#14 : Sebait di dalam tikai

No comments

Love Hurts

Ditinggal sendiri memagari matahari ..
Ranting pugar terbakar berkobar ..
Menyisa keinginan untuk menggeliatkan diri ..
Segala gempar digambar dengan gusar ..

Tulis di atas kertas menyala ..
Buka di jendela-jendela ..
Setiap guratan di kitab paling muka ..
Mencuatkan iri yang membuta ..

Cinta yang bercampur dengan wasangka
Telah menjadikan dirinya lupa ..
Yang tersisa hanya luka menganga ..
Meradang siksa karena tetesan murka ..

Perlahan dihunusnya belati ..
Akalnya tumpul tapi mulutnya bak cemeti ..
Tiada menyisa yang dikenal sebagai pekerti ..
Tiada lagi takutnya pada Ilahi Gusti ..

Dihujamkannya pisau bermata dua ..
Tawanya menggema dengan jumawa ..
Merebakkan darah diatas dakwa ..
Mengguratkan luka di raga dan jiwa ..

Sejarak menoleh napasnya terengah ..
Batin yang tertoreh sudah bersimbah darah ..
Badannya terhuyung hatinya goyah ..
Perlahan dan pasti rasanya dirambati gelisah ..

Cintanya tersungkur di kubangan lumpur ..
Tiada lagi inginnya bangkit dari tidur ..
Gairahnya menyerpih kepingan hancur ..
Jujur yang disangganya dibaca lacur ..

Ditinggal sendiri memagari matahari ..
Ranting yang terbakar sudah tiada pijar ..
Dirinya berbenah beranjak dan berdiri ..
Segala yang gegar disasar dengan gemetar ..

Biarkan batinnya sejenak beristirahat, dibebat, mencari afiat ..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s