#62 : Sebait dan akhir cerita ..

No comments

Duhai Rembulan, pernahkah diceritakan kepadamu tentang perebutan mutu manikam yang hidup dalam keabadian, tentang peperangan yang mungkin belum selesai. Hingga saat mutu manikam telah menghias mahkota pemegang negera raja-raja.

Pernahkah diberitakan kepadamu, serdadu-serdadu yang datang memanggul senjata pusaka dalam keriuhan peperangan. Dalam keinginan untuk mendapat kemenangan dan tentang betapa sulitnya menghimpun manikam, di kedua tangan yang juga memegang senjata.

Akan kuceritakan kepadamu kesiurnya senjata-senjata pusaka, kemenangan demi kemenangan, perang dari hati yang terbelah yang diikuti raja-raja penjuru negeri. Membawa separuh hati. Rela dan ingin. Berani dan takut mati. Yang tak ada penyerbuan dan serangan. Yang melompati jebakan-jebakan. Saling tangkis tapi tak bersinggungan. Bertemu dan saling mengelakan. Lucu tapi mematikan. Riang tapi mengerikan.

Pangeran Kayukayuka dari kerajaan peracik tetumbuhan adalah awal yang baik untuk memulai cerita. Karena ia yang paling gigih walau kadang lupa, Karena ia yang pertama berlari walau kadang salah arah. Ia kenal manikam walau sempat pula ia tertipu. Senjata ditangannya luar biasa menggiriskan. Sebuah panah dengan busur merentang panjang Dan anak panah yang dijalin tali sutra, dibelitkan ke badannya sendiri. Kayukayuka orang yang berani terseret-seret dalam medan laga. Panahnya adalah yang pertama menerjang, membelit dan menerkam manikam. Dan sejak itu ia tak pernah jauh ketinggalan..

Raja Sepuh Talimetali adalah pesaing berat, berangkat dari negeri penyihir-penyihir ternama, Ia adalah ahli berperang yang sempurna. Ia juga serakah karena ditangannya telah ada Kecubung Cina. Ia merapal Aji Sigantiganti. Aji pelepas pesona. kecubung hendak diganti manikam, yang memang jauh lebih mempesona.
Talimetali bersenjata pena emas yang dipercaya banyak orang. Pena emas yang telah banyak berguna. Pena emas yang terkenal sangat mahal pada saat ditempa. Pena emas yang punya kekuatan menghisap. Terkadang membuat manikam tertarik berputaran. Talimetali benar-benar Raja yang sulit untuk disingkirkan.

Raja Muda Gelanggelang adalah pendekar pedang dewa. Negeri tempat Talimetali tinggal punya dua desa, yang dipenuhi penyihir-penyihir dan tabib-tabib muda. Dari salah satu desa yang dekat dengan kota raja. Dari sanalah Gelanggelang berasal dan mengabdikan ilmunya Sebagai tabib muda dengan berbagai pusaka. Ia punya pena perak. Tidak semahal emas. Juga tidak sesakti pena Talimetali. Bagaimanapun dalam ilmu pedang, Gelanggelang menang pengalaman. Tariannya Ilmu Pedang Dewa, Ilmu yang berasal dari Negeri Padang Pasir, terhimpun dari kitab-kitab tua, yang ditarikan dengan menggunakan pedang Bintang Bulan

Tariannya adalah tarian pertapa terbalik. Kaki kanan melangkah serong ke depan justru pada saat tangan kiri menunjuk matahari ke belakang. Tapi tampaknya ini yang membuat manikam terhenti seketika. Tak terasa kakinya melangkah bersama. Tangannya menggemulai mengikuti irama pedang. Meski Gelanggelang jelas orang bodoh, ia jelas tidak buta. keindahan manikam lah yang memang membutakan.

Peperangan ini jelas membutakan Kayukayuka. Pena emas Talimetali menggores tajam di matanya. Tak ada yang luput dari kehebatan jendral tua ini. Bahkan panah Kayukayuka gelagapan salah arah. Ada waktunya panahnya mengikat batu lain. Tapi Kayukayuka tidak menyadarinya. Betapa bodohnya Kayukayuka. Sesaat sedikit terlambat barulah ia melarik sutra. Berpuluh-puluh hari merapal mantra, menambat manikam dengan segala daya. Oh betapa bodohnya Kayukayuka. Ia terlampau menurutkan hatinya, amarah yang tak dapat dikendalikannya sendiri. Talimetali jelas melihat kelemahan Kayukayuka. Sebagai seorang raja dan jenderal sepuh di lapangan. Yang pernah menang perang besar. Ia benar-benar orang yang bisa membaca jarak.

Yang paling menarik untuk diceritakan, mungkin bahkan paling lucu dalam ini peperangan. Adalah Raja Muda Gelanggelang yang baru kemudian masuk gelanggang. Si bodoh yang memang pantas disebut punguk merindukan bulan. Gelanggelang jelas jatuh hati melihat manikam pertama kali. Berbeda dengan Kayukayuka dan Talimetali, Gelanggelang tidak berhasrat memiliki manikam untuk dirinya sendiri. Ia ingin menanam manikam di dalam Taman Hati! Taman yang kini sudah ada beberapa kuntum bunga yang tumbuh dari batu-batu permata juga.
Gelanggelang ingin manikam bisa memancarkan kewangian dan keindahan karena hasil jerih payahnya memberi pupuk dan merawatnya. Gelanggelang mungkin sudah sadar dari awal kelak jika ia ingin memiliki satu jenis bunga, mungkin bukan manikam yang dapat dipilihnya. Tapi seperti yang kita tahu Gelanggelang adalah Rajanya Bodoh.

Hebatnya Gelanggelang adalah tariannya, Ilmu Pedang Dewa demikian dahsyatnya membawa bayu berkitaran, menarik manikam dalam satu putaran, menghadirkan manikam dalam taman. Memperlihatkannya dengan bunga-bunga yang ada di sana. Meski manikam jelas tertarik Tarian Dewa dan tak terhindarkan lagi telah tersesat dalam Taman Hati. Manikam merengut memandang bunga-bunga lain. Manikam bahkan takut bunganya kelak tak seindah yang lain. Karenanya manikam takut untuk tumbuh. Tapi tak lepas dari pesona tarian. Sebagaimana Gelanggelang. Tariannya adalah tarian gaib. Yang sekali memulainya berpantang tak menyelesaikan.
Benar-benar peperangan yang kisruh. Kayukayuka tak tertinggal jauh. Sejauh-jauhnya lima hari perjalanan. Kadang-kadang manikam meringis kesakitan, kadang termenung sendirian.

Diantara petarung-petarung ini hanya Kayukayuka, yang jelas tidak belajar ilmu perang dengan baik. Perangnya adalah satu-satunya perang yang harus dimenangkannya, yang sudah dimulainya sejak menjadi ksatria pingitan. Jendral tua berbintang penghargaan karena menang perang besar yang entah kenapa disesalinya, yang entah kenapa hampir diingkarinya. Si Gelanggelang yang bodoh saja belajar dengan baik aturan perang. Peraturan dasar dalam medan perang yang menyebutkan, dilarang menyakiti atau merusak pusaka rebutan, yang justru oleh Kayukayuka malah dilakukan. Dalam hal ini jelas Kayukayuka lebih dungu dari Gelanggelang.
Jendral muda dan tua tidak pernah bertemu. Tapi pengalaman perang mereka jelas lebih menarik, manikam bisa berlama-lama menonton mereka melakukan tarian perang dewa-dewa. Tak bosan-bosannya ia datang lagi, sungguh tarian pedang yang menggiriskan.

Perang. Tarian pedang. Perebutan pusaka. Riuh rendah yang hanya dirasakan manikam Justru kala ia sendirian. Dari semua petarung jelas Kayukayuka adalah panglima besar. Dari pasukan besar yang beraneka ragam. Bahkan permata yang menjadi asal usul manikam Merupakan Jendral Perangnya yang paling hebat, serdadunya meliputi banyak negeri. Berperang dengan komandan perang Pangeran Cubluk Memang bukan peperangan yang enak untuk diikuti rata-rata orang, hanya menghormati Pusaka Sutra yang telah lama dijalinkan.

Yang paling konyol jelas si jendral tua. pengikutnya tak lebih dari hitungan jari, itupun rata-rata penghianat semua. yang tak setuju dengan misi bunuh diri Jendral tua yang tak tahu diri. Namun meremehkan jendral tua harus disingkirkan dari pikiran, penyihir utama kerajaan yang terletak jauh dari kotaraja, tetap merupakan hitungan-hitungan kesaktian

Si Gelanggelang masih agak lumayan. Walaupun balatentaranya juga bukan sesuatu yang dapat diunggulkan tapi orang ini sering bersisian dengan maut. Hingga baginya tariannya sendiri yang mungkin akan sangat pedih, tetap saja berakhirnya harus cukup manis untuk menutup tarian. Walau kakinya berat dengan langkah terbalik yang urung diajarkannya kepada manikam. terlalu sedikit waktu. Telunjuk Pedang Bulan Bintang tetap menemukan arah.

Peperangan tetap peperangan. Pada akhirnya ada kemenangan-kemenangan. Ada kepedihan-kepedihan yang mesti dijalani. Betapapun dungunya Kayukayuka yang belum mau belajar taktik perang. Betapapun sakitnya ikatan Sutra Pusaka di hati manikam, tarian perang Kayukayuka adalah tarian yang paling dikenali manikam.

Betapapun indahnya Ajian Talimetali, ia hanya sekedar menjadi aji pelepas pesona. Yang kalaupun berhasil hanya membuat manikam mengisi lubang besar penuh luka yang ditinggalkannya. Jendral tua bisa kita anggap sebagai cerita lama.

Begitu pula dengan Gelanggelang si Raja Muda. Tarian Pedangnya hanyalah tari tak selesai yang urung diajarkannya kepada manikam. Lagipula kebodohan Gelanggelang cukup menakutkan. Yang manikam tahu Gelanggelang adalah pendekar pedang dewa, ia tidak pernah yakin bagaimana Gelanggelang akan mengurus ladangnya. Tempat kembang-kernbang tumbuh dengan indahnya.

Bagi manikam inilah kemenangan cintanya. Kayukayuka, Talimetali dan Gelanggelang mungkin akan jadi pengalaman tarian perang yang terindah dan paling berarti. Buah bibir untuk anak cucu kita.

Demikian akhir dari cerita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s