Diam (epilogue)

semi

Enam bulan lalu, di taman kampus nya, Nadia duduk bermenung saat jari2nya mulai mengetik email nya ke John-laki-laki yang terpasung oleh bekunya diam selama hampir 2 tahun ini kepadanya-yang entah sudah keberapa ratus kalinya, sejenak ia berpikir, jangan-jangan John bahkan tak pernah membuka emailnya….ia curiga John bahkan ingat punya akun email ini….tapi keraguan itu tak menghentikannya mulai menekan jari-jarinya di keyboard laptopnya.

Setelah itu beberapa email tetap terkirim, di antaranya adalah :

“Dear mas, awalnya sempat terpikir olehku bahwa kau bukannya tak ingin membalas emailku, tapi kau lupa punya akun email ini (sayangnya hanya akun email ini yang aku punya), namun kemarin aku nekat mencoba menelfonmu di semua nomermu, tak satupun ada yang aktif (namun dalam hati aku bersyukur, entah apa harus kuucap bila kau menjawab salah satu panggilan telfon itu). Kucoba bertanya lewat mas Kevin, ternyata sudah lama kalian tak saling berkabar. Ini bukan artinya kau mau memutuskan tali silaturahmi kita, bukan? Walaupun demikian, aku memutuskan akan terus berkabar padamu melalui email di akun ini…namun maaf kalau tak bisa setiap hari seperti sebelumnya, kesibukanku dengan penelitianku sangat menyita waktuku, tapi penelitian ini sungguh membuatku semangat! Akhir-akhir ini kakiku terasa sedikit nyeri, tapi mungkin karena saat ini jelang musim dingin…hehehehehe seperti mama ya…rematik, atau jangan-jangan aku memang sudah menua :). Mas, semoga mas dan Tasya selalu dalam lindungan Allah SWT, amin!”

“Dear mas, andai saja aku bisa curhat bercerita panjang lebar tentang problemku saat ini, dan mendengar respons mu, nasehatmu, saran-saranmu seperti dulu lagi….aku tak akan segundah ini. Aku butuh seseorang mendengarkkanku saat ini, bukan berita bagus sebenarnya (maaf, akhirnya kali ini aku sadar, ternyata selama kita masih bisa komunikasi, aku hampir selalu berbagi keluh kesah dan sedihku saja, jarang sekali berbagi bahagia, syukur alhamdulillah sejak mas berhenti berbicara denganku, aku mampu pendam dalam semua duka dan keluhku, dan selalu berbagi kebahagiaan dengan mas). Aku sakit, mas, sakit yang belum sanggup aku bagikan dengan suamiku sendiri, tidak juga dengan kakakku satu-satunya mas Kevin, dan orang tuaku. Mungkin juga seharusnya tidak kubagikan denganmu, namun kali ini aku butuh ventilasi agar aku bisa menghirup oksigen yang rasanya tak mampu lagi kurasakan sejak dokter memberi tahukan apa penyakitku. Tapi mungkin untuk saat ini aku hanya akan berkabar kalau aku sakit saja, selebihnya, aku tetap excited dan enjoy melakukan penelitianku…tak sabar menceritakan detilnya dengan mas! Peluk sayang untuk Yusuf pangeran tampanmu, semoga kalian bertiga selalu dalam lindungan Allah SWT”

“Dear mas, doakan aku yaaaaa! Hari ini aku akhirnya memutuskan menerima tawaran dokter untuk menindaklanjuti penyakitku. Hari ini aku memutuskan, hidupku adalah hidup orang-orang yang menyayangiku, maka aku harus menjaganya sebaik akal pikirku mampu menjaga. Aku akan baik-baik saja, mas gak usah kuatir, besok aku kirim email untuk ceritakan apa yang aku lalui hari ini. Usapkan kepala Yusuf untukku, semoga kalian bertiga tetap dalam buaian cinta Allaaaah SWT”

“Dear mas, maaf tidak menepati janji untuk segera berkabar,ternyata apa yang aku lalui tak seringan yang aku bayangkan. Tapi, intinya aku baik-baik saja! Aku bahkan belum punya keberanian bercerita apa yang aku alami dengan seluruh keluargaku. Tapi aku janji, segera! :). Mas, pasti mas tahu apa yang harus aku lakukan saat ini….aku benar-benar butuh pendapat mas saat ini, aku gak tahu apa jadinya saat aku sampaikan tentang kondisiku saat ini. Uughh…andai mas bisa bantu aku saat ini, aku gak akan segelisah ini. Doakan aku mampu segera kumpulkan seluruh keberanianku untuk berterus terang dengan keluarga di Jakarta, ya! Anyway, apakabar Yusuf, tentu dia sudah pandai melakukan banyak hal ya? Walau tak pernah tahu benar wajahnya, aku selalu membayangkan Yusuf punya wajah seteduh wajahmu, senyuman sehangat senyuman Tasya, ah andai bisa memeluknya! ciumkan dahinya untukku ya, mas! InsyaAlloh kalian bertiga selalu dalam dekapan kasih sayang Allah SWT”

“Dear mas, akhirnya kemarin aku berterus terang pada seluruh keluargaku. Sebenarnya yang mendorongku adalah tim dokter yang sudah seperti keluargaku di sini. Merekalah yang mengajariku bagaimana berbagi kabar ini dan tidak menyebabkan keluarga di Jakarta panik. Orangtuaku, mas Kevin, abang, dan anak-anak akan menyusul menjenguk ku di sini, senangnya! Aku minta sekalian mereka berlibur di sini sampai aku selesaikan pendidikanku yang tinggal selangkah lagi. Berharap sangat mas ada di sini, banyak tempat yang pasti mas suka….tempat dimana kita bisa sekedar duduk diam, doing nothing but just enjoying time and place. Mungkin ini juga saatnya aku berterus terang sama mas apa yang aku alami di sini. Masih ingat nyeri kaki yang aku bilang rematik, dan aku menertawakannya karena mengingatkanku pada penyakit usia sepuh? Ternyata itu bukan sekedar rematik, tulang tungkai bawah kananku mengalami keganasan (entah apa istilahnya, sulit buatku mengetiknya dengan benar). Ingat saat aku minta didoakan? Aku menjalani amputasi kaki kananku, tanpa seorang pun tahu apa yang aku jalani hari itu!! Aku gila yaaaaaaaa……….. Tapi intinya, aku baik-baik saja! Aku ingat betul dulu mas pernah bilang, berpikir positif akan membuatku baik-baik saja…dan saat aku tak kuat, mas mau jadi tempatku bersandar, sampai saat ini melalui semua emailku, mas juga bilang cinta dan sayang mas akan selalu manjagaku 🙂 terimakasih mas! Tolong sapukan ciumanku ke pipi Yusuf, semoga kalian bertiga selalu saling memiliki dalam rengkuhan sejuk Allah SWT”

Email Nadia terakhir selesai dibaca, pikir dan rasa John berselubung hangat dan indahnya cinta Nadia, gadis kecil yang ia sayangi sepenuh hati sejak dulu, bahkan ia bukan lagi sekedar gadis kecil saat ini. Nadia, mataharinya, tak pernah berhenti memancarkan terang dan berbagi hangat, walau segenap pintu hati telah ia tutup, ruang hatinya tetap terang dan hangat. Nadia, malaikatnya, tak pernah berhenti bersabar mengetuk segenap pintu hati yang terkunci, ruang hatinya tetap ceria dengan sapaan nya yang penuh bahagia. Nadia, belahan jiwanya, tak pernah berhenti mencintai dan menyayangi belahan lain jiwanya yang menjauh, belahan jiwa yang ia miliki tetap dalam pelukan Nadia. Airmata John bergulir, melewati tulang pipinya, namun bibirnya terkembang senyum, dengan yakin jari-jarinya meng klik icon reply…..ya! John memutuskan, tak akan lagi tinggal dalam bekunya diam, begitu banyak kebahagiaan yang telah di share Nadia untuknya, ia akan membayar setiap email Nadia dengan kebahagiaan yang Nadia pantas dapatkan. Sayup-sayup terdengar lagu Endless Love di layar kaca yang sedang menayangkan film seri Glee.

Bekunya diam telah mencair oleh hangatnya doa dan cinta, matahari.

[author] [author_image timthumb=’on’]http://draguscn.com/wp-content/uploads/2011/08/mila.jpg[/author_image] [author_info]Milacitra adalah seniman yang terperangkap dalam tubuh seorang dokter yang juga dosen. Sepertinya kalo dia mau, Mila bisa bikin novel. Teman sejawat dan juga satu angkatan ini menggambarkan dirinya sebagai ex-coffee-freak, moody by its nature, book-lover, movie-goer, 80’s music-fan dan semi-sanguine. Meski saya agak merasa takaran semi sanguine dan ex-coffee-freak kurang tepat buat dia. Mila adalah sahabat.[/author_info] [/author]

Diam (III)

loveletters

Tak terasa sdh 4 semester dilalui Nadia di Perancis, komunikasinya dengan ayah dan ibu, mas Kevin, kakak satu-satunya tempat ia bermanja, bang Ken suaminya selama hampir 17 tahun, Hanna dan Rara kedua malaikat cantiknya, tak pernah putus setiap harinya. Demikian juga sebuah email setiap hari ia kirimkan untuk John yang masih bersikukuh dengan diamnya.

Nadia bahkan mengirimkan kado untuk John saat Kevin bercerita bahwa John baru saja dikaruniai seorang jagoan cilik rupawan bernama Yusuf, teriring doa untuk Yusuf dan Tasya mamanya.

Sementara itu, di belahan bumi lainnya, tepatnya di kota sejuk (yang kini padat dan tak lagi pantas disebut sejuk) Bandung, John sibuk mengurus bisnisnya melalui salah satu telefon genggamnya yang hanya Tuhan yang tahu berapa banyak jumlahnya. Tasya sambil menggendong Yusuf, menyeduh secangkir kopi untuk suaminya sebagai pelengkap sebatang rokok yang terselip di bibir John. Setiap orang yang mengenal keluarga ini, selalu memuji mereka akan kerupawanan fisik dan hati mereka, sepasang suami istri yang serasi dilengkapi seorang anak rupawan pula. Sempurna!

[one_third][quote]tak sepatah kata terucap dari bibir John, Tasya tahu itu artinya suaminya sedang tak ingin diganggu, maka ia beringsut ke kamar sendiri.[/quote][/one_third]

[two_third_last]

"Mas! salah satu hp mu di kamar bunyi, di layarnya tertulis nama Kevin, mau kau jawab?" Tasya menghampiri John yang masih sibuk mengutak atik motor gede kesayangannya. "aahh palingan juga si Kevin lagi on the way to Bandung…nanti sajalah, nanggung nih" John berucap sambil matanya tetap tertuju pada motornya. "Mas! pasti penting tuh! Mas Kevin sudah lebih dari 5 kali miskol" John meletakkan cangkir kopinya seraya berjalan ke kamarnya…"oya? masa sih?" Tasya menyerahkan hp ke tangan John "telpon balik, mas, jangan-jangan sangat penting, toh sudah lebih 2 tahun ini kalian jarang berkabar kan? pasti kali ini sangat penting"

[/two_third_last]

Jemari John sibuk menekan nomor Kevin "John!!! akhirnyaaaaaa…..susah benar sih mengangkat telfonku? masa aku harus nyupir ke Bandung untuk berbicara denganmu? hufthh" omelan Kevin didengarkan  baik-baik sambil tersenyum oleh John "sabar bos….kok ente kayak bini yang dicuekin lakinya aja…mrepeeeeet gak karuan! hahahahaha apakabar bro! Long time no see! Bagaimana kabar ayah ibu? Nadia dan Ken serta dynamite duo Hanna dan Rara?" suara John sedikit tergetar menyebut nama yang lebih dari 2 tahun tak ia sebut sama sekali. "Aku telfon kau karena aku mau pamit, kami sekeluarga besar akan ke Perancis dan seperti nya akan menetap lama di sana" John tersentak kaget "oya?? dalam rangka apa bro? owh pasti Nadia wisuda ya? atau maju desertasi? Wah selamat ya!" tak terdengar jawaban di seberang sana beberapa saat "Kev, kami ke sana dalam rangka mensupport Nadia, sudah sekitar 6 bulan ini ia sakit, tim dokternya meminta kami menemui mereka" bagai lumpuh kedua lututnya, John terduduk di lantai terasnya, rokok di sela jarinya terjatuh entah kemana "Nadia sakit? sakit apa? Kenapa kau tak beri tahu sejak awal? parahkah?" Kevin mendengar getaran suara sahabatnya sama seperti getaran suaranya saat mendengar berita bahwa adiknya sakit nun jauh di sana "Nadia bilang dia masih suka berkabar denganmu via email katanya, mungkin dia tak ingin banyak orang tahu kalau dia sakit"

Demi mendengar kata "email" John tersentak berdiri setengah berlari ke kamar kerjanya untuk menyalakan laptopnya, ia bahkan lupa sedang berbicara dengan Kevin saat ia melemparkan hp-nya ke sofa. Tangannya gemetar menyambung koneksi internet….rasanya begitu lama untuk akhirnya ia bisa sign in ke alamat email yang nyaris ia lupakan. Alamat email yang ia ciptakan khusus untuk mengirim sebuah video dirinya sedang menyanyi dan menari yang saat itu ditujukan untuk menghibur hati Nadia yang tengah gundah. Begitu akun emailnya terbuka, ia terperangah betapa inbox nya penuh email dari Nadia setiap hari 1 email terkirim! Email pertama ia baca, isinya tentang kedatangan Nadia di tempat barunya disertai sebuah attachment berupa foto, menara eiffel tanpa Nadia dalam foto itu. Kemudian John beranjak ke email kedua…masih berisi tentang betapa excited nya Nadia di sana….isi email-email ini tak jauh beda dengan bbm nya dulu…walau tak terjawab satupun, Nadia setia mengirim bbm yang selalu disertai emoticon smile. detik berlalu cepat, beralih ke menit dan tanpa terasa jam bergeser, John tak beranjak dari tempat duduknya, matanya terpaku pada layar monitor membaca email Nadia entah yang keberapa. Di setiap emailnya, Nadia selalu menulis "semoga mas dan Tasya selalu dalam lindungan Allah SWT"

Tasya menghampiri suaminya, merangkulnya dari belakang "Mas, sudah larut malam, tidak capek?" tak sepatah kata terucap dari bibir John, Tasya tahu itu artinya suaminya sedang tak ingin diganggu, maka ia beringsut ke kamar sendiri. John tak kuasa berhenti membaca email demi email, ia bahkan dapat merasakan energi bahagia yang terpancar dalam setiap rangkaian kata Nadia di semua email nya. Sampai pada satu tanggal sekitar 6 bulan lalu….beberapa tanggal terlewat tanpa email…Nadia bagai diam seperti hal nya John menutup rapat mulutnya untuk Nadia lebih 2 tahun ini…John sedikitnya sekarang mengerti apa rasanya "mendengar" orang lain diam

[button link=”http://dragus.cn/cerita/diam-epilogue/” color=”silver” newwindow=”yes”] bersambung[/button]

 

 

Diam (II)

as time goes by

Hari terbilang, minggu berlalu, Nadia tetap setia berkabar walau John tak menanggapi. Membuka folder foto, folder sound, folder musik semua yang berkaitan dengan John menjadi pelipur rindu yang sangat berarti bagi Nadia. Tak sekalipun, bahkan dalam hati dan pikirannya, Nadia mengeluhkan sikap John padanya. Walau sejak peristiwa di Hotel Oranye saat itu tak sepatah katapun keluar dari John

“Kenapa, sayang, kok melamun?” tegur Ken saat dilihatnya Nadia, istrinya selama 15 tahun, termenung di hadapan laptopnya. “Gak kok, bang, aku sedang cari ide untuk menulis” jawab Nadia seraya berpaling seakan takut Ken melihat matanya yang berkaca-kaca. “Wah, abang harus jadi orang pertama yang membaca tulisanmu nanti, ya” ucap Ken sambil mengecup kepala Nadia.

Nadia habiskan sebagian besar waktunya di depan laptop….sampai satu saat matanya tertumbuk pada satu kesempatan, beasiswa S3 di Perancis! Nadia mulai berpikir untuk meneruskan studi nya, apalagi bidangnya sesuai dengan kecintaannya terhadap menulis. Akhirnya ia memutuskan untuk berdiskusi dengan Ken tentang kesempatan ini dan nasib kedua putri cantik mereka, Hanna dan Rara.

[one_third][quote]Diamnya John tak pernah membuat Nadia berputus asa, ia begitu yakin satu waktu nanti John akan menemukannya kembali, menemukan orang yang ia sayangi belasan tahun lamanya[/quote][/one_third]

[two_third_last] 

Beberapa bulan kemudian, di satu pagi, Kevin beserta kedua orang tuanya hadir di rumah adiknya untuk melepas kepergian Nadia ke Perancis. Saat Hanna dan Rara sibuk berebut bercerita kepada eyang mereka tentang bagaimana mereka membantu mamanya berkemas, di beranda Nadia menghampiri Kevin yang sedang menyulut rokok, yang entah keberapa di pagi itu. “Mas, masih sering kontak dengan John?” suara Nadia sedikit bergetar saat menyebut nama John. “Ya, tapi nggak se intens dulu, dia sedang sangat sibuk dengan bisnis barunya, ada apa? Bukannya kalian sering ngobrol via bbm?”

[/two_third_last]

Kevin tak sedikitpun memperhatikan mata Nadia yang menerawang kosong… “Sama seperti mas, aku juga sudah jarang kontak karena sepertinya dia sangat sibuk” bibir Nadia tergetar berucap, ia tahu ia bohong karena selama ini ia selalu berkabar via bbm walau tanpa respons John. Tiba-tiba Kevin memeluk erat adiknya dari belakang “Hayoooo sudahlaaah jangan bicarakan John lagi, adik kecilku ini kenapa harus pergi begitu jauh??” Nadia membalikkan badannya dan memeluk erat Kevin sambil terisak, “Hey bidadariku….kenapa menangis??? Sudah kangenkah sama mas mu yang ganteng dan baik hati ini??” Kevin tertawa menghibur tanpa tau penyebab tangis adiknya.

Dalam pesawat yang membawanya ke negeri tempat impiannya akan diraih, Nadia berpikir perlukah John tahu kemana ia pergi? Tapi sekali lagi ia sadar, di manapun ia berada, sepertinya buat John takkan pernah ada arti beda nya…tapi Nadia bertekad untuk terus berkabar kali ini ia pastikan via email karena akan banyak cerita untuk di share nantinya.

Begitu Nadia membuka pintu kamar asramanya, ia langsung membuka laptop dan menulis email berkabar dengan seluruh keluarga dan berbicara dengan dua malaikat cantiknya via skype, setelah itu tak lupa menulis email untuk John. Hal ini terus dilakukannya setiap hari dengan cerita yang berbeda namun energi bahagia yang sama, sambil terus berharap John akan membalas satu saja email nya.

Diamnya John tak pernah membuat Nadia berputus asa, ia begitu yakin satu waktu nanti John akan menemukannya kembali, menemukan orang yang ia sayangi belasan tahun lamanya. Nadia tetap tersenyum dalam sunyinya hati John.

[button link=”http://dragus.cn/cerita/diam-iii/” color=”silver” newwindow=”yes”] bersambung[/button]

 

 

Diam (1)

jendela 2

 

[one_third]

[quote]”tak seharusnya semua tadi terjadi, mas mencintai Tasya, dan aku mencintai Ken”[/quote]

[/one_third]

[two_third]

Sejuknya hembusan pendingin udara dalam kamar hotel no 455, membuat tirai berwarna jingga di tepi kamar melambai seiring dengan cium dan peluk hangat John dengan Nadia. Suara TV yang sedang menayangkan acara lomba masak memasak pun seakan jadi musik pengiring gairah kedua pasang manusia yang tengah memadu indahnya kasih.

[two_third_last]

……..

Tersentak Nadia berucap seraya mendorong dada John “maaf mas, aku gak bisa”…. dengan nafas memburu John merayu “ayolah sayang, tahukan betapa aku memujamu sejak dulu?”….”ya,mas, tapi jangan paksa aku, aku tidak mau dipaksa, maaf”….”baiklah sayang, aku tak akan pernah memaksamu”….

John beranjak dari pembaringan untuk menyalakan sebatang rokok … rokok pertamanya hari itu … sementara Nadia beringsut meraih pakaiannya dan memakainya dibalik selimut. “maaf ya, mas” …..”tak apa sayang” John tersenyum seraya merengkuh Nadia dalam pelukannya sambil mencium kening dan kepalanya. “maaf, mas harus segera pergi, mas ada janji dengan Tasya”

Sepeninggal John, Nadia merenung dan tiba-tiba terisak…..”tak seharusnya semua tadi terjadi, mas mencintai Tasya, dan aku mencintai Ken”

Angan Nadia pun melayang belasan tahun lalu saat kakaknya, Kevin, memperkenalkan seorang teman yang kemudian menjadi sahabat baiknya hingga kini, John. Perawakan John yang tinggi, gagah, berkulit cerah, berhidung mbangir, membuatnya terpesona. Ternyata John pun jatuh hati saat pertama diperkenalkan dengan Nadia, gadis kecil, dengan rambut terurai di bahu, menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan wajah tersipu. Namun semuanya berhenti di saat itu karena masing-masing dari mereka tenggelam dengan kesibukan studi yang mendera.

Sampai akhirnya 4 tahun kemudian Nadia memutuskan menikah di usianya yang masih belia, John tak sanggup berbuat apa-apa karena statusnya yang masih mahasiswa saat itu.

15 tahun berjalan, John tetap mengenang Nadia, adik sahabat terbaiknya. 15 tahun berlalu, Nadia tetap menyimpan John dalam hatinya. Pesatnya tekhnologi akhirnya menyatukan mereka kembali melalui satu jejaring sosial, bertukar nomer telpon sampai bertukar PIN BB. … percikan bara kembali menyala … saat Nadia telah memiliki Ken dan John telah memiliki Tasya.

Sejak peristiwa di kamar Hotel Jingga hari Sabtu 14 Juli, Nadia tak pernah mendapat kabar sedikitpun dari John …. bagai hilang ditelan riuhnya kehidupan di kota metropolitan.

Hari demi hari Nadia menanti kabar, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk menyapa melalui bbm ….. satu hari berlalu … belum juga ada respons … Nadia terisak dipelukan sahabatnya tanpa berani bercerita apa penyebabnya … sang sahabat hanya berpesan “apapun atau siapapun membuatmu hancur berkeping, tetaplah berbesar hati, tetaplah tersenyum, karena kau tak pernah tahu bahwa kebesaran hatimu, senyuman hangatmu yang tak pernah pudar mampu membuat orang di sekitarmu bahagia”…. Nadia tetap terisak …. “Nadia sayang, menangislah sepuasmu sekarang, setelah itu, tegakkan kepalamu, lihat baik-baik….senyumanmu membuat dunia orang-orang yang menyayangimu tetap berputar …. ayah ibumu, kakakmu, suamimu, anak-anakmu, dan kami sahabat-sahabatmu”…. Nadia menyimak sambil mengusap air matanya, “ya, aku sudah puas menangis, aku akan tegakkan kepalaku dan tetap menebar senyumku, demi orang-orang yang menyayangiku”

Bahkan sampai detik ini sang sahabat tak pernah tahu apa yang di alami Nadia, namun ia bahagia melihat sahabatnya yang bagai boneka tak bernyawa kembali ‘hidup’.

Tak sedetikpun Nadia melupakan John, tapi kali ini ia mengingatnya sambil tersenyum. Terbayang di benaknya tentang John yang menyanyikan lagu di depannya sambil mengajaknya berdansa …. terbayang di pikirnya tentang John yang selalu mampu membuatnya tersenyum bahkan tertawa saat air mata mulai menggenang …

Sampai detik ini tak sepatah kata terdengar dari John….dalam hilangnya kata-kata John, dalam diamnya hati John, Nadia tetap tersenyum karena ia tahu John akan selalu menyayanginya sebagaimana ia menyayangi John…

Dalam diam, Nadia terus berkabar, terus bertegur sapa, karena ia tahu, dalam hati John menjawab semua pertanyaan dan tegurannya panjang lebar walau dengan tanpa kata-kata sepatah pun.

Walau hati dan mulut John terkatup rapat, Nadia tak pernah surut kebahagiaannya…tak pernah absen mengirim dan bertanya kabar …. karena ia tahu … persahabatan 19 tahun lamanya takkan pudar dengan DIAM …

[button link=”http://dragus.cn/cerita/diam-ii/” color=”silver” newwindow=”yes”] bersambung[/button]