Berbincang tentang Ikhlas

No comments

 

“Ini tentang rasa, perasaan dan merasakan ..”

Di satu hari agak mendung yang sangat mengurangi minat menatap angka-angka ..

Entah bagaimana mulanya pembicaraan sampai juga pada perbincangan tentang ikhlas. Mungkin karena beberapa peristiwa yang sangat diharapkan konsep muluk bernama IKHLAS itu harus dimiliki oleh sesama.

ikhlas iku nerimo ing pandum.

Saya setuju ikhlas itu nrimo ing pandum, artinya menerima pemberian Yang Maha Kuasa. Tapi saya juga merasa Ikhlas itu harus makaryo ing nyoto .. bagi saya konsep ikhlas itu proaktif, bukan hanya menanti. Bahkan bila pemberian itu juga berupa rasa.

ikhlas itu ngerjakan sesuatu tanpa mengharap pamrih.

Ikhlas itu mengerjakan sesuatu. Titik. Nanti kita akan sampai kenapa saya tidak mengimbuhi dengan pamrih atau tanpa pamrih.

ikhlas itu menerima sesuatu tanpa ada rasa sakit hati dan mengeluh walau dalam keadaan kita nggak nyaman.

Benarkah begitu? Lantas orang ikhlas tidak punya kemampuan sakit hati? Mati rasa? Saya rasa bukan. Karena kalau begitu bagaimana bisa dinilai ikhlas atau tidak. Orang yang ikhlas harusnya juga merasakan getirnya rasa sakit hati, merasakan tidak nyaman dan rasa-rasa negatif lainnya. Ujian bagi pawang ular ya .. dipatuk ular. Nah orang yang ikhlas, atau setidaknya belajar menjadi ikhlas semestinya diuji dengan rasa-rasa seperti ini.

Rasa adalah berkah, pemberian dari Allah. Rasa apa saja. Kita tidak bisa mengontrol untuk tidak punya rasa tertentu. Kita hanya bisa menerima rasa, laku adalah upaya kita untuk mendapatkan rasa. Tapi apakah laku akan menyebabkan timbulnya rasa hanya Allah yang tahu kapan diberikan atau tidak.

Jadi orang yang ikhlas harusnya juga merasakan rasa sakit hati ketidaknyamanan, menyadari bahwa segenap rasa – bahkan sakit hati dan tidak nyaman – adalah pemberian dari Allah. Sampai disini kita sudah menerima rasa. Lalu diapakan? Inilah dulu kenapa setelah pulang dari Perang Badar yang nyaris bisa dibilang kalah, Rasulullah malah berkata kembali kepada Perang Yang Lebih Besar, Perang yang Paling Besar. Perang terhadap diri sendiri (nafs = diri).

Jika kita bisa memenangkan peperangan besar tersebut niscaya kita bisa jadi manusia yang lebih berguna. Apa kita tidak boleh mengeluh? Wah kalau begitu kenapa kita diajarkan untuk bermuhasabah dan menyampaikan perhitungan kita kepada Allah? Ya berkeluh boleh. Tapi kita harus bisa menyampaikan kepada hanya Yang Paling Mungkin Punya Penyelesaian Terbaik.

ikhlas iku gampang ngomonge tapi sulit nglakoni.

Kata siapa? Lha wong ikhlas itu berlaku setiap hari pada diri kita. Kita yang bikin ruwet dengan mempermasalahkan rasa dengan pikiran. Pikiran punya terlalu banyak pertimbangan sehingga tidak paham dengan bahasa rasa. ikhlas itu rasa. Tiap hari malah keseringan dilakoni daripada diomongkan.

Keseringan yang kita lakukan adalah mencari ikhlas ketika kita sedang dilanda masalah. Ikhlas tidak dirasa-rasa asem manis asinnya pada saat kita sedang gampang mendapatkan. Kalau kita sudah kenal, kita akan sadar. Kalau kita sudah menyadari  (ingat, dzikr) merasakannya, itulah saatnya hati menjadi singgasana bagi Yang Maha Membolak-balik Hati.

ikhlas iku melakukan sesuatu dg senang hati tanpa mengharap imbalan.

ikhlas itu melakukan sesuatu dengan senang. Sudah itu saja. Apa saya membenarkan mengharap pamrih? Iya saya membenarkan bahwa harap terhadap pamrih adalah rasa. Bila setelah melakukan sesuatu timbul harapan untuk mendapat pamrih. Sadarilah : Harap terhadap pamrih adalah rasa yang lagi-lagi merupakan anugrah ilahi.

Jadi harap terhadap pamrih boleh jadi ada, bisa saja tidak ada, bersyukurlah bila kita saat memberikan kemudahan dan kita tidak merasakan tuntutan untuk mendapat apa-apa dari orang tersebut. Kita malah merasa senang dengan yang kita berikan.
Tapi lain kali saat kita mulai merasa “aah harusnya dia bisa begini atau setidaknya begitu” apakah itu menandakan kita tidak ikhlas? Oh saya yakin jawaban saya akan berbunyi TIDAK. Bukan karena kita membiasakan memberi kemudian meminta orang melakukan sesuatu. Akan tetapi pada saat terjadinya pertanyaan dalam diri, itu adalah rasa was-was (bisik-bisik, tuwaswisu), keraguan yang diberikan Allah ke dalam diri kita. Seharusnya tindak lanjut dari merasa pamrih itulah yang perlu kita benahi. Segera me-laku-kan sesuatu. Istighfar adalah contoh yang paling mudah.

Coba kalo kita pertanyakan seperti ini, bila Bupati, Gubernur, Presiden memberi anda hadiah atau penghargaan, apa yang akan anda lakukan? Sedikitnya anda akan berucap terimakasih kan? Itu logika normal. Saya akan begitu.

Itu kalo analoginya hadiah. Saya ganti dengan pertanyaan. Seorang pejabat negara yang anda hormati menanyakan apa yang anda akan lakukan dengan pemberiannya. Oh anda sudah pasti akan menyampaikan yang terbaik yang bisa anda buat, bukan? Nah kemudian dia ingin tahu apakah anda bisa melakukannya, ia mengawasi anda dan Ia juga memfasilitasi anda dengan bahan-bahan yang anda perlukan. Apa yang terjadi? Tentu anda akan mulai mengerjakan dengan penuh kehati-hatian dan berbuat sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Perlakukanlah itu terhadap rasa. Bila Allah, bukan sekedar pejabat manusia, memberi anda dengan pemberian (sebentuk emosi/rasa tertentu) dan kemudian mengawasi anda bukan hanya di luar tapi dalam hati anda. Apakah anda akan memberikan yang terbaik? Apa yang anda lakukan bila rasa itu adalah senang? Apa yang anda lakukan bila rasa itu susah? Apa perbuatan (laku) terbaik anda? Pertanyakan itu selalu tiap anda diberi rasa – apapun itu rasanya.

daisy-03-wallpaper

Garis Merah

Ikhlas adalah rasa. Rasa adalah pemberian dari Allah. Ikhlas adalah pemberian dari Allah. Pada saat kita menjawab pertanyaan apakah kita siap melakukan sesuatu, contoh yang paling sering memudahkan orang yang mungkin sekali mengurangi kemudahan kita, dan kita menjawab siap apalagi kita senang, Itu sudah ikhlas. Ya. Tapi… Ikhlas bisa diikuti oleh rasa yang lain, harap terhadap pamrih misalnya. Karena berikutnya Allah ingin tahu apakah kita bisa menjawab pertanyaan “ah seandainya..” yang muncul itu.

Oh suatu saat kita membiarkan rasa yang mengikuti itu berkobar menjadi marah, kita merasa perlu mendapatkan sesuatu balasan dari kita memberi orang lain. Dan kita melupakan untuk menatalaksana pemberian rasa harap terhadap pamrih  itu dengan melakukan yang terbaik yang kita bisa. KIta marah, dan pada ujungnya kita menyadari dan merasa kita sudah tidak ikhlas. Jangan takut. Itu adalah ujian rasa berikutnya.

Kalau kita sudah perang pertama dan kemudian gagal, apa kita akan mundur dan menyerah untuk terusa saja kita berbuat yang jelek-jelek saja. Toh kita sudah kalah perang? Tentu saja tidak. KIta akan berperang lagi. Lah kita akan berdarah-darah lagi kalau kalah? Ya itu karena anda membayangkan perang seperti perang Diponegoro, atau seperti perang gerilyanya Soedirman.

Mari kita tukar imagenya dengan bermain catur atau apapun boardgame yang anda suka atau anda mainkan berkali-kali.  Sekarang kalah ya kita susun lagi bidak-bidaknya dan mulai lagi permainan baru. Jangan lupa istilah “hidup ini adalah permainan dan senda gurau belaka” adalah Ilahiah. Allah cukup punya sense of jokes yang tinggi dengan memberikan pengandaian perang besar, tapi juga berupa permainan yang harus kita kuasai dengan senang (senda gurau).

Aplikasi

  1. Sadarilah Ikhlas adalah rasa. Bahasa rasa mudah karena tidak terlalu banyak. Apa yang kemudian mengikuti ikhlaspun mestinya adalah rasa.
  2. Pada saat kita bisa dengan senang melapangkan orang lain. Itu sudah ikhlas.
  3. Bila kemudian rasa harap pamrih muncul. Sadari ia adalah rasa. Kenali rasanya. Seperti anda mendapatkan hadiah. Timang-timang hadiah yang diberikan. Kenali begitulah kalau rasa pamrih muncul.
  4. Semakin kita mengenali rasa yang bermunculan, kita makin awas (sadar, dzikr) kepada diri kita sendiri. Menyadari, mengenali diri sendiri adalah sarana mengenali Allah Sang Pencipta. Bila itu terjadi Yang KIta Kenali yang akan menjaga hati kita. Karena ia bertahta di hati hamba-hambaNya.
  5. Bila kemudian kita terbawa dan lupa berbuat terbaik dengan mengenali rasa yang muncul. Jangan terlalu lama bersedih (emosi) dengan kekalahan. Kita buka lahan permainan baru.
  6. Dan bermainlah terus dengan rasa. Sadari, rasakan dan kenali.

Selamat bermain-main dengan rasa ikhlas.

[draguscn]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s