Monolog Rasa Rindu

One comment

Lantas bagaimana bila memang aku memagarimu dengan beribu tanya. Dan terhenti di ketiadaan. Dan menunggu. Pada saat kekosongan itu datang, dan batinku ikut centang perenang. Dan membuatku berdiri, di dalam pagar yang kubuat sendiri. Mungkin kita memang harus mencerna ulang remah-remah yang sudah terlanjur ditabur. Mungkin beberapa tumbuh menjadi lumut dan jamur. Tapi ada yang berkembang menjadi mawar dan melati. Sebagian bahkan jadi palawija yang subur. Bukankah secara kewajaran memang mungkin saja terjadi. Dan patut dipersembahi rasa syukur.

Mari kita bicara rasa. Kau selalu menghindar bila aku memulainya. Dan tidakkah kau ingin kenal dengan berbagai jendral yang berlaga. Mereka bergumul, bermain dan tertawa. Kita juga seperti mereka dan kita pada akhirnya harus tertawa. Mengertikah kau kenapa kita harus bahagia. Bukan karena lingkungan di sekitar kita. Bukan karena benda-benda. Bukan karena kita memilih bahagia di atas derita. Tapi karena ia yang datang kepada kita. Sebagai salah satu tentaraNya. Dan bersemayam mengatur tatanan hati kita. Bertahta diatas singgasana. Memerintahkan mulut tersenyum, mata berbinar, telinga meramu harmoni, dan seluruh kulit bergeletar dengan senangnya. Jadi bagaimana dengan upaya kita. Lingkungan indah, benda-benda mewah dan apa-apa yang sudah kau taruh dalam wadah. Mungkin akan mengajak sang prajurit untuk datang. Mungkin ia malah menghindar dan pulang. Tersisalah kau dalam rasa gamang.

Kenapa kita bicara bahagia. Mungkin karena menanam jamur dan mawar bersamamu menimbulkan rasa. Melihat palawija yang tumbuhpun seperti memanen karsa. Ada berbagai warna. Dan menjadikannya pelangi alangkah indahnya.

 

Jika bahagia adalah serdadu kiriman dan kini ia yang bertahta. Apakah kau akan pergi kepadanya. Menasehatinya untuk kembali ke haribaannya. Memintanya tidak berada di atas singgasana. Dan menjauhkanku dari tersenyum, berbinar, berharmoni dan bergeletar dengan senangnya.

Bukankah kau memiliki kerajaanmu sendiri. Yang didatangi kesatria-kesatria rasamu sendiri. Apakah ia yang bertahta disini, sebegitu mengganggu kerajaanmu. Apakah rasaku yang membuatmu malu. Dan kalau kau tahu ini bukan kerajaanmu, kenapa kau yang ingin mengatur segala sesuatu. Biarkan kerajaanku dan kerajaanmu. Mereka mengatur siapa tentaranya, siapa yang pulang sebagai ksatrianya. Biarkan mahkota rasa bertahta tanpa sengketa. Di masing kerajaan kita.

Meski kemudian ada secuplik taman bunga. Yang tumbuh subur diantara kerajaan kita. Dimana jamur, lumut, mawar, melati dan palawija. Mungkin sedikit air untuk melepas dahaga. Tersedia bagi kafilah-kafilah penabur rasa. Berjentera, berzirah dan menunggang kuda. Membawa beberapa lentera. Mendirikan kemah-kemah dan bertukar cerita. Kisah rindu dan dongeng cinta. Sampai nanti fajar tiba.

Bisakah kau wadahi gerimis rinduku …

Kalau saja kau tahu ..
Untuk menahan teriknya rindu ..
Mengering isi samudera biru ..
Menggelepar penuh sinar dari tubuhku ..
Dan serabut syauq berkilauan tak kenal waktu ..
 
Semalam kutemukan kepingan tubuhmu disana ..
Dan dian yang kau dekap sudah tak menyala ..
Beranjaklah kesini melelap didalam dekap ..
Menyusun mimpi dan menghilangkan ratap .
 
Mendekat kepadamu memang sudah dimaklumi
Hangus terbakar kasihmu yang tak bisa kuwadahi ..
Meski mata buta dan tubuhku menjadi abu ..
Serpihannya akan tinggal di dalam relung kalbu
 
Kini si hati lapang mengusung sinarmu ke barat ..
Meninggalkan jejak bisu yang nyaris sekarat ..
Meski kutahu kau ingin mengobati penat ..
Jangan berhenti bersinar setiap engkau dapat 
 
Akupun akan pergi ini hari ..
Bertapa sejenak di Sungai Pekalen Bawah ..
Aku kan bertemu penyihir-penyihir pagi nanti ..
Kami akan beradu mantera, laga dan kisah-kisah ..
 
Aku titip segumpal bara di dadamu ..
Jaga agar apinya tak padam ..
Aku bawa beberapa potong di dadaku ..
Kita kumpulkan lagi besok malam ..
 
Mari bersama merapal mantera dini hari
Ikut di barisanku dan arahkan diri
Satu biduk menuju kembali
Hingga rindu kita azali
 
Daun-daun mangga yang terlalu rimbun ..
Menggesek genteng yang mulai berembun ..
Hati yang lelap di ujung malam perlahan terbangun ..
Menanti belahannya yang darimu datang menuntun
 
Hijab cahaya terburai ..
Dan hati yang tersinari menyongsong pagi ..
 
Sinar mentariku masuk melalui jendela
Menyinari tubuh lelah yang beranjak tak rela
Bersinarlah dan tetap memberi cahaya
Indah semburat mencinta dan dicinta
 
Kasih ..
 
Kalaulah kita sebiduk sebahtera ..
Dimana adinda bersimpuh bercerita ..
Mari mendekat duduk bersama ..
Meronce manikam dari rindu membara ..
 
Atas nama jiwa dan raga dan dia ..
Kuingin kau yang bertahta disana ..
Kutata karena ingin menyambut kehadiran ..
Kurapikan karena biasanya kau porak-porandakan ..
 
Saat Cinta berada di singgasana
Lidah kelu tak mengucapkan ..
Pena bergetar, tulisan tak terpatrikan ..

[draguscn – 15.09.2011 – kompilasi rindu, mencoba mengikuti gaya tulisan GUMAM ASA]

Advertisements

1 comments on “Monolog Rasa Rindu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s