Kelompok Orang-Orang Egois

“Baik .. cukup dulu .. kita punya Pak Kapuskesmas dan Pak Hambasahaya, saya harus melanjutkan.. saya rasa saya bisa menyebut anda Pak Dokter?” Moderator meneruskan giliran ..

“Betul, saya memang dokter” dia memperbaiki duduknya “saya seperti yang lain juga punya masalah, saat ini profesi saya ini selalu dianggap terlalu diagung-agungkan; anggapan yang berlaku adalah tidak ada tempat dimana kami berbuat keliru; bahkan kadang2 timbul pertanyaan bila kami sakit atau berbuat salah .. seakan2 dokter bukan manusia” dengan lancar Pak Dokter membeberkan permasalahannya.
“Secara pribadi kelemahan saya adalah saya belum bisa membagi waktu dengan baik.. terkadang ini berefek buruk karena tugas saya mengharuskan saya untuk selalu ada untuk masyarakat. seperti saya sebutkan pertama – padahal, dokter itu juga manusia .. terkadang perlu libur, ada waktunya untuk keluarga dan banyak hal lain yang dilakukan kebanyakan orang.”
“Hal yang menguntungkan bagi saya adalah saya senang hidup di tengah keramaian, sehingga mengobati pasien benar-benar menjadikan saya selalu merasa senang dengan keramaian itu” Pak Dokter menjelaskan tanpa diminta.

==

“Cukup jelas.. silahkan anda, Pak ..” Moderator meneruskan pada bapak yang menggunakan kain sarung dan kopiah ..

“Saya adalah anggota masyarakat biasa. Saya bertugas untuk memberikan contoh kepada masyarakat bagaimana sebaiknya sebuah diri dan keluarga. Ini sungguh berat dan kadang stressful. Bagaimanapun saya tidak selalu bisa memberikan yang terbaik. Terkadang saya memang tidak tahu, terkadang saya lalai, terkadang aturan yang biasa saya jalani sungguh berbeda dengan yang ada di lingkungan sekitar saya”

“Kekuatan yang saya miliki bukan milik saya pribadi, tapi lebih karena memandang kepada anda dan anda” seraya menunjuk kepada pak Kapuskesmas dan pak Dokter.

“Eh kenapa saya?” keduanya berbarengan bertanya ..

“Maaf pertanyaan konfirmasi ada di sesi lain” Moderator menengahi “silahkan lanjutkan pak..”

“Kekuatan itu bisa jadi adalah titik kelemahan saya yang utama, untuk menjadi contoh seharusnya saya eksis sebagai pribadi saya sendiri. Barangkali krisis yg saya alami adalah aktualisasi diri, saya kurang percaya dengan pribadi saya secara utuh” pak Masyarakat mengakhiri ..

==

“Saya kira cukup dulu, silahkan pak anda terakhir”

“Saya rasa saya akan cukup lama bicara pak Moderator, tolong saya diberi waktu” moderator mengangguk mengiyakan ..

“Pertama-tama saya adalah anak, sebagai anak saya rasa saya belum bisa sepenuhnya melegakan orangtua saya. Pola pikir orangtua saya adalah fight dan kepatuhan mutlak, disisi lain saya besar di era pemberontakan pemikiran. Terlebih bila orangtua saya melihat kelompok ini, peran saya sebagai anak terus ditekan dengan keharusan-keharusan. Di sisi lain saya juga punya kewajiban taat dan santun kepada orangtua yang selalu sy ingat terus mengingat batas waktu pertemuan kami mungkin sudah mulai dekat secara kewajaran. Ini dilema saya sebagai anak”

“Sebagai suami, saya cukup mudah melaksanakannya, istri saya adalah fighter, ibu yang mau belajar, pengajar juga, pengasih penyayang – meski terkadang cemburu juga 🙂 .. – plus dia adalah koki yang handal. Dengan kerjasama darinya saya rasa saya bisa jadi kuat. Ya, hidup dengannya cukup lengkap. Sebagai suami saya tidak punya masalah besar, saya hitung malah ini sebagai kekuatan saya”

“Sebagai ayah 3 anak, ini yang saya kerap membuat saya menangis .. saya pernah cukup keras kepada anak-anak saya .. dan suatu waktu saya mendapat nasihat keilmuan yang berarti dari anda, terima kasih pak Dokter” sambil menjura hormat .. “Saya sangat menyayangi buah hati saya .. dan masing-masing mereka selalu menyibukkan saya untuk mencari tahu bagaimana seharusnya seorang anak berkembang. Saya ingin mereka menjadi insan kamil .. seutuhnya, selengkapnya .. dan ini kadang-kadang membuat saya lupa bahwa mereka masih anak-anak. Untunglah saya dan istri bisa terus saling mengingatkan.” matanya berkaca-kaca ..

Tidak cuma dia yg menjadi termangu .. moderator memalingkan muka ketika mengusap setitik air mata dan kembali menguasai dirinya melihat yang lain juga tertunduk dengan pengakuan bapak ini.

==

“Baiklah pak Masyarakat dan pak Keluarga sudah melengkapi perkenalan ini.. barangkali tidak adil bila saya juga tidak memperkenalkan diri .. saya adalah anggota masyarakat dunia maya. Peran saya disana bisa sangat tidak permanen, karena itu mungkin saya yang ditunjuk sebagai moderator kelompok ini. Kelebihan saya, rasanya adalah karena saya bisa menjembatani anda semua .. sedikitnya saya bisa menjadi catatan bagi anda semua, kelak mungkin itu akan sangat berarti untuk dikenang kembali.”
“Meski tidak permanen, saya punya beberapa ambisi disana, saya ingin jadi profesional yang bisa membagikan ilmu di rimbanya dunia maya. Saya yakin dengan silaturahmi yang saya buat disana suatu saat akan memberikan nilai lebih tersendiri bagi saya.”

“Baiklah .. cukup dulu ya .. sesi ini .. silahkan rehat dulu .. ada kopi ada teh dan camilan di meja sebelah sana, saya yakin ngga banyak yang minum teh ya ..”

[untuk bisa mengendalikan diri dan waktu yang kita miliki kita harus bisa mengenali peran kita masing-masing dan mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai peran-peran tersebut, kita harus bisa melihat kelebihan dan kekurangan, saya harap ini bisa jadi contoh sederhana. Dalam manajemen waktu modern identifikasi peran adalah hal pertama yang harus dilakukan. draguscn, akhir agustus]

Tinggalkan Balasan