Selamat Jalan, Kyai Ulum ..

Selamat jalan, Kyai Moh. Ihya Ulumuddin ..  nama beliau sama semerbaknya dengan buku yang dikarang imam Al Ghazali dengan tajuk yang sama ..

Bagi anda yang tidak tinggal di Kecamatan Krejengan mendengar nama ini akan sangat asing itu karena orang yang bernama Kyai Ulum ini mungkin hanya orang Krejengan saja yang kenal. Meski saya tadi juga mendengar kabar kematian beliau karena Bapak Bupati yang takziah ke rumah almarhum dengan co-rider meraung-raung melewati depan rumah dinas.

Kabar kematian beliau begitu menyentuh saya karena terkait banyak hal .. sambil berjalan dari belakang puskesmas melewati jalan yang dipakai untuk keluarga yg bezoek ke Unit Rawat Inap saya mengenang almarhum .. tak urung merebak juga air mata saya ..

Saya mengenal beliau berawal dari kami menyelenggarakan acara akikah Ihsan, pada tahun 2004. Waktu itu saya baru 1 tahun bertugas di Krejengan. Kemudian berlanjut pada Mira dan Nisa di tahun-tahun berikutnya kelahiran anak-anak saya.

 Kyai Ulum, Akikah Ihsan, 2004  Kyai Ulum, Akikah Ihsan, 2004, potong rambut  Kyai Ulum, Akikah Nisa, 2007, potong rambut 

Kyai Ulum, Akikah Nisa, 2007,potong rambut

Namun demikian bukan hanya itu saja yang saya kenang dari beliau .. sebagai seorang tokoh masyarakat beliau juga mau dengan gigih ikut memperjuangkan kesehatan untuk rakyat Krejengan. Beliau berpartisipasi dalam kapasitas sebagai penceramah, sebagai orang yang sering dimintai pendapat, sebagai pimpinan pondok pesantren dan bahkan bagi saya sebagai orangtua tempat saya kadang-kadang melepaskan keresahan saya.

Beliau juga guru, meski tak banyak yang bisa saya gali dari beliau, terutama karena dalam berbagai pertemuan kami yg seperti ini beliau menempatkan diri sebagai teman diskusi, bukan sebagai guru mengajar kepada murid, ini yang kerap menyebabkan saya rindu untuk berjumpa dengan beliau.

Di saat buka puasa bersama dengan anak-anak saya, setelah selesai menyantap takjil, saya memberitahukan kepada anak-anak dan istri saya “Salah seorang kakek kalian telah dipanggil Allah, namanya Kyai Ulum, rambut kalian semua tahalul-nya dilakukan oleh pak Kyai, mari kita doakan semoga pak Yai diterima di tempat kesayangan Allah, dan nanti setelah tarwih kita ke rumah pak Yai”

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun ..

Selamat jalan, Kyai Ulum, sahabat, guru dan panutan.

Hujan di Malam Pertama ..


Kemaren malam memang sudah ngga punya waktu untuk tidur, biasa deh .. pekerjaan puskesmas memang kadang-kadang ada yang menuntut untuk jadi sehari. Dan ini salah satu momen seperti itu .. bukan itu yang ingin saya ceritakan ..

Cukup lama saya tenggelam dalam keasyikan pekerjaan, meski di depan komputer, saya sengaja ngga online demi menjaga konsentrasi .. maklum lah selalu ada keinginan untuk lihat status sudah dikomentari atau lihat status baru teman atau diskusi tentang sesuatu .. yet bukan itu juga yang akan saya ceritakan ..

Saya tersadar dengan waktu ketika dia bergerak dari angka satu menuju angka dua .. baru saya sadar bahwa saya sudah duduk dari jam tujuh disela beberapa orang pasien dan menatap layar LCD desktop saya .. ngga seperti biasanya bila malam saya suka menggunakan laptop karena lebih bisa sambil santai datanglah ngantuk .. kebetulan malam ini saya lagi ngga butuh yang namanya ngantuk.

Lupa dengan berjalannya waktu saya sudah kehilangan waktu untuk bersama menunaikan shalat tarawih dengan istri saya yang kelihatannya sudah terbangun dan berada di dapur mempersiapkan sahur.. saya putuskan untuk menunaikan dulu tarawih di waktu dinihari itu ..

Pelan-pelan saya melafazkan surat-surat pendek yang saya hapal sambil mencoba mengingat makna yang terdapat dalam kandungan ayat-ayatnya .. entah kenapa di 4 rakaat kedua hati saya terasa memburu dan ingatan yang ada dalam pikiran saya hanya surah-surah tentang kiamat dan neraka .. di 3 – 4 ayat pertama surah al Qariah suara saya sudah bergetar dan serasa badan ini menyusut di sela beterbangannya ummat manusia dan gunung-gunung .. tak terasa air mata saya mengalir makin deras membawa ayat-ayat ancaman alWail terasa makin menyesakkan .. saya bahkan merasakan amukan burung ababil pada tentara gajah ..

Dan hal yg ingin membuat saya sharing adalah ketika menutup witir saya dengan janji Allah :

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

bukan main rasa lapang hati yang sudah dijanjikannya bukan sekedar bacaan .. begitu terasa menyebar dalam hati ke setiap pembuluh darah dalam badan ..

karena aku adalah bumi itu sendiri ..
akulah tempat mengalir sungai-sungaimu ..
dan menjadikan diri ini tempat kau berdiri
bersujud dan merebahkan diri dalam
rasa terikat yang nyaman padaMu ..