Tembakau, berujung derita ..

8 comments

Saya ngga akan cerita tentang Rokok sekarang ini. Karena pastilah dari beberapa posting sebelumnya pandangan saya tentang rokok sudah terlalu jelas. Tapi saya ingin kita melihat dulu sebelum jadi rokok. Tembakau, itu yang sekarang membuat orang di kecamatan saya ini lagi banyak meratap, bahkan mencoba bunuh diri

kebun-tembakau

Bertanam tembakau ternyata sangat beresiko. Tahun ini menjadi bukti bahwa alam yang punya jadwal sendiri, kapan mau hujan, kapan mau panas, akhirnya menjadi pukulan dahsyat buat petani. Angka gastritis melonjak. Percobaan gantung diri. Muka-muka orang-orang murung. Yang bisa menahan diri aja kalo ngomong seperti sedang ngga di badannya. Bayangkan saja tembakau yang sekilonya ditawar 32.000 kena hujan dikit berubah menjadi 12.000. Bahkan yang lebih sial sama sekali ngga berharga. Orang-orang jadi sering nengok langit.

images (1) Siklus tahunan yang biasanya terjadi di Puskesmas juga luput tahun ini, biasanya pada saat musim tanam, angka kunjungan rawat inap menurun drastis. Kecuali mau mati – kasarnya gitu – baru orang mau dirawat. Yang sakit sih sudah jelas ngga bisa apa-apa. Tapi mereka merasa rugi banget kalo harus ada yang menunggu pasien tersebut. Jahat yach ! Kenyataannya memang begitu. Waktu sangat berharga. Ya nyiram, mupuk, mencari yang kena penyakit, menanam ulang kalo mati dst. dst.

Di Rawat Jalan ngga sedrastis di rawat inap, Pasien biasa 80an biasanya hari rame, berkurang jadi 40-50an. imagesLumayan. Posyandu? Duh berantakan ngga karu-karuan. Pencapaian D/S mungkin hanya berkisar 30-40%. Berarti banyak ibu-ibu yang lebih rela tidak membawa anaknya ke posyandu, dan biasanya ini terjadi di saat orang merajang daun tembakau. Pada saat itu memang diperlukan banyak orang agar tembakau segera berubah dari daun menjadi lembaran-lembaran halus yang siap dijemur.

Nah biasanya pada saat selesai panen, dan sudah mulai menikmati hasil penjualan ke gudang-gudang dari pabrik-pabrik rokok terkenal, angka-angka tadi bergerak naik lagi. Bahkan pameo yang ada di sini, jangankan sakit berat, flu aja minta dirawat. Hehehe .. begitulah kondisi masyarakat disini, teman-teman. Beberapa orang kadang menyitir ini sebagai hukuman akibat kesombongan petani itu sendiri. Ada lelucon seperti ini kalau panen berhasil :

Bila bako sudah terjual dengan harga tinggi, uang 1000 jatuh ngga dipungut, cuma nyakit-nyakitin pinggang aja membungkuk-bungkuk. 😀

Terlepas dari guyonan ini benar apa ngganya, teman-teman di desa seringkali memperhatikan kegiatan panenan sampai dengan tembakau siap diantar ke Gudang, itu bisa menyita waktu dan melupakan berbagai kewajiban, baik seperti yang saya uraikan di atas terhadap diri dan anaknya. Maupun kewajiban penghambaan kepada Allah. Mereka jadi jarang shalat, puasa dll. Ini pula yang dianggap sebagai hukuman kepada ketidakpatuhan tersebut. Memang kalo sudah bencana datang orang cenderung menyalahkan apa saja yang bisa disalahkan. 🙂

Tahun ini cobaan datang bersama dengan bulan Ramadhan berakhir, iming-iming untuk meraup untung besar lenyap dari depan mata. Setiap tembakau yang sudah dirajang dan kemudian dijemur, harus menemukan sinar matahari yang terik. Karena itu siklus tembakau ini adanya di April – Oktober. Tapi siapa kira, musimnya sudah ganti penjadwalan. Yang tadinya harapannya masih panas ternyata hujan datang duluan, atau pada beberapa daerah memang sudah terus-terusan hujan sejak beberapa bulan yg lalu.

Mungkin – berandai-andai – ngga ada pikiran keberhasilan panen melimpah ruah lalu lebaran sudah dekat disertai dengan tuntutan mau pake baju baru, dst sampai dengan ada yg beli motor baru (semuanya ngutang), tentu kegagalan masih lumayan cuma memikirkan ongkos produksi tembakau saja. Tapi disertai dengan hutang-hutang lainnya yang dipakai terlebih dulu itu yang membuat frustasi. Padahal untuk kegiatan seperti bakar mercon yang bisa ratusan ribu habisnya demi telinga orang lain terganggu benar-benar sia-sia.

Menurut pak Mantan (Mantri Tani) saya, untuk kecamatan Krejengan saja tak kurang dari 1,5 M kerugian akibat panen gagal tahun ini. Ujian hanya diberikan kepada orang yang sanggup menerimanya. Jadi pasti ada jalan keluar. Kalo ngga keburu melingkarkan tali di sekitar leher. Tragis.

[draguscn]

Advertisements

8 comments on “Tembakau, berujung derita ..”

  1. hmmm… kondisi yang merata untuk semua petani Tembakau. Kecamatan Manisrenggo termasuk sentra tembakau juga, dan tahun ini juga milyaran uang harapan tidak jadi datang. Tahun kemarin, luar biasa hasil panen tembakau pak, banyak tani mendadak kaya (yang punya modal sih). Tapi tahun ini bener-benar deh…
    btw, saya gak ikut nanam tembakau pak…

    1. Kadang-kadang kasian kalo ngeliat sudah begini … tapi juga kalo liat pas berhasil dan lupa dengan bersyukur apalagi berzakat 😦 . Padahal wajib bagi mereka. Tapi lebih penting emas, baju, handphone sepeda motor.

    1. Hehhehe
      Kentara soalnya Rif ..
      Tampangnya lesu .. Gejalanya gastritis, pundaknya tegang dan yg paling jelas anamnesa pekerjaannya adalah petani tembakau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s