Qasydu syai’in muktarinan bifi’lihi

2 comments

Menyengaja melakukan sesuatu, dan menjaga tujuan dari berbuat sesuatu tadi terus menerus selama perbuatan itu berlangsung. Demikian saya mengartikan definisi niat dari Sayyid Quthb :

melakukan perbuatan dengan penuh kesadaran sepanjang perbuatan itu berlangsung

Dalam melakukan perbuatan apapun kita dituntut untuk mempunyai tujuan dari perbuatan tersebut. Dan tentu saja setinggi-tinggi tujuan adalah semata-mata penghambaan kepada Allah SWT.

PENGERTIAN

Pernahkah anda mendengar – pada saat kita memulai ibadah puasa di bulan Ramadhan – ada anjuran untuk membacakan niat selama sebulan penuh di awalnya. Sehingga nanti bila terlupa berniat setiap harinya kita sudah dianggap berniat karena ‘niat ropelan’ ini ? Meskipun kita melakukannya tapi biasanya kita akan lebih ‘sreg’ bila setiap harinya kita melakukan lagi pembacaan niat ini.

Menurut pengertian saya anjuran itu harus diartikan bahwa kita boleh saja melakukan niat diawal, namun dalam setiap harinya kita tidak boleh melupakan bahwa kondisi sadar penuh dan menyengaja berbuat puasa itu harus kembali diingatkan tujuannya. Sehingga kita baru merasa nyaman bila itu sudah dilakoni.

Begitu pula bila kita sedang makan. Kita diperingatkan untuk memulainya dengan Basmalah. Begitu besarnya kedudukannya sehingga basmalah bisa digunakan untuk menghilangkan keraguan apakah hewan yang dimakan disembelih dengan nama Allah atau tidak. Pada saat kita lupa membaca basmalah pada awal perbuatan makan, kita bahkan diminta untuk menyegerakan membacanya lagi ditengah-tengah makan tersebut.

Dan kenyataan bahwa bukan hanya makan saja yang harus dimulai dengan basmalah, namun apa saja perbuatannya harus dimulai dengan mengingat nama Sang Maha Pemurah dan Penyayang. Ini adalah suatu bentuk dari cara kita untuk ihsan kepada Allah. Bayangkan apapun yang kita lakukan kita terus menerus sadar dan menyengaja dengan tujuan semata-mata karena Allah. Bahkan kita tidak dibebani kewajiban bila kita sedang tidak sadar – misalnya tertidur.

APLIKASI

Bagaimana menerapkannya dalam shalat ? Pada saat di awal berdiri menghadap kiblat bukankah kita sudah memproklamirkan akan menunaikan shalat tertentu?

Nah pada saat mulai membaca doa iftitah, apakah ada dalam hati kita ‘niatan’ membaca iftitah ini sunnah karena Allah? Apakah kita langsung membaca saja? “apakah kita langsung makan saja, tanpa basmalah?” Apa kita memberi waktu sejenak sebelum memulai bacaan doa iftitah untuk sedikitnya sadar akan bacaan yg akan dibaca, mengetahui tujuan pada siapa doa ini dibaca, dan seolah-olah (yadzunnuna) doa itu dikatakan bukan sekedar dibacakan kepada Allah? Didalamnya juga ada ikrar, apa ikrarnya dibaca, atau dijanjikan dengan tetap mengingat tujuan asal pembacaan doa? Apakah kita paham bahwa kita ingin menyerahkan hidup dan mati kita. Lebih jauh lagi apakah kita memang menyerahkan hidup dan mati kita, sedikitnya pada saat itu terbit kesadaran sedang berhadapan dengan Allah dan mengucap janji setia hidup dan mati?

Sesaat setelah selesai bacaan iftitah ini dibacakan, dipermohonkan dan diikrarkan kepada tujuan asal sesuai niat, apakah kita memberi waktu sejenak demi menyadari apa yang akan kita lakukan kemudian, kepada siapa perbuatan itu ditujukan dan dengan penuh ketundukan karena sedang berhadapan dengan Allah memaknai perbuatan tersebut?

Apakah kita meniatkan membaca Alfatihah wajib karena Allah? Atau kita pasrah saja karena sudah meniatkan shalat itu secara keseluruhan untuk Allah. tapi kenapa pada ibadah puasa ramadhan kita membaca tiap ibadah dengan aturannya sendiri-sendiri? Bukankah ini sama saja? Ini adalah kiat tergampang untuk tetap tidak terbawa pikiran kemana-mana tapi hanya karena Allah. Kalau kita ingatnya ditengah-tengah, apakah kita mengembalikan ingatan kita hanya kepada Allah? Dan terus selalu begitu. Sehingga terwujud ibadah penghambaan yang konsisten kepada Allah.

Demikian seterusnya, pada bacaan surah apakah kita meniatkannya, dan berbincang-bincang dengan Allah, memohon nasihatnya dari surah yang kita bacakan? pada ruku apakah kita meniatkannya, dan melakukannya terus dengan ketundukan. Pada saat kita membaca bacaan ruku’ apakah kita membaca, atau memuji? Anda bisa praktek dengan memuji seseorang yang anda kenal. Dan sedang berhadapan dengannya. Kemudian kenali bagaimana anda mengucapkan pujian tersebut, rasa yg ada didalamnya. Allah meminta kita melebih-lebihkan kesadaran itu. Saya sudah pernah membahas bagaimananya dalam duduk iftirasy. Demikian pula saat I’tidal, demikian pula pada saat sujud, iftirasy, sujud lagi, tawarruk, salam .. Ulang selalu kegiatan bukan sekedar membaca,

  • tapi sadar akan melakukan,
  • mengarahkan pada tujuan peribadatan – Allah,
  • penuh ketundukan karena sedang berhadapan,
  • dan penuh pemahaman melakukan perbuatan.

Contoh-contoh diatas bisa diterapkan. Misalnya ruku’ : sadar akan melakukan ruku’ bukan karena otomatis dan pikiran sedang keluyuran kemana-mana, menetapkan dalam hati bahwa tujuan melakukan ruku’ ini hanya karena Allah, sadar bahwa ruku’ ini sedang berhadapan dengan Allah sehingga melakukannya dengan ketundukan dan pemahaman bahwa dalam pelaksanaan ruku’ itu kita memuji keagungannya bukan mengucapkan atau membaca kata-kata keagungan.

KONSEKWENSI

Tentu saja, shalat jadi tidak bisa terburu-buru, karena kesadaran kita lambat sekali. Bayangkan kita harus memberikan cukup waktu untuk menyampaikan kesadaran dan niatan, sedikitnya kita juga mencoba memahami maksud tujuan penghormatan atau peribadatan yg dilakukan. Jangan terburu-buru karenanya.

Lantas bagaimana dengan kesambungan terhadap Allah, apakah kita harus menambahkan lagi upaya untuk tersambung tersebut. Kesambungan kepada Allah menurut saya hakikatnya adalah hadiah. Tidak bisa kita upayakan. Hak prerogatif Allah. Anda diberi atau tidak, tergantung sikap ketundukan anda di hadapan Allah. Pada saat mana anda sudah benar-benar mengusahakan badan anda sesuai dengan syariat yang ditentukan, menghadapkan pikiran dan hati anda, kemudian Allah berkenan, maka ruh anda akan diperjalankan kepada Sang Maha Luas. Insya Allah. Janjinya adalah pada saat kita mencoba sejengkal Allah akan datang sehasta. Kita berjalan, Allah berlari. Betulkan niat, lakukan yang terbaik. Tunggu Allah menjemput dan memperjalankan anda.

Advertisements

2 comments on “Qasydu syai’in muktarinan bifi’lihi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s