Are You Smarter Than A Fifth Grader ?

47 comments

AcademicStress

Kemaren-kemaren waktu hari-hari pertama Ihsan duduk di bangku SD, sekitar 3 bulan yang lalu, saya merasa bangga. Bagaimana tidak, sekolah tempat Ihsan sekarang jadi murid SD termasuk yang dianggap bermutu untuk sekelas ibukota kabupaten.

Ihsan masuk disana dari TK, dan melihat dia senang dengan nyanyian, permainan dan lainnya yang memperkaya pengetahuannya – terutama verbal, tentu saja kami orangtua senang. Mendengarkannya melantunkan lagu berbahasa Inggris meski kadang-kadang pengucapannya masih cadel, berbagai lagu untuk meningkatkan kosakata bahasa arab terasa enak didengarkan bila dia sedang bercerita. Note

Sekarang Ihsan sudah SD kelas I, dan berhubung fungsi tarbiyah sudah sepakat saya dan isteri disandang Ibu, maka Ihsan lebih sering belajar dengan mamanya. Saya baru menyadari bahwa pelajaran yang diterimanya far advance dibandingkan yang saya terima dulu setelah dia mulai ulangan. Dan mamanya Ihsan kebetulan juga sama dengan saya sedang sibuk-sibuknya perencanaan untuk tahun 2011. Maka kami mulai berbagi, dan saya mulai melihat berbagai pelajaran Ihsan yang menurut saya ‘sangat berat’ untuk usia sedemikian. Nerd smile

Entah karena memang kemampuan anak SD sekarang memang bisa diupgrade sedemikian rupa, atau karena otak mungkin dianggap sedang dalam tahap perkembangan yang optimal untuk menerima beban pelajaran demikian rupa. Saya teringat saya baru belajar yang namanya deret di SMP. Dan beberapa soal matematika Ihsan ada yang sudah dalam bentuk deret. Kami kewalahan mengajarkan konsep jam, sementara soalnya bukan lagi jam berapa tapi sudah pengurangan dan pertambahan jam dan menit. Soal bahasa komprehensif dengan pelajaran lain, soal matematika kadang dalam bahasa Inggris. Hafalan surah pendek dengan arti dan pemenggalan. Kosa kata bahasa arabnya bahkan saya harus googling pada saat mendengarkan mamanya memberikan tebakan kepada Ihsan malam ini karena besok UTS. Yaiyy .. Punk

SD kelas I rasanya dulu itu pelajarannya adalah main layangan, main bola, main kasti, pengenalan alfabet, belajar mengeja, main perang-perangan, main galasin, belajar angka .. bwahaha tentu saja sedikit lebay .. tapi intinya saya cuma khawatir anak saya kelebihan beban pelajaran dan malah menjadi stress – academic stress.

Saya adalah dokter yang sangat menggemari masalah tumbuh kembang, di masa 0-6 tahun saya sangat yakin bahwa itu adalah masa berkembangnya otak secara optimal. Dan harus mendapatkan nutrisi dan stimulasi yang memadai agar tumbuh kembangnya pun bisa baik. Tapi melihat pengalaman Ihsan seperti ini bagaimanapun sebagai orangtua yg baru tahu, saya dihinggapi khawatir.

Bahan Bacaan saya malah menunjang kekhawatiran ini :

Well ada yang mau share dengan saya ? Open-mouthed smile

dragus.cn, other pieces of mine

Advertisements

47 comments on “Are You Smarter Than A Fifth Grader ?”

  1. hmm, mgkn mw share ttg opini saya saja. sbnrny saya jg sependapat dg anda. beban pendidikan utk pendidikan dasar saat ini memang sangat berat jika dibandingkan dg jaman dulu.
    bahasa inggris, matematika, bahkan IPA dan IPS pada sebagian wilayah ada yg sdh diberikan sedini mgkn. (seingat saya, dulu IPA+IPS baru diberikan di kelas 4 SD). yang jadi pertanyaan saya adalah, apakah perancang kurikulum di indonesia sudah memperhitungkan apakah beban tersebut sesuai dengan kemampuan tiap anak?

    1. Ya harusnya bila ada semacam penelitian atau literatur ilmiah yang digunakan untuk menunjang pemadatan kurikulum tersebut bisa disosialisasikan terbuka kepada masyarakat luas. Sehingga tidak terdapat kekhawatiran.

  2. sya jg kaget dg pola pendi2kn jman skarang~10th trakhr~ beban materi mulai dr sd menurt sya memicu kinerja otak berpikir kognitif akademis yg over load,d satu sisi snang jg dg anak2 yg cpat tanggap tp d sisi lain miris jg mreka seakan tkejar2 nilai,entah mreka benar suka blajar dn mau bsusah payah ato tpaksa tratur blajr agr tak d urutan bawah…
    blm lg kontrol ortu yg tsangkt waktu krja anak tkadang harus dwasa~mandiri mencari alternatif solusi laen sndiri yg bralih pda pgaulan crita aktf antar tman yg tkadang tlalu dwasa dlm mencurahkan isi hati~masalah pcintaan anak sd jg bkin kaget~mreka tmbuh dg cepat mrespon hal2 baru yg ortu pun jarang update..
    cra tbaik yg bsa d pake hanya mreka punya waktu khusus bsama kelwrga yg memantau dari a sampai z ats smw yg d alami anak2 ini,hanya buth kebijakan ortu mjd pndengar yg baik dn sdikt waktu bsama bermain ato refreshing rutin satu jam..

  3. Saya ingin beropini jg saya bukan orang yang ahli/bkn jg yg mengerti mengenai kebijakan kurikulum jaman sekarang yg “wow” berat sekali.
    Kadang berfikir kurikulum tersebut diadopsi dari mana?
    Apakah perkembangan otak anak2 jaman sekarang juga berkenmbang lbh cpt dr org jaman dulu?
    Krn secara age development,kata teori anak umur segitu tidak boleh diberikan beban yg beratmalah nanti menimbulkan stress pada anak,

    Maaf kalau krg berkenan

    1. Apa mungkin karena pemberiannya tidak mempertimbangkan rasa senang anak lagi sehingga menimbulkan stress pada anak ya ?

  4. Sy ibu dari 2 anak . Yg sulung kelas 9 dan si bungsu kelas 4 sd . Akhir2 ini sy sering ngedumel dlm hati melihat anak2 sy persis spt pegawai pabrikan..yg dtg pagi pulang sore . Stlh menclok di rumah sebentar dilanjutkan les..les..dan les..Pelajaran mereka..?? Wuuuih jgn ditanya . Unt yg kelas 9..sy sdh angkat tangan . Nul Putul..gak nyangkut sama sekali . Unt yg kelas 4 sy masih bisa laaah yg sebangsa Inggris , B.Ind..IPS..IPA…tapiiiiiii ..unt Ppkn dan Math..sy betul2 KO !FPB dan KPK yg dulu sy pelajari SMP..skrg sdh ditimpakan di kls 4 . Sy gelagapan dan merasa bodoh krn oon ketika ditanya anak kelas 4 ini .Apa kt dunia ?? Akhirnya dipanggilah guru les . Tiap hari unt semua pelajaran di sekolah . Ditambah 1 guru agama unt mengajar ngaji dan jg pelajaran agama di skull..ditambah lg les inggris spy gak kagok kalo ditanyain turis..dan ditambaah Kumon..unt ketrampilan berhitungnya shg gak lemot kayak umiknya…Pffff…sy hanya bisa minta maaf dlm hati..unt semua yg sdh sy programkan unt mereka . Sy tau mereka capek .Tp sy tdk bisa mengajari mereka .Dan takut mereka ketinggalan . Smg mereka bisa merasakan sisi positifnya dan mau memaafkan saya .

  5. Sungguh dilema kita yg menjadi org tua dijaman skr.

    Skr banyak sekali sekolah2 yg membuat standar2 tertentu hanya utk membuat para ortu yg kurang informasi akan ilmu perkembangan anak tertarik.Exm:sekolah dg bilingual-trilingual baik setingkat playgroup:TK ataupun SD.

    Padahal dr ilmu pendidikan anak&Linguistik(bahasa) sy tahu,sebenarnya tdk diperkanan anak pada usia balita perkenalkan lebih dari satu bhs saat berkomunikasi baik verbal-non verbal.Sebab khawatir anak akan mengalami kebingungan.Anak sblm usia 6thn hrs menerima bhs “ibu”secara sempurna.
    Kemudian anak dibawah usia 6thn sebaiknya tdk dipaksa utk bisa membaca.Tapi kenyataannya banyak sekolah TK memaksa anak didiknya utk bs membaca-menulis-berhitung dg baik.

    Akhirnya banyak ortu yg jg kebingungan.

    Blm lagi sekolah dasar Islam yg menuntut hafalan&setoran surat2 setiap minggunya.

    Walau anak sy saat ini msh duduk di TK A ada jg ke khawatiran yg sama dgn anda.

    Smoga kita sll diberi semangat utk membesarkan anak2 yg berkualitas.Amin.

    1. Terimakasih. Amin .. Ada satu catatan saya .. pada saat di TK dia seperti enjoy betul dengan “pelajaran” .. nah sekarang meski belum melihat tanda-tanda stress, tapi yang jelas waktu bermainnya jauh berkurang karena dipakai untuk istirahat ..

  6. Dok, begitulah yg jg pernah sy alami saat anak2 sy kelas 1. Skarang anak sy kelas 4 dan 5. Kls 4 pel sains, kata temen sy yg FK, sama dgn pel anatomi smt 1. Pel PKN, ttg tugas2 pelaksana negara, dr kelurahan hingga eksekutif, legislatif , dll…Sy pun ingin banget bertemu dgn si pembuat kurikulum, yg notabene org dewasa..pengen btanya apa dasarnya anak2 INA sejak dini sdh dijejali pel2 yg menuntut nalar tinggi. Apakah spy menang olympiade? Dok, smoga mas ihsan bisa menghadapi ya. Kita, sbg orangtua pendamping belajar mrk di rumah pd akhirnya hrs memberikan kenyamanan saat mereka belajar. Semangat mas ihsan..

    1. Makasih, Jeanie. Hiyya .. kemaren seorang temen dokter cerita juga anaknya (4 SD) ditanya apa nama selaput pembungkus jantung. Apa perlunya anak sekecil itu diajari perikardium? Asal dia sudah tahu bahwa ada jantung dengan fungsinya, bukannya udah cukup? Apa barangkali begitu lulus SMA udah jadi dokter, insinyur, SE, SH, bwahaha ..

  7. Terus terang saya tidak setuju dengan kurikulum gila jaman sekarang. Anak-anak seolah memang didisain untuk stress, berumur pendek, dan kelak akan hiperleksia. Kemanusiaannya sudah direduksi sejak awal. Saat ini saya sedang berusaha keras mengumpulkan harta yang banyak sehingga saya tidak perlu lagi menyekolahkan anak-anak saya di bawah kurikulum yang kacau ini. Saya bahkan berencana mendidik mereka sendiri. Sebelum aqil baligh dan siap mengusai ilmu tentang Ma’rifatullah (ini ilmu paling penting yang harus dikuasai semua orang), anak-anak sebaiknya diasah 7 kecerdasannya (multiple intelligences) secara berimbang. Setelah itu ajarkan mereka untuk bisa survive di berbagai tempat di dunia ini. Ajari mereka keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup. Selebihnya biarkan mereka mengasahnya sambil mempraktekkannya. Semoga kelak mereka menjadi insan yang paripurna. Amin!

    1. Iya mas Aris, saya agak sedih ngelihat sepeda yang saya belikan untuk mas Ihsan pas ultah ke 6. Waktu itu sepedanya ngga bisa dinaikin dan hanya dengan bantuan saja karena ternyata masih agak ketinggian. Sekarang sepedanya lama nganggur karena sore Ihsan masih tidur, bangun jam 4 sudah dicereweti utinya untuk shalat, mandi, sambil mempersiapkan pelajaran untuk malam dan besok hari .. setuju kecerdasan majemuk ! 😀

  8. menurut saya, inilah yang menjadi masalah pendidikan di negeri ini, lebih mengutamakan nilai akademis / hard skill dan meninggalkan soft skill (nilai2 moral,dsb.). buat apa jadi orang cerdas tapi tidak bermoral? pendidikan di sini seperti mendikte, mengekang pendapat. akan lebih baik jika menjadikan kelas sebagai forum diskusi masalah (seperti di film “Sang Pencerah”, “Upin Ipin”, dsb.)

  9. kemaren sempet jadi guru les, pesertanya cuma anak SD
    dari TK ampe kelas 6SD
    kaget juga ngajarnya, coz kurikulumnya dah wow
    anak kelas 1SD ja yg baca tulisnya masih terbata2 pelajarannya dah banyak ceritanya, pelajaran agamanya juga bahasa arabnya dah disambung (padahalkan ga semua anak dah bisa baca lancar)mana kalimatnya sering panjang2
    berdasarkan pengalaman, akhirnya dari sekian pelajaran, rata2 anak SD lebih suka pelajaran matematika coz jarang ada kalimat panjang n hanya menggunakan jari 😀

    1. hahahaha .. ada juga intermezzo-nya .. hehehe .. iya ya .. padahal anak saya tuh verbal linguistik banget .. waktu ditanya pelajaran apa yang disukanya .. dia bilang Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Matematika. Mungkin karena ‘bahasa’ yg terakhir itu paling ‘ringkas’ ya .. hehehe

  10. Pak Agus, sudah lama saya mendengar masalah ini. Kebetulan anak saya masih di bawah 1 tahun, jadi saya masih ada kesempatan untuk bersiap2 mengatur strategi.

    Sudah sejak sebelum punya anak, saya dan istri sering mendiskusikan kemungkinan homeschooling. Saya dengar Kak Seto juga menerapkan homeschooling pada anak2nya. CMIIW. Sekarang posisinya masih 50-50, antara homeschooling dan sekolah biasa.

    Selain mempertimbangkan homeschooling, saya belum ada opsi lain, langkah yang bisa dilakukan menghadapi kondisi ini.

    1. Tolong sekalian dong carikan strategi untuk bapak-ibu yang kebablas seperti saya ini .. 🙂 Ya saya sudah lama baca buku HS-nya kak Seto, tapi itu bukannya perlu orangtua lebih intens mengawasi anak .. lah saya ini malah berdua bekerja dan pulang sore ..

    2. Hehehe… Kalo saya pakar pendidikan, mungkin saya bisa bantu carikan.. Eh tapi kata orang, orang tua adalah pakar pendidikan anaknya 🙂

      Kesulitannya, kita semua memandang masalahnya ada dalam sistem, yang ada di luar jangkauan tangan kita sebagai orang tua. Apa ya mau melawan sistem?

      Seorang teman dikeluhi anaknya soal beratnya pelajaran di sekolah. Dia bilang sama anaknya, “Nak, pergi ke sekolah itu yang penting belajar. Asal kamu sudah belajar, dan menurutmu itu yang terbaik, itu sudah cukup. Apapun nilai yang kamu dapat, asal kamu sudah berusaha yang terbaik, itu cukup.” Hasilnya? Di tengah segala keluhan dia dengan sistem pendidikan yang ada, anaknya malah mendapat nilai2 yang jauh dari mengecewakan.

      Gimana? 🙂

    3. hmm ya .. tidak membebani anak dengan keharusan mendapat hasil, tapi prosesnya .. membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan .. saya rasa itu ya .. hhh ..

  11. Memang pelajaran skrg spt ini kondisinya, pelajaran SMP sdh msk d kls 4 SD.InsyaAllah smw bisa dilewati scr perlahan dgn cara srg melakukan latihan baik dr buku ataupun orang tua yg membuat latihan soal. Kalau sya menerapkan Sistem Folder & srg mengisi latiahan soal yg sy buat sndiri kpd anak sy, dgn metode ini sgt efektif u/membantu menghafal. U/Pkn ini masalah yg luar biasa saat ini krn ank dipaksa u/memahami sistem pemerintahan tanpa meloihat usia mereka.saya menyarankan kpd seluruh org tua membuat sistem folder, memeng ini sy ciptakan u/ anak sy. Dan Alhamdulillah terlihat hasilnya.

    1. Fan, thanks ya .. tapi sistem foldernya harus lebih dijelaskan. Mungkin di Notes Facebook, nanti kita rujuk kesana .. syapa tahu ini merupakan salah satu pemecahan masalah.

  12. kayaknya pemerintah kita khususnya depdiknas kurang arif dalam mengatur kurikulum pada anak2. Saya merasakan hal yg sama, dan masalahnya yg diajarkan pd buku panduannya kadang salah. Seperti mengajarkan bahwa nama pengukur tekanan darah adalah tensimeter. Padahal yg bener kan sphygmomanometer. Pengertian bahwa virus akan tetap ada di dlm tubuh dan akan muncul kembali pd saat saya tahan tubuh menurun, padahal hanya sebagian kecil virus yg punya sifat begitu. pernah saya tweet juga ttg hal ini dan pengen colek mendiknas, tp kayaknya mendiknas gak punya account twitter ya. Yang jadi keprihatinan adalah apa memang perlu anak kelas SD tahu ilmu sedalam itu? anak saya SMP pelajaran biologinya udah sampai guna netrofil, basifil, eosinifil dll, yg saya dapatkan di kuliah. kalo mau merubah kayaknya bikin gelombang dulu di FB atau twitter pake #kurikulumselkolah or something like that. udah bertahun2 merasa gak pas, kayaknya udah waktunya bikin gelombang pada social network agar jadi perhatian pemerintah. yuk kita mulai 🙂 Btw, Mr.Beannya suruh pindah ke samping kanan biar nulis komennya gak petak umpet ama dia ;P

    1. Mas Rizal, hehehe sudah saya pecat Mr. Beannya .. Hiyya .. mestinya selain panduan untuk anak ada panduan khusus untuk orangtua, beserta dengan cara pengajaran di rumah bagaimana seharusnya.
      Seorang SpOG yang anaknya satu SD sama Ihsan kemaren sampe bilang begini .. saya ngga yakin di sekolah itu gurunya pinter-pinter .. kalo ada muridnya pinter itu sih karena orangtuanya kebetulan bisa mengawal anaknya, mengajarkan, dan membimbing .. jadi perlu orangtua yang telaten bahkan juga cerdas .. bwahaha .. agak kebablas .. tapi more or less ada benernya juga .. hehehe..

  13. Wah, repot ya pak jadi orang tua… satu anak aja sudah begitu rumit di benak kita untuk kebaikannya..

    apalagi guru yang baik mungkin ya pak? ada puluhan anak didik yang dia harus bertanggung jawab membawa mereka ke arah kebaikan. Belum lagi ketika ada kebijakan dari atasan yang bertentangan dengan nurani pendidik, yang membuat mereka terjepit…

    he… jadi curcol saya..

    jujur saja pak, soal ilmu kependidikan secara luas, saya tidak begitu menguasai. Saya masih harus banyak belajar untuk itu.

    Hanya saja, pendidikan anak, memang bidang yang terus berkembang, dan sulit diukur benar salahnya. Kenapa? Karena yang diukur adalah perkembangan non-fisik manusia. Sementara, manusia jarang ada yang sama secara mental dan psikologi.

    Jadi hasil penelitian A belum tentu sama dengan hasil penelitian B, meskipun faktor yang ingin diukur sama. Karena subjek penelitiannya berbeda.

    Karenanya wajar saja mungkin pak, jaman kita sekolah dulu sistem pendidikannya berbeda dengan sekarang.

    Dari sisi pendidikan bahasa (yang saya kebetulan sekarang dipaksa mendalaminya 😛 ) misalnya. Dulu mana ada bahasa inggris di SD. Sekarang diajarkan karena penelitian terakhir menunjukkan, penguasaan bahasa paling optimal ketika dilakukan seiring pembagian kerja otak kanan dan otak kiri. Makanya, kalau sudah diatas 12 tahun, susahnya ngajar anak ‘pronounce’. Tapi anak yang belajar bahasa inggris dari usia balita, wuih, logatnya dah kaya bule.

    Apa lagi ya? Kepanjangan kayanya, saya malah bingung sendiri..

    Cuma saya pribadi berpendapat pak, sebagian besar sifat dan prilaku negatif anak memang di dapat dari sekolah. Orang tua harus SANGAT berhati-hati mencari sekolah buat anaknya.

    1. Komentar yang saya tunggu – tunggu memang nih, om Mansup .. saya setuju .. bahkan pendidikan perilaku lebih mudah diajarkan pada anak usia dibawah 6 tahun .. karena perkembangan otaknya memang sampai disana .. yang masalah bagi saya adalah .. mereka bener-bener sekarang jadi tidak punya waktu bermain .. 😦
      Seandainya saja tidak terlalu padat mungkin orangtua tidak akan berprasangka anak kehilangan waktu, anak tidak gembira, dll ..

  14. hmmmm..knapa masih kecil (belum ada 7 tahun) udah masuk SD ..??
    anakku masuk usia SD umur 7 tahun lebih..dan saya lihat dia siap dgn semua materi sekolahnya (kbetulan sekolah yg pngantarnya & pelajarannya pake english smua) … walaupun dia gak sekolah TK atau sejenisnya….(hanya bermain di rumah..)
    karena secara mental dan kejiwaan..menurut saya, usia 7 atau 8 tahunlah seorang anak siap mengikuti pelajaran sesulit apapun..(asal tidak ada tuntutan berlebihan dari ortu)…mereka akan mandiri, survive, dan sedikit dewasa (setidaknya tau harus bersikap)…
    aaghh..ini mungkin hanya pengalamn keluarga saya…tapi 2 anak saya smua saya didik sama…tidak memaksa mereka untuk menjadi yang terpandai…dan tidak mempermasalahkan nilai minus…heheheh
    menurut saya..kita tidak bisa mengubah kurikulum atau pembelajaran di sekolah (sekeras apapu kita teriak)…so kita atur aja pola asuh anak kita…lebih banyak bermain (jangan les mulu..hehehe) dan selalu membuat anak bahagia…biar anak mempelajari kemampuan dirinya sendiri tanpa ada tekanan dari ortunya…..
    maaf..kebetulan saya prnah ikut pelatihan system BCCT (pmbelajaran dgn beyond center n cirlcle time)..dimana anak dibiarkan menemukan sendiri kemampuan terbaiknya..hanya pada satu atau dua hal saja…
    karena anak kita kan manusia biasa..tidak akan hebat di semua hal…(bukan superman…hehehehe)…
    okey..ini sebenarnya saran temen dokter pediatric dari german..sekedar sharing …swaktu saya mngeluhkan hal yg sama…
    dan saya setujuuu……
    cuekin aja sekolah mau gimana…buat anak happy saat dia merasa sedih dan kesulitan dgn pelajarannya..siapa tauuu..ntar dia jadi Thomas Alfa Edison….hehehehehe…kan swaktu sekolah dia dianggap bodoh….xixixixixixix

    1. Lebih karena cuma pindah ke sekolah di sebelahnya .. masuk TK pas usia 4 tahun, 2 tahun kemudian dah masuk SD deh .. tapi saya dah ukur tangannya bisa melingkar sampe telinga sebelahnya lho .. hehehehe 🙂
      Saya kayaknya harus ikutan juga itu BCCT .. dimana ya dapat infonya ..

  15. Sy juga mengalami kesulitan ketika anak pertama saya di bangku sd kelas I. Bagi saya memberikan pemahaman ttg pelajaran kepada anak sd itu sangatlah sulit sehingga anak2 saya saya ikutkan les tambahan semenjak kelas 1 sd…..akibatnya ketika anak sy skg berada di kelas 6 sd, menghadapi pelajaran seperti menghadapi hantu !
    Baru saya sadari ada yang salah dengan sistem pendidikan dasar kita. Coba bayangkan hanya untuk mendapatkan kelulusan di 3 mata pelajaran di UAN, anak saya harus dijejali bertumpuk pelajaran yang saya katakan tak berguna…..
    Kenapa pemerintah tidak merancang pendidikan yang simple, pendidikan yang sesuai dengan tumbuh kembang anak ….
    Sekarang pola mengajar saya kepada anak ke2 saya saya terapkan pola belajar sambil bermain, pola belajar sambil berolahraga, pola belajar diskusi. Saya tidak menekankan dia harus dapat nilai bagus, sy menekankan pola belajar “mengerti”, “paham” tentang apa yang dia pelajari ….dan hasilnya untuk anak kedua saya tidak mengecewakan….rangking 1 atau 2 tanpa banyak saya cekoki dengan soal atau hafalan….
    sekarang saya mengajak anak belajar dengan media termasuk internet….misal belajar ipa, mereka tak harus menghafal tapi saya buka situs yang menggambarkan ttg pelajaran ipa mereka dg gambar2 yang indah….hasilnya daya ingat mereka lebih lama daripada menghafal dari buku karena saya pikir tulisan2 di buku pelajaran terlalu sulit untuk mereka pahami….
    Semua ini adalah kesalahan pemerintah dalam sistem pendidikan kita !
    Mari teman2 kita ubah pola mengajar kita…..belajar harus menyenangkan ……
    saya juga menyesalkan banyaknya guru2 yang say katakan masih katakan masih “gaptek” sehingga tidak bisa memberikan materi pelajaran yang menyenangkan kpd anak …

    Mari lindungi anak kita dari kesalahan sistem pendidikan kita !

    1. Eh, ada Eva .. 🙂 Thanks ya Va .. sharing pengalamannya sangat membantu .. ya betul, setidaknya daripada lihat deretan tulisan akan lebih nyaman kalo dia bisa lihat gambar. Buku-buku sekarang sebenernya sudah banyak yang bergambar tapi internet tentu saja bisa dibilang gudang buku .. hehehe
      Bener banget Va .. akhirnya memang kembali kepada kita sebagai orangtua. Karena memang pada hakikatnya orangtualah yang mendapatkan amanat dari Allah untuk menjadikan anaknya sebagai kalifah Allah. Dengan kita yang mendampingi kita sudah mewujudkan tanggungjawab itu.
      Mungkin iya sekarang ini banyak pelajaran turun ke level dasar, tapi tidak dibarengi dengan kemampuan mengajar atau bahkan tidak ditularkan kepada orangtua untuk membimbing anaknya dan pelajaran jadi dibuat stressor yang dominan di sekolah, terlebih dengan ujian-ujian. Kita yg menatap layar komputer ini, sarjana-sarjana yg lebih getol cari info dan orangtua-orangtua yang benar-benar punya waktu penuh mendampingi anak mungkin masih lebih mudah mengikuti pelajaran di sekolah seperti itu. Nah yang ngga punya akses? Yang kehidupannya dah lebih banyak di luar rumah? Yang ngga sabaran memberi pelajaran kepada anak-anak .. bisa-bisa malah menimbulkan stress pada orangtua dan berujung KDRT. Bukan mustahil kan ?

  16. Selamat pagi..saya mau ikutan nimbrung nich..saya juga merasa prihatin dengan kurikulum yang diberikan kepada anak kelas 1 SD saat ini. Jika melihat ke belakang..saya masuk SD di usia sebelum 6 tahun. Alhamdulillah selalu mendapatkan prestasi di atas teman – teman sekelas hingga perguruan tinggi. Namun saya merasakan bahwa saya kurang enjoy dan kadangkala dihinggapi rasa jenuh. akibat lain yang saya rasakan ialah..saya agak malas berolahraga (sebelum menjadi fisioterapis).
    Yang lebih membuat saya prihatin ialah masa bermain anak yang merangsang motorik dan sensori integrasi menjadi lebih berkurang. Hal ini juga pasti telah dokter sadari juga. Namun seperti beberapa pendapat di atas..kita tidak bisa mengubah kurikulum. Maka menurut saya, orang tua lah yang berperan. Mungkin dapat diusahakan setiap akhir pekan selalu digunakan untuk berolahraga sesama anggota keluarga (2 jam saja), akan lebih baik bila berupa olahraga permainan dan selalu mengingatkan bahwa olahraga sangat menyenangkan dan juga bermanfaat.
    maaf bila ada yang tidak berkenan dari tulisan saya. Saya hanya sekedar mengungkapkan pendapat saya sebagai tambahan saja. 🙂

  17. Anak saya kelas 1 sd skrg,awal masuk hingga 3 bln kemarin menangis terus setiap mau masuk kelas,kurang lbh 1 jam dia baru berhenti merengek dan menangis barulah masuk ke kelas.Kebetulan saya menyekolahkannya di sekolah yg sehari2nya berbahasa inggris.ternyata itu yg menjadi problem dia sehari2 menangis,krn dia tdk mengerti artinya dan lagi byk peraturan2 yg baru dari sekolah sehingga dia merasa terbebani,maklum di tk dia hanya bersenang2.Setiap hari saya berusaha memberikan dia semangat dan memberikan contoh2 sehingga akhirnya baru 1 bln ini dia tdk menangis lagi.Jd jgn takut,lama2 mereka akan terbiasa. Jaman memang sdh berubah,dulu kelas 1 sd kita baru belajar baca,tp anak2 kita skrg sdh hrs baca. Menurut saya jika kemajuan yg didptkan si anak lbh baik saya tdk keberatan dgn kurikulum sekarang,hanya saja kita sbg ortu yg tau kondisi anak yg harus membuat sianak ada waktu bermain.Terusterang anak saya tdk pernah sy suruh belajar lg dirumah,krn pulang sekolah sdh jam 2.30 sampai rumah lgsng tidur sampai sore,stlh itu saya suruh main. Krn sy tdk mau menjejalkan dia dgn belajar terus menerus.maklum masih usia 6 thn,msh butuh bermain dan saya sekolahkan dia di sekolah yg berbahasa inggris agar dia tdk perlu lg les, jd kalaupun les saya suruh yg menunjang ketrampilan,misalnya musik atau menggambar. Kita sbg ortu yg tau bgm anak kita,tapi kita jg hrs mengerti bahwa jaman sdh berkembang lbh pesat dari yg diperkirakan, kita hrs terus membuat mereka bisa diterima di jaman yg akan dtg,namun kita jg perlu memberikan kesenangan2 utk anak2 kita,sehingga dari segi mental dan pendidikan mudah2an mereka bisa “fight” dimasa yg akan dtg.

  18. Saya pernah, dulu, mengajari menyelesaikan soal matematika adik saya yang kelas 5 SD. Saat itu, saya menyelesaikan soal tersebut dalam waktu 10 menit. Saya cukup puas, karena soalnya sangat sulit bagi saya yang waktu itu masih semester 5 di sebuah fakultas teknik, yang setiap hari ketemu dengan matematika. Pada saat soal matematika itu saya bawa ke basecamp anak2 teknik, TIDAK ADA satu pun dari teman2 saya yang bisa mengerjakan soal tersebut, padahal soal tersebut adalah pelajaran kelas 5 SD… AMAZING… Yang buat soal itu konyol sekali…

  19. untuk beberapa kekhawatiran yang dokter agus rasakan juga orangtua lainnya, sekarang saya berfikir untuk mendidik sendiri anak saya di rumah. saya biarkan mereka bermain sesuai dengan tahapan usia. pengenalan huruf angka dan hal lain tidak pernah saya paksakan pada mereka. saat ini anak tertua saya usia 3.5 tahun, semua menyuruh masuk paud, tapi saya kira apa yang dia peroleh di rumah jauh lebih banyak daripada di paud bersama teman-temannya. toh dia bisa bermain dan berteman dengan siapa saja dengan anak-tetangga.

    kurikulum indonesia, harus membuat kita para orangtua lebih waspada. jangan sampe ada penyakit baru yang muncul gara-gara academic stress…hehehe

  20. Masalah ini pernah saya lewati dikala 13-15 tahun lalu. Kepala sekolah tempat anak saya belajar, memasukkan anaknya ke TK lain untuk mencari apa dibalik keharuman nama “Sekolah Unggulan”. Disana ada matematika, bahasa inggris dan astaga-lainnya. Suatu hari saya numpang di mobil Kepsek itu, dan beliau minta saran… tetapi sayapun seorang yang tak tahu banyak masalah mutu dan kurikulum TK apalagi SD.
    Setelah saya tanya pada Ketua Yayasan tempat anakku bersekolah, beliau hanya sederhanya menjawab :”Pak, disekolah kita ini anak TK hanya diberi pengenalan saja…warna, bentuk, bunyi, nama, menyanyi dan bermain. Nantilah setelah masuk SD baru diberi dasar-dasar dari pelajaran SMP. Nanti disaat anak masuk SD, ia akan mulai belajar dengan baik sebab telah puas dimasa TK untuk bermain. Anak-anak itu tak akan bermain2 lagi kala guru menerangkan.
    Hanya berlangsung 3 bulan untuk mengalahkan prestasi anak yang TKnya penuh dengan segala WAH. Anak-anak kita disini akan konsisten dan melaju dengan tahapan yang sesuai dengan kematangannya. Percayalah !!”
    Tapi Pak Kepsek ragu… ia tetap mengantarkan anaknya disekolah lain, bukan di tempat ia menjabat sebagai Kepsek.
    Rasanya pelajaran yang butuh analisis, bukan saatnya diberikan pada murid SD ya Mas Agus. Terlalu pagi…

  21. Boleh ikutan kasih comment ya, saya juga mempertanyakan hal yang kurang lebih sama. Saya ibu 2 orang anak, yang sulung usia 6 tahun (kls 1 SD) dan yang bungsu 4 tahun. Saya banyak sharing juga dengan teman2 saya mengenai kurikulum SD di Indonesia saat ini yang berat, dengan pekerjaan rumah yang seabreg-abreg. Anak jadi kehilangan unsur “fun” atau kesenangan dalam belajar. Padahal unsur ini sangatlah penting. Bagaimana sih sebenarnya pendidikan dan aktivitas yang baik untuk perkembangan anak?
    Kebetulan saya sekarang berada di Sydney, Australia. Sempat sharing dengan kepala sekolah di public school tempat anak saya bersekolah. Beliau memperkenalkan kepada saya sebuah konsep yang menurut saya baik dan cukup universal mengenai bagaimana aktivitas anak usia sekolah yang seimbang. Konsep ini disebut “HOMEWORK GRID”, dikembangkan oleh seorang mantan kepala sekolah di Australia yang telah berkecimpung di bidang pendidikan selama 30 tahun. Konsep ini menurut saya bisa dengan simpel diterapkan pada anak2 kita sehari-hari.
    Saya pernah menulis mengenai “HOMEWORK GRID” ini pada Blog saya, bisa langsung di akses di : http://mysydneyjourney.wordpress.com/category/mommy-worry-education/

    apabila berkenan mohon kiranya memberikan komen pada blog saya, karena saya juga ingin mengetahui bagaimana komentar teman2 sesama orang tua mengenai konsep “Homework Grid” ini.

    Menurut saya, sepertinya konsep ini juga sejalan konsep “Multiple Intelligence” dari Howard Gardener (http://www.tecweb.org/styles/gardner.html), dimana menurut beliau ada 8 jenis intelligence yang dapat dikembangkan pada seorang anak, dan bukan hanya logical mathematical yang selama ini selalu ditekankan pada kurikulum sekolah anak.

    Semoga bisa menjadi sharing yang berguna buat kita semua.

    Salam,

  22. salam kenal pak Agus,
    saya ibu dari 3 anak. 2 anak pertama kembar laki perempuan. domisili di manokwari. papua barat.
    si kembar lulus TK umur 5 thn 7 bln. saya sempat bingung karena, SD disini tdk bisa menerima siswa kelas 1, jika umurnya blm genap 6 thn.
    akhirnya, mengikuti saran teman, saya menitipkan mrka di SD yang kualitas dibawah SD paling top selama 1 thn. tahun ajaran berikutnya baru pindah SD favorit, mengulang kelas 1 lagi.
    membaca tulisan pak agus di blog dab comment2, saya merasakan hal yang berbeda, antara pendidikan di kota besar dan di kota kecil, apalagi di indonesia Timur.
    teman-teman saya yang di surabaya dan balikpapan, juga bercerita, betapa materi pelajaran anaknya yang di kelas 1, sudah cukup canggih buat anak kelas 1.
    sedangkan anak saya yang sekolah di SD favorit, pelajarannya masih gampang sekali ( menurut saya). pelajaran matematikanya masih penjumlahan, pengurangan 1-2 digit yang sederhana.
    pelajaran bahasa, ppkn, ips, agama juga masih pengenalan keluarga, nama2 agama, anggota tubuh dll.
    pelajaran bahasa inggris belum diberikan. mungkin nanti kelas 2 SD
    anak saya yang perempuan, keliatan lebih cerdas dari yang laki.
    PR mereka pun masih gampang dan bisa dikerjakan dalam waktu 5-10 menit.
    jadi anak2 saya masih tidak ada beban belajar.., malah mereka lebih banyak bermain dan menonton vcd anak2.
    jam sekolah mereka dari jam 7.30- 10.15.
    itupun kadang-kadang hanya sampai jam 9.30 atau 10.00
    uang sekolah paling mahal 200rb/bln.
    yang menjadi pemikiran saya…..
    memang enak sekolah di mkw, tdk secanggih di kota besar sehingga tidak membebani anak. tapi saya yang sanggup, menyekolahkan anak ke sekolah yang lebih mahal/ seperti international school, merasa anak saya tidak bisa seterusnya sekolah di sini, krn akan ketinggalan dengan teman-temannya yang di kota besar. mungkin nanti kelas 3 SD keatas, akan saya pindahkan ke kota besar spt sby/jkt.
    jadi di satu sisi, saya bersyukur sekarang anak saya sekolah di kota kecil, yang mana pelajarannya blm far advanced spt yang bpk bilang…, tapi disatu sisi, saya prihatin juga dg mutu pendidikan di kota kecil ini. karena sekolah disini kekurangan tenaga pengajar.
    di sekolah anak saya saja, kelas 1 hanya dibuka 2 kelas masing2 40 anak. padahal yang mau masuk sekolah SD padma 1 ini sangat banyak.
    yach itu hanya sharing saya…., mungkin ada pendapat dari pak agus. terimakasih.
    salam
    Ibu Lina. Manokwari.

  23. emang gt sngt berat sklh jaman skrng..g’sm materi dng yg d ajarkan kita dl.sdh sy rasakan sndri dok..pljrn kls 3 SD sprti kls 1 SMP..yg skrng SMP udh ikut RSBI..kyk si dito..buku tebel2 laptop masuk ..blm bekalx..berat bnget d tmbh bert bdne yg sgtu (hehe..XXXL)

  24. menurut saya sebenarnya banyak beban pelajaran tidak masalah…asalkan anaknya senang. Namun mencari guru yang dapat menyampaikan pelajaran dengan metode yang menyenangkan itu yang sulit….tapi kalalu anak saya…saya ajak main olahraga…sambil belajar berhitung dan sportifitas. pada kasus anak2 saya fokus pada ilmu alat…

  25. Benar Pak dokter, saya sendiri adalah praktisi di bidang pendidikan yang jg ‘heran melihat ” beratnya konten kurikulum untuk anak saya yang masih di kelas 5 SD. Dia sama sekali tidak enjoy dengan mata pelajaran tertentu. Kata adik saya yang pernah 4 tahun di Australia, pendidikan kita memang sarat muatan tapi kurang enjoyable. Kita lebih senang memperluassutau konsep daripada memperdalam. Banyak yg dipelajari taoi belum tentu dipahami. Bahkan beberapa orang tua yg akan pulang ke Indonesia, khawatir dengan kelanjutan pendidikan anak2 mrk di Indonesia krn beratnya muatan materi pembelajaran di negara kita tercinta.

  26. sy kira apa yg anda rasakan adlh jg yg dirasakan banyak ORTU di Indonesia…. makanya sy pribadi lbh menyukai cara belajar HOME SCHOOLING, krn anak bs belajar sambil bermain,belajar tanpa beban, belajar menyenangkan…. tetapi memang ORTU hrs konsisten…

    sayangnya, sy sendiri blm bs sepenuhnya menerapkan sistem HS bersama anak sy krn keterbatasan sy terutama dlm hal biaya & pengetahuan sy yg terbatas.

    kl anda berminat unt mengenal lbh dekat & menambah pengetahuan, wawasan dsb ttg HS, anda bs add acc. FB seorang praktisi HS yg cukup berhasil & kreatif… namanya Mba’ MIRA JULIA

    smg manfaat….

  27. selamat malam pak,maaf saya baru bisa menjawab blog bapak,.mungkin apa yang bapak alami dng anak bapak sama halnya yg dialami anak saya juga begitupila dngd anak2 sekolah graduade 1-6 skrng ini karena apa materi pembelajaran yg skrng dialami mereka ini tidak sesuai dng kemampuan anak2 kita pd umumnya materi yg diberikan terlalu mengejar sekali seperti kereta api,tanpa memperhatikan batas kemampuan anak2 sekarang ,jadi pelajarann yg diberikan pada kurikulum skrng terlalu berlebih2an dalam arti misalnya:seharusnya pelajaran yg diberikan untuk kls 6 ternyata di grade 3 sdh diberikan,nah hal ini membuat anak yg seharusnya mengerti menjadi kebingunganmdemikian pak yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat share dari saya,..thnks

  28. memang anak2 sekarang gambang2 susah dok, klau di blg terlalu berat kayaknya dikitlah krn pelajaran skrg berbasis kompetensi. Ada cara utk melihat potensi anak jgn tll diukur dg nilai beri ia motivasi membangun mslnya klau nilainya jelek jgn dulu dimarahi kita bicarakan mengapa sampai terjadi??

  29. tdk ada yg abadi, kecuali perubahan itu sendiri.. 🙂 tuntutan, lingkungan dan kompetisi anak2 di kedepannya semakin tinggi. mungkin dgn bersifat antisipasi tanpa memaksakan nilai2 tertentu dan membiarkan anak2 menjalankan ‘kehidupannya’ secara ‘benar’ dengan memberikan ‘cara pandang’ yg baik, dorongan semangat, sampai membiarkan mereka memetik ‘pelajaran’ dari kesalahan2 yg mereka buat, berada dan ‘masuk’ disaat yg ‘tepat’.. adalah pilihan saya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s