Matahari Di Kejauhan

No comments

mentari

Meski lelah ku kan kembali ..
Hati yang samakah yang kan kujumpai ..
Meski mataku tak sama melihatmu lagi ..
Masih ada pembeda yang tertanam di dalam diri
 
Saat ku tiba kelak ..
Lihatlah dari kisi jendela yang berwarna hijau itu
Bermekarannya bunga di jalan yang kulalui
Dan za’faran menyebarkan hingga ke dalam sendi
Biarkan dirimu kurengkuh sekali lagi ..
 
.. dan kau tlah bersandar di bahu ini ..
.. dan kugandeng tanganmu seringkali..
.. dan kugenggam jemarimu tanpa bisa kuhitung lagi ..
.. dan kubakar seluruh energi
.. agar menjadikan geletar jantungku panas membakar bumi ..
.. agar kulihat rona kemerahan lagi di pipi
.. agar kuyakini segenapku meliputimu abadi ..
berlebihankah jika itu pula yang kuingini ..
 
Rinduiku juga dalam bening malam …
.. tak kan kau kira betapa hatiku bersinar dalam temaram
.. dan setiap bulir air mata laksana mutu manikam
.. menghiasi tiap mimpi
.. mengawali tiap pagi
.. mencandai siang hari
.. hingga kembali merajut ronce permata dinihari
.. di setiap doa yang terajut
.. di setiap sujud yang terhanyut
Kala itu, kutunggui rindumu .. karnaku tak mau rindu sendiri ..
 
Krejengan, 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s