Diam (1)

No comments

jendela 2

 

[one_third]

[quote]”tak seharusnya semua tadi terjadi, mas mencintai Tasya, dan aku mencintai Ken”[/quote]

[/one_third]

[two_third]

Sejuknya hembusan pendingin udara dalam kamar hotel no 455, membuat tirai berwarna jingga di tepi kamar melambai seiring dengan cium dan peluk hangat John dengan Nadia. Suara TV yang sedang menayangkan acara lomba masak memasak pun seakan jadi musik pengiring gairah kedua pasang manusia yang tengah memadu indahnya kasih.

[two_third_last]

……..

Tersentak Nadia berucap seraya mendorong dada John “maaf mas, aku gak bisa”…. dengan nafas memburu John merayu “ayolah sayang, tahukan betapa aku memujamu sejak dulu?”….”ya,mas, tapi jangan paksa aku, aku tidak mau dipaksa, maaf”….”baiklah sayang, aku tak akan pernah memaksamu”….

John beranjak dari pembaringan untuk menyalakan sebatang rokok … rokok pertamanya hari itu … sementara Nadia beringsut meraih pakaiannya dan memakainya dibalik selimut. “maaf ya, mas” …..”tak apa sayang” John tersenyum seraya merengkuh Nadia dalam pelukannya sambil mencium kening dan kepalanya. “maaf, mas harus segera pergi, mas ada janji dengan Tasya”

Sepeninggal John, Nadia merenung dan tiba-tiba terisak…..”tak seharusnya semua tadi terjadi, mas mencintai Tasya, dan aku mencintai Ken”

Angan Nadia pun melayang belasan tahun lalu saat kakaknya, Kevin, memperkenalkan seorang teman yang kemudian menjadi sahabat baiknya hingga kini, John. Perawakan John yang tinggi, gagah, berkulit cerah, berhidung mbangir, membuatnya terpesona. Ternyata John pun jatuh hati saat pertama diperkenalkan dengan Nadia, gadis kecil, dengan rambut terurai di bahu, menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan wajah tersipu. Namun semuanya berhenti di saat itu karena masing-masing dari mereka tenggelam dengan kesibukan studi yang mendera.

Sampai akhirnya 4 tahun kemudian Nadia memutuskan menikah di usianya yang masih belia, John tak sanggup berbuat apa-apa karena statusnya yang masih mahasiswa saat itu.

15 tahun berjalan, John tetap mengenang Nadia, adik sahabat terbaiknya. 15 tahun berlalu, Nadia tetap menyimpan John dalam hatinya. Pesatnya tekhnologi akhirnya menyatukan mereka kembali melalui satu jejaring sosial, bertukar nomer telpon sampai bertukar PIN BB. … percikan bara kembali menyala … saat Nadia telah memiliki Ken dan John telah memiliki Tasya.

Sejak peristiwa di kamar Hotel Jingga hari Sabtu 14 Juli, Nadia tak pernah mendapat kabar sedikitpun dari John …. bagai hilang ditelan riuhnya kehidupan di kota metropolitan.

Hari demi hari Nadia menanti kabar, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk menyapa melalui bbm ….. satu hari berlalu … belum juga ada respons … Nadia terisak dipelukan sahabatnya tanpa berani bercerita apa penyebabnya … sang sahabat hanya berpesan “apapun atau siapapun membuatmu hancur berkeping, tetaplah berbesar hati, tetaplah tersenyum, karena kau tak pernah tahu bahwa kebesaran hatimu, senyuman hangatmu yang tak pernah pudar mampu membuat orang di sekitarmu bahagia”…. Nadia tetap terisak …. “Nadia sayang, menangislah sepuasmu sekarang, setelah itu, tegakkan kepalamu, lihat baik-baik….senyumanmu membuat dunia orang-orang yang menyayangimu tetap berputar …. ayah ibumu, kakakmu, suamimu, anak-anakmu, dan kami sahabat-sahabatmu”…. Nadia menyimak sambil mengusap air matanya, “ya, aku sudah puas menangis, aku akan tegakkan kepalaku dan tetap menebar senyumku, demi orang-orang yang menyayangiku”

Bahkan sampai detik ini sang sahabat tak pernah tahu apa yang di alami Nadia, namun ia bahagia melihat sahabatnya yang bagai boneka tak bernyawa kembali ‘hidup’.

Tak sedetikpun Nadia melupakan John, tapi kali ini ia mengingatnya sambil tersenyum. Terbayang di benaknya tentang John yang menyanyikan lagu di depannya sambil mengajaknya berdansa …. terbayang di pikirnya tentang John yang selalu mampu membuatnya tersenyum bahkan tertawa saat air mata mulai menggenang …

Sampai detik ini tak sepatah kata terdengar dari John….dalam hilangnya kata-kata John, dalam diamnya hati John, Nadia tetap tersenyum karena ia tahu John akan selalu menyayanginya sebagaimana ia menyayangi John…

Dalam diam, Nadia terus berkabar, terus bertegur sapa, karena ia tahu, dalam hati John menjawab semua pertanyaan dan tegurannya panjang lebar walau dengan tanpa kata-kata sepatah pun.

Walau hati dan mulut John terkatup rapat, Nadia tak pernah surut kebahagiaannya…tak pernah absen mengirim dan bertanya kabar …. karena ia tahu … persahabatan 19 tahun lamanya takkan pudar dengan DIAM …

[button link=”http://dragus.cn/cerita/diam-ii/” color=”silver” newwindow=”yes”] bersambung[/button]

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s