Membaca Sukses 2

Mulai di bagian kedua, kayaknya temanya disini adalah bahwa sukses itu berasal dari kehidupan yang terencana.

Rencana tersebut diibaratkan sebagai GPS yang akan mengarahkan kita meski tidak persis dengan tujuan tapi mengarah. Ada cerita yang menarik tentang bagaimana sebuah menara di perkotaan yang pastinya akan dibangun dengan terencana, dirawat dengan profesional dan manakala kita bandingkan dengan hidup kita, ya kita akan dengan enggan bilang bahwa kita mau menukar hidup kita dengan sebuah menara berapapun harganya. Tapi apakah kita sudah melakukan perencanaan yang baik untuk hidup kita? Apakah kita sudah merawat hidup kita dengan menepati rencana2 tersebut?

Maka selayaknya kita harus memikirkan bagaimana kita merencanakan hidup. Karena hidup kita ini meski sebentar adalah hal yang berharga untuk dijalani. Maka dalam lanjutannya coach Aji menggambarkan bagaimana dasar pemikiran kita melakukan perencanaan. Sebenarnya kurang lebih sama ya dengan model change yang seringkali dibahas.

  • Kondisi sekarang (present state)
  • Kondisi yang diharapkan (desired state)
  • Bagaimana mencapainya.

Life plan sebagai hasil akhir dari bagaimana kita akan menyusunnya tentu saja bukan dokumen yang kaku. Tapi sesuatu yang rutin kita perbaiki, dipertajam langkah-langkahnya. Sehingga kita bisa mulai dengan satu bentuk tapi terus mengalami perbaikan.

Pertanyaan yang mendasari dalam menyusun rencana hidup adalah dengan asumsi kita memulai dari akhir untuk mendapatkan tujuan (titik B).

  1. Anda ingin bagaimana di akhir kehidupan anda?
  2. Apa yang penting bagi anda dan
  3. Bagaimana anda ingin mendapatkannya?

@draguscn

Membaca Sukses

Photo by Jill Wellington on Pexels.com dalam Rekam Baca Life By Design

Di bagian mendefinisikan sukses ini Coach Aji memulai dengan pengantar yang ditajuk menaiki tangga kesuksesan, kemudian dilanjut dengan kehidupan sukses yg terencana dan pengantar tentang menyusun rencana hidup anda. Sekilas ini baru pengantar. Yuk masuk ke dalam .. (oya saya ngetik ini sambil bolak-balik bukunya ya)

Di bagian pertama ada ilustrasi orang yang sedang menaiki tangga sudah hampir sampai diujungnya tapi orang yang dibawah bilang dia memanjat di dinding yang salah. Serasa inget ada buku dengan tajuk “Barking Up The Wrong Tree”. Kemudian ada pertanyaan apa itu sukses dan penjelasan tentang definisi yang sering diartikan sebagai sukses :

  • Ketenaran & Kekayaan
  • Tercapainya Tujuan
  • Hidup Bahagia
  • Menjalani Kehidupan yang anda inginkan
  • Menemukan pekerjaan yang bermakna

Ada box yang menjelaskan tentang 3 macam kebahagiaan dari Richard Shell. Yaitu momentary happiness, overall happiness, dan deep happiness.

Kemudian coach Aji juga menuliskan tentang bagaimana prinsip mengenali kesuksesan dengan cara kita sendiri. Yaitu yg pertama sesuai standar kita sendiri, tapi tentu saja harus kita susun standarnya dengan mengenali nilai-nilai yang kita yakini, bisa jadi berasal dari keluarga, masyarakat tempat kita tinggal dan lingkungan yang mempengaruhi kita lainnya. Yang kedua: adanya kepuasan batin dan pencapaian yg tampak luar. Salah satu tidak optimal akan membawa ketimpangan. Dan yang ketiga, multi dimensi jadi tidak bisa hanya kita sebutkan bahwa kita sukses karena pekerjaan. Tapi juga sisi-sisi lain. Terakhir, ini bukan perhentian yang jadi tujuan. Tapi perjalanan. Sukses adalah saat menempuh perjalanan yang tepat itu. The journey not the destination. Kok jadi inget AADC 2. ūüėõ

Dicontohkan juga bagaimana definisi sukses John C. Maxwell yang diadopsi sebagai definisi sukses coach Aji. Memahami tujuan hidup, bertumbuh menuju potensi maksimal dan menebar manfaat bagi sesama. Kemudian dijelaskan apa saja arti dari masing-masing definisi itu.

(Bagian keduanya lanjutan aja yah)

@draguscn

Semiloknas Akreditasi FKTP 2018

Dari tanggal 15-16 Februari 2018 diadakan semiloknas, Seminar dan Lokakarya Akreditasi FKTP di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta. Yang hadir ? Sudah pasti para pelaku kesehatan, ta kurang dari Ibu Menteri sendiri hingga kapus. Tentu saja tidak semua. Peserta berkisar 600 menurut saya pada waktu acara dimulai. Cukup memenuhi ruang utama di hotel tersebut hingga sampai ke meja yang paling belakang. Untunglah sound systemnya cukup bagus. Sehingga yang di belakang juga ikutan bisa menikmati.

Acara yang digelar dua hari dimaksudkan untuk memberikan penyegaran kepada surveior maupun peminat Akreditasi FKTP, seperti para pendamping puskesmas dan para pelaku kesehatan lainnya. Tak pelak acara reunian tidak bisa dihindarkan. Satu angkatan yang jarang kumpul karena berjauh2an bisa melepaskan kerinduan disini. Atau yang dijodohkan karena harus berada dalam satu tim saat survei juga ikut ber-hai-hai.

Diluar ballroom disediakan booth Komisi Akreditasi FKTP, disini juga ramai. Ada yang baru pertama kali ketemu mba Indi, mas Ikbal, mba Tanti dll yang selama ini ‘ngurusin’ jadwal bertugasnya surveior-surveior dari seluruh pelosok Indonesia.

Tak kurang juga hadir di bagian depan, surveior-surveior jangkar. Suhu dan subo kita semua. Para konsultan yang bukan hanya membuat instrumen survei, tapi juga yang melatihkan kepada para surveior yang hadir saat ini.

Dibawah ini adalah link untuk materi yang disampaikan :

  1. Pembukaan Seminar dan Lokakarya Nasional Akreditasi FKTP Tahun 2018 oleh Menteri Kesehatan RI
  2. Kebijakan Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)  oleh Dirjen Pelayanan Kesehatan
  3. Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Oleh Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan-Kemenkes RI
  4. Evaluasi Pelaksanaan Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) oleh Ketua Eksekutif Komisi Akreditasi FKTP
  5. Keselamatan pasien dalam implementasi FKTP oleh dr. Adib A, Yahya, MARS
  6. Evaluasi dan Penegakan Kode Etik oleh Komite Etik dan Hukum Komisi Akreditasi FKTP oleh Ketua Tim Etik Komisi Akreditasi FKTP
  7. Pembinaan dan Peningkatan Kompetensi Surveior dan Pendamping serta Pelaksanaan Re-Akreditasi FKTP oleh Ketua Bidang Akreditasi Komisi Akreditasi FKTP
  8. Rangkuman dari Semiloknas 2018

Tentu saja dalam 2 hari ada materi lain yang berupa pendalaman materi di tiap pokja. Namun mengingat bahan yang diberikan lebih mirip pada bahan pelatihan. Sementara yang disampaikan verbal malah yang penting karena banyak berasal dari pengalaman.

Pendapat Saya tentang Semiloknas Akreditasi FKTP 2018

Cukup banyak hal yang bisa dimanfaatkan dalam pertemuan ini. Meskipun saat ini keramaian silaturrahimnya masih mengalahkan manfaat keilmuannya. Saya memahami ini karena baru pertama kalinya Semilok ini bersifat nasional. Mungkin dengan pengalaman dan keharusan tiap surveior harus hadir tiap tahun tentu saja manfaat update dan kesamaan persepsinya bisa makin mendominasi.

Ada harapan yang besar saat saya memilih untuk mengikuti pertemuan ini, meski pemahaman saya tentang kuliah umum dengan ratusan peserta pasti tidak luput dari kendala mudah bergesernya fokus materi. Semoga pada semiloknas-semiloknas akreditasi FKTP berikutnya kita bisa menemukan cara yang lebih baik untuk mengatasi kendala-kendala dalam pertemuan dua hari  ini.

Mari kita tutup cerita ini dengan menggemakan apa yang diminta bu Tari saat mengakhiri materi kode etiknya. Sebuah slogan yang ditujukan untuk introspeksi agar kode etik surveior terus dijaga. Minimal dalam pertemuan semiloknas pertama ini bila kita belum cukup banyak bisa menstandarkan cara pandang 776 EP, setidaknya kode etik bisa terjaga dan standar.

JAGA DIRI !
JAGA TEMAN !
JAGA INSTITUSI !

Agus Ciptosantoso

Semiloknas 2018

Dari tanggal 15-16 Februari 2018 diadakan semiloknas, Seminar dan Lokakarya Akreditasi FKTP di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta. Yang hadir ? Sudah pasti para pelaku kesehatan, ta kurang dari Ibu Menteri sendiri hingga kapus. Tentu saja tidak semua. Peserta berkisar 600 menurut saya pada waktu acara dimulai. Cukup memenuhi ruang utama di hotel tersebut hingga sampai ke meja yang paling belakang. Untunglah sound systemnya cukup bagus. Sehingga yang di belakang juga ikutan bisa menikmati.

Acara yang digelar dua hari dimaksudkan untuk memberikan penyegaran kepada surveior maupun peminat Akreditasi FKTP, seperti para pendamping puskesmas dan para pelaku kesehatan lainnya. Tak pelak acara reunian tidak bisa dihindarkan. Satu angkatan yang jarang kumpul karena berjauh2an bisa melepaskan kerinduan disini. Atau yang dijodohkan karena harus berada dalam satu tim saat survei juga ikut ber-hai-hai.

Diluar ballroom disediakan booth Komisi Akreditasi, disini juga ramai. Ada yang baru pertama kali ketemu mba Indi, mas Ikbal, mba Tanti dll yang selama ini ‘ngurusin’ jadwal bertugasnya surveior-surveior dari seluruh pelosok Indonesia.

Tak kurang juga hadir di bagian depan, surveior-surveior jangkar. Suhu dan subo kita semua. Para konsultan yang bukan hanya membuat instrumen survei, tapi juga yang melatihkan kepada para surveior yang hadir saat ini.

Dibawah ini adalah link untuk materi yang disampaikan :

  1. Pembukaan Seminar dan Lokakarya Nasional Akreditasi FKTP Tahun 2018 oleh Menteri Kesehatan RI
  2. Kebijakan Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)  oleh Dirjen Pelayanan Kesehatan
  3. Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Oleh Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan-Kemenkes RI
  4. Evaluasi Pelaksanaan Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) oleh Ketua Eksekutif Komisi Akreditasi FKTP
  5. Keselamatan pasien dalam implementasi FKTP oleh dr. Adib A, Yahya, MARS
  6. Evaluasi dan Penegakan Kode Etik oleh Komite Etik dan Hukum Komisi Akreditasi FKTP oleh Ketua Tim Etik Komisi Akreditasi FKTP
  7. Pembinaan dan Peningkatan Kompetensi Surveior dan Pendamping serta Pelaksanaan Re-Akreditasi FKTP oleh Ketua Bidang Akreditasi Komisi Akreditasi FKTP
  8. Rangkuman dari Semiloknas 2018

Tentu saja dalam 2 hari ada materi lain yang berupa pendalaman materi di tiap pokja. Namun mengingat bahan yang diberikan lebih mirip pada bahan pelatihan. Sementara yang disampaikan verbal malah yang penting karena banyak berasal dari pengalaman.

Pendapat Saya

Cukup banyak hal yang bisa dimanfaatkan dalam pertemuan ini. Meskipun saat ini keramaian silaturrahimnya masih mengalahkan manfaat keilmuannya. Saya memahami ini karena baru pertama kalinya Semilok ini bersifat nasional. Mungkin dengan pengalaman dan keharusan tiap surveior harus hadir tiap tahun tentu saja manfaat update dan kesamaan persepsinya bisa makin mendominasi.

Ada harapan yang besar saat saya memilih untuk mengikuti pertemuan ini, meski pemahaman saya tentang kuliah umum dengan ratusan peserta pasti tidak luput dari kendala mudah bergesernya fokus materi. Semoga pada semiloknas-semiloknas berikutnya kita bisa menemukan cara yang lebih baik untuk mengatasi kendala-kendala dalam pertemuan dua hari  ini.

Mari kita tutup cerita ini dengan menggemakan apa yang diminta bu Tari saat mengakhiri materi kode etiknya. Sebuah slogan yang ditujukan untuk introspeksi agar kode etik surveior terus dijaga. Minimal dalam pertemuan semiloknas pertama ini bila kita belum cukup banyak bisa menstandarkan cara pandang 776 EP, setidaknya kode etik bisa terjaga dan standar.

JAGA DIRI !
JAGA TEMAN !
JAGA INSTITUSI !

 

Agus Ciptosantoso

Ada instrumen akreditasi baru ?

Instrumen Akreditasi Puskesmas sebenarnya didasarkan dari standar yang ada di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI no 46 tahun 2015. Setiap elemen penilaian (EP) yang ada dalam PMK 46 sama persis dengan yang ada dalam Instrumen yang jumlah EPnya 776. Baik dari tahun 2015, 2016 (ditambah dengan beberapa kolom termasuk proses) dan akhir 2017 kemaren yang bentuknya ditambah dengan RDOWS.

Apa itu Instrumen Akreditasi dengan RDOWS ?

RDOWS itu adalah metode dalam menggali berjalannya sistem di puskesmas berdasarkan :

R – Regulasi
D – Dokumen
O – Observasi
W – Wawancara
S – Simulasi

Jadi apa itu RDOWS. Pada saat kita membaca suatu syarat (EP) dalam Standar Akreditasi Puskesmas. Maka yang perlu diperiksa adalah : apakah tersedia regulasi bagi sistem yang diperiksa ini (R), apakah ada dokumen bukti pelaksanaan (D), apakah terbukti dilaksanakan yang bisa terlihat dari hasil-hasil tertentu (O), kejelasan bisa ditemukan pada jawaban yang diberikan dari yang diperiksa (W) dan bagaimana yang diperiksa bisa memperagakan yang diminta (S).

Untuk mempermudah surveior atau pendamping pada saat melakukan penilaian terhadap puskesmas, maka setiap EP dicari berdasarkan RDOWSnya. Dengan demikian diharapkan penilaian surveior atau pendamping jadi lebih menyeluruh. Memang tidak semua EP ada unsur RDOWS. Ada yang cuma R-nya saja atau  D saja. Ada yang beberapa.

Pada saat Semiloknas 2018 ini ternyata ada materi yang dibagikan dalam flashdisk dan salah satunya adalah Instrumen Akreditasi Puskesmas dengan bentuk yang sudah diintegrasikan dengan RDOWS.

Jadi ada instrumen baru ?

Jawabnya NGGA ADA. Kalau yang anda maksud adalah pengganti dari PMK 46/2015 berupa susunan EP-EP baru yang tersusun berbeda dengan yg saat ini ada. Itu kita namakan standar. Sejauh ini belum berubah. Meskipun wacananya ada untuk melaksanakan perubahan. Instrumen yang menggunakan RDOWS memang alat bantu baru. Tapi elemen penilaiannya tetap sama 776 dengan kalimat yang masih sama. RDOWS bukan standar baru. Hanya cara baru melihat bagaimana mencari 776 EP. Cara pandang baru. Di dalamnya sama dengan yang dulu juga. Ada beberapa tambahan tapi tidak ada perubahan total kalau itu yang anda cari.

Tapi dari cara pandang baru ini temen-temen pendamping, temen-temen puskesmas, bisa mulai mengira bahwa nanti yang dicari pasti regulasinya, bisa dibuktikan dengan dokumennya, bila ada hasil yang perlu diobservasi harus disiapkan Рbarangkali mau ditengok, dan harus bisa menjawab pada saat wawancara, untuk beberapa yang perlu disimulasikan, harus siap bila nanti diminta untuk memperagakan. Sekali lagi jangan terpancing hanya membuktikan yang ada di dalam dokumen (atau regulasi) seperti kesalahan yang sering terjadi. Buktikan bahwa sistem tersebut sudah berjalan dengan baik di puskesmas.

Minimal itu. OK, inilah Instrumen baru ituh …
MS-Excel-Logo
Agus Ciptosantoso