Kelompok Orang-Orang Egois

No comments

 

“Assalamu’alaikum .. bapak-bapak .. saya rasa kita perlu mengukuhkan kelompok ini untuk bisa bekerja sama lebih baik dalam kehidupan ini dan mungkin untuk tujuan kehidupan di masa datang. Untuk itu saya rasa kita perlu saling mengenal lebih jauh, mohon tidak usah menyebut nama, saya rasa kita setuju nama kita sama” Hadirin yg terdiri 5 orang itu tertawa mendengar pengantar dari moderator.

“Baik, silahkan Pak giliran anda terlebih dahulu” sambil memberikan kesempatan kepada bapak yang berbaju coklat.

“Terimakasih, bapak moderator ..” Pria ini membalik-balik buku catatan, dan nampaknya memang mempersiapkan untuk memberikan sambutan, seperti biasanya seorang pejabat yg masih belum pengalaman “Bapak-bapak sekalian, saya adalah seorang pejabat pemerintah, saya bekerja di puskesmas, saya pemimpin institusi tersebut.” Dia kemudian memberikan gambaran tentang unit kerjanya, yg kurang lebih punya 50 lebih staf, punya kantor yang cukup besar dan bertanggungjawab terhadap kesehatan di lingkungan kecamatan itu. “Saya sangat ingin suatu saat unit yang saya pimpin ini bisa berjalan dengan baik pada saat saya harus pindah dari sini”

“Apakah ada masalah dengan Unit Kerja anda, pak?” moderator menyela ..

“Yaaah masalah selalu ada, bukan? .. Bagaimanapun 50 orang sudah mulai cukup banyak untuk saya pikirkan .. ada saja dari mereka yg indisipliner, kurang semangat kerja, kadang permasalahan uang atau hutang yang paling sering menonjol” dia menjelaskan “dan tak kurang kami juga harus berhadapan dengan permasalahan-permasalahan kesehatan sesungguhnya ..” Dia kemudian menerangkan bahwa Penyakit Menular, Gizi Buruk, Kesehatan Ibu, dan beberapa hal lain yang mengganggu pikirannya sebagai seorang kepala puskesmas.

“Apakah bapak punya target untuk menyelesaikan masalah2 tersebut?” kali ini Pria berbatik disebelah kanan yang bertanya ..

“Tentu saja. Target saya, sebagai institusi .. Puskesmas ini harus menjadi unit yang bisa dicontoh oleh puskesmas lain. Tentu saja membawa kami harus baik secara lembaga – dengan mempunyai etos kerja yang baik dan selalu menjaga semangat memperbaharui diri – juga dalam hal teknis kesehatan, puskesmas harus mampu menjawab tantangan masalah yang ada, mampu menyelesaikan – paling sedikit memberikan perubahan pada setiap masalah yang dihadapinya” Agak berapi-api bapak tersebut menyahut ..

“Oh bukan-bukan target puskesmas yang saya ingin tahu .. ” Masih Bapak Baju Batik tadi ..

“Maksud anda? Ambisi saya pribadi? .. hmm .. saya mungkin sedikit berharap bisa mendapatkan tantangan yang lebih proporsional untuk tugas2 saya .. barangkali di masa datang saya bisa membagi ilmu2 saya kepada puskesmas lain, tidak harus saya berada di dinkes, tapi mungkin ada cara menularkan yang sudah banyak saya ketahui terhadap yang lain ..” Tidak terlalu jelas .. bahkan bisa dibilang ragu “.. yang jelas saya ingin bekerja tetap dekat dengan masyarakat dan keluarga .. itu mungkin yang penting untuk saya” dia menambahkan.

“Apakah anda sudah merasa cukup jadi pemimpin?” kali ini pria yang berbaju putih yang kelihatan dari tadi mencoret-coret notesnya ..

“Dalam hal memimpin puskesmas saya rasa sudah nyaris mencukupi, saya tahu pemimpin didasarkan pengaruh dan punya senjata komunikasi. Rasanya dua hal itu bisa saya usahakan.”

==

“Baiklah, kita cukupkan dulu .. silahkan, pak, giliran anda memperkenalkan diri” Memberikan kesempatan kepada lelaki yg terus termangu dari tadi .. Bapak ini juga berbaju putih .. hanya bedanya dengan bapak yang tadi, pakaiannya tidak menutup seluruh badannya.

“Saya ini hamba sahaya” masih tertunduk “tugas saya mengabdi kepada tuan saya, dan target saya adalah apapun yang saya kerjakan, tuan saya senang dengan itu”

“Saya kurang mengerti! Bapak adalah budak? Apa perbudakan masih ada?” Kepala Puskesmas angkat bicara ..

“Bisa dibilang begitu” tandasnya .. “saya ingin menjawab pertanyaan seperti yang dilemparkan kepada anda tadi. Saya punya masalah juga.. dan saya tahu kadang ini bisa meresahkan sekali..” dia mulai bercerita.

“Kemampuan saya untuk melaksanakan perintah tuan saya masihlah jauh dari target saya, saya rasa mungkin saya harus malu bila disejajarkan dengan anak-anak madrasah sekalipun .. meski begitu saya mau terus belajar untuk bisa melaksanakannya” Pria itu menghela napas.

“Apa yang jadi kekuatan anda?” Pria berkopiah yang bertanya.

“Saya rasa kekuatan saya karena tuan saya sangat ramah, ia punya belas kasih yang luas. Saya berharap keramahan dan kasih sayang itu terus ada agar saya bisa mengerti, dan mampu melaksanakan dan terus memperbaiki diri dalam menjalankan kemauannya” ia seperti sangat berharap ..

“Apa anda merasa memiliki kelemahan?” Pria yang sama yang bertanya ..

“ah yaa itu selalu membayangi saya .. saya tidak mendapatkan cukup ilmu mengabdi ini pada masa sekolah saya.. ini sewaktu2 menimbulkan hambatan diberbagai skala.. terlebih2 bila anda tahu mantan teman-teman saya.. “

Advertisements

Pages: 1 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s