Diam (III)

No comments

loveletters

Tak terasa sdh 4 semester dilalui Nadia di Perancis, komunikasinya dengan ayah dan ibu, mas Kevin, kakak satu-satunya tempat ia bermanja, bang Ken suaminya selama hampir 17 tahun, Hanna dan Rara kedua malaikat cantiknya, tak pernah putus setiap harinya. Demikian juga sebuah email setiap hari ia kirimkan untuk John yang masih bersikukuh dengan diamnya.

Nadia bahkan mengirimkan kado untuk John saat Kevin bercerita bahwa John baru saja dikaruniai seorang jagoan cilik rupawan bernama Yusuf, teriring doa untuk Yusuf dan Tasya mamanya.

Sementara itu, di belahan bumi lainnya, tepatnya di kota sejuk (yang kini padat dan tak lagi pantas disebut sejuk) Bandung, John sibuk mengurus bisnisnya melalui salah satu telefon genggamnya yang hanya Tuhan yang tahu berapa banyak jumlahnya. Tasya sambil menggendong Yusuf, menyeduh secangkir kopi untuk suaminya sebagai pelengkap sebatang rokok yang terselip di bibir John. Setiap orang yang mengenal keluarga ini, selalu memuji mereka akan kerupawanan fisik dan hati mereka, sepasang suami istri yang serasi dilengkapi seorang anak rupawan pula. Sempurna!

[one_third][quote]tak sepatah kata terucap dari bibir John, Tasya tahu itu artinya suaminya sedang tak ingin diganggu, maka ia beringsut ke kamar sendiri.[/quote][/one_third]

[two_third_last]

"Mas! salah satu hp mu di kamar bunyi, di layarnya tertulis nama Kevin, mau kau jawab?" Tasya menghampiri John yang masih sibuk mengutak atik motor gede kesayangannya. "aahh palingan juga si Kevin lagi on the way to Bandung…nanti sajalah, nanggung nih" John berucap sambil matanya tetap tertuju pada motornya. "Mas! pasti penting tuh! Mas Kevin sudah lebih dari 5 kali miskol" John meletakkan cangkir kopinya seraya berjalan ke kamarnya…"oya? masa sih?" Tasya menyerahkan hp ke tangan John "telpon balik, mas, jangan-jangan sangat penting, toh sudah lebih 2 tahun ini kalian jarang berkabar kan? pasti kali ini sangat penting"

[/two_third_last]

Jemari John sibuk menekan nomor Kevin "John!!! akhirnyaaaaaa…..susah benar sih mengangkat telfonku? masa aku harus nyupir ke Bandung untuk berbicara denganmu? hufthh" omelan Kevin didengarkan  baik-baik sambil tersenyum oleh John "sabar bos….kok ente kayak bini yang dicuekin lakinya aja…mrepeeeeet gak karuan! hahahahaha apakabar bro! Long time no see! Bagaimana kabar ayah ibu? Nadia dan Ken serta dynamite duo Hanna dan Rara?" suara John sedikit tergetar menyebut nama yang lebih dari 2 tahun tak ia sebut sama sekali. "Aku telfon kau karena aku mau pamit, kami sekeluarga besar akan ke Perancis dan seperti nya akan menetap lama di sana" John tersentak kaget "oya?? dalam rangka apa bro? owh pasti Nadia wisuda ya? atau maju desertasi? Wah selamat ya!" tak terdengar jawaban di seberang sana beberapa saat "Kev, kami ke sana dalam rangka mensupport Nadia, sudah sekitar 6 bulan ini ia sakit, tim dokternya meminta kami menemui mereka" bagai lumpuh kedua lututnya, John terduduk di lantai terasnya, rokok di sela jarinya terjatuh entah kemana "Nadia sakit? sakit apa? Kenapa kau tak beri tahu sejak awal? parahkah?" Kevin mendengar getaran suara sahabatnya sama seperti getaran suaranya saat mendengar berita bahwa adiknya sakit nun jauh di sana "Nadia bilang dia masih suka berkabar denganmu via email katanya, mungkin dia tak ingin banyak orang tahu kalau dia sakit"

Demi mendengar kata "email" John tersentak berdiri setengah berlari ke kamar kerjanya untuk menyalakan laptopnya, ia bahkan lupa sedang berbicara dengan Kevin saat ia melemparkan hp-nya ke sofa. Tangannya gemetar menyambung koneksi internet….rasanya begitu lama untuk akhirnya ia bisa sign in ke alamat email yang nyaris ia lupakan. Alamat email yang ia ciptakan khusus untuk mengirim sebuah video dirinya sedang menyanyi dan menari yang saat itu ditujukan untuk menghibur hati Nadia yang tengah gundah. Begitu akun emailnya terbuka, ia terperangah betapa inbox nya penuh email dari Nadia setiap hari 1 email terkirim! Email pertama ia baca, isinya tentang kedatangan Nadia di tempat barunya disertai sebuah attachment berupa foto, menara eiffel tanpa Nadia dalam foto itu. Kemudian John beranjak ke email kedua…masih berisi tentang betapa excited nya Nadia di sana….isi email-email ini tak jauh beda dengan bbm nya dulu…walau tak terjawab satupun, Nadia setia mengirim bbm yang selalu disertai emoticon smile. detik berlalu cepat, beralih ke menit dan tanpa terasa jam bergeser, John tak beranjak dari tempat duduknya, matanya terpaku pada layar monitor membaca email Nadia entah yang keberapa. Di setiap emailnya, Nadia selalu menulis "semoga mas dan Tasya selalu dalam lindungan Allah SWT"

Tasya menghampiri suaminya, merangkulnya dari belakang "Mas, sudah larut malam, tidak capek?" tak sepatah kata terucap dari bibir John, Tasya tahu itu artinya suaminya sedang tak ingin diganggu, maka ia beringsut ke kamar sendiri. John tak kuasa berhenti membaca email demi email, ia bahkan dapat merasakan energi bahagia yang terpancar dalam setiap rangkaian kata Nadia di semua email nya. Sampai pada satu tanggal sekitar 6 bulan lalu….beberapa tanggal terlewat tanpa email…Nadia bagai diam seperti hal nya John menutup rapat mulutnya untuk Nadia lebih 2 tahun ini…John sedikitnya sekarang mengerti apa rasanya "mendengar" orang lain diam

[button link=”http://dragus.cn/cerita/diam-epilogue/” color=”silver” newwindow=”yes”] bersambung[/button]

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s