dengan yang ada dalam Instrumen yang jumlah EPnya 776. Baik dari tahun 2015, 2016 (ditambah dengan beberapa kolom termasuk proses) dan akhir 2017 kemaren yang bentuknya ditambah dengan RDOWS.

Apa itu Instrumen Akreditasi dengan RDOWS ?

RDOWS itu adalah metode dalam menggali berjalannya sistem di puskesmas berdasarkan :

R – Regulasi
D – Dokumen
O – Observasi
W – Wawancara
S – Simulasi

Jadi apa itu RDOWS. Pada saat kita membaca suatu syarat (EP) dalam Standar Akreditasi Puskesmas. Maka yang perlu diperiksa adalah : apakah tersedia regulasi bagi sistem yang diperiksa ini (R), apakah ada dokumen bukti pelaksanaan (D), apakah terbukti dilaksanakan yang bisa terlihat dari hasil-hasil tertentu (O), kejelasan bisa ditemukan pada jawaban yang diberikan dari yang diperiksa (W) dan bagaimana yang diperiksa bisa memperagakan yang diminta (S).

Untuk mempermudah surveior atau pendamping pada saat melakukan penilaian terhadap puskesmas, maka setiap EP dicari berdasarkan RDOWSnya. Dengan demikian diharapkan penilaian surveior atau pendamping jadi lebih menyeluruh. Memang tidak semua EP ada unsur RDOWS. Ada yang cuma R-nya saja atau  D saja. Ada yang beberapa.

Pada saat Semiloknas 2018 ini ternyata ada materi yang dibagikan dalam flashdisk dan salah satunya adalah Instrumen Akreditasi Puskesmas dengan bentuk yang sudah diintegrasikan dengan RDOWS.

Jadi ada instrumen baru ?

Jawabnya NGGA ADA. Kalau yang anda maksud adalah pengganti dari PMK 46/2015 berupa susunan EP-EP baru yang tersusun berbeda dengan yg saat ini ada. Itu kita namakan standar. Sejauh ini belum berubah. Meskipun wacananya ada untuk melaksanakan perubahan. Instrumen yang menggunakan RDOWS memang alat bantu baru. Tapi elemen penilaiannya tetap sama 776 dengan kalimat yang masih sama. RDOWS bukan standar baru. Hanya cara baru melihat bagaimana mencari 776 EP. Cara pandang baru. Di dalamnya sama dengan yang dulu juga. Ada beberapa tambahan tapi tidak ada perubahan total kalau itu yang anda cari.

Tapi dari cara pandang baru ini temen-temen pendamping, temen-temen puskesmas, bisa mulai mengira bahwa nanti yang dicari pasti regulasinya, bisa dibuktikan dengan dokumennya, bila ada hasil yang perlu diobservasi harus disiapkan – barangkali mau ditengok, dan harus bisa menjawab pada saat wawancara, untuk beberapa yang perlu disimulasikan, harus siap bila nanti diminta untuk memperagakan. Sekali lagi jangan terpancing hanya membuktikan yang ada di dalam dokumen (atau regulasi) seperti kesalahan yang sering terjadi. Buktikan bahwa sistem tersebut sudah berjalan dengan baik di puskesmas.

Minimal itu. OK, inilah Instrumen baru ituh …
MS-Excel-Logo
Agus Ciptosantoso