Belajar Dengan Rasa Primitif

2 comments

iftirasy Saya sudah menceritakan bagaimana saya menyibukkan pikiran pada saat duduk iftirasy, tapi dalam posisi itu sebenarnya adalah saat dimana kita berinteraksi dengan Allah. Berarti dua arah. Karena bentuknya doa, maka anda memohon, Allah merespon. Lalu dimana bagian Allah merespon? Apakah menunggu sampai kita selesai shalat kemudian baru akan ada kiriman paket berupa pengampunan, tanda cinta dst dst? Atau sebenarnya Allah sudah mengirim signal terlebih dahulu di dalam shalat?

Mari kita tinggalkan dulu pertanyaan-pertanyaan itu. Saya ingin anda mencermati beberapa rasa di bawah ini yang sebenarnya sering atau setidaknya pernah kita alami.

Kita baru saja bermaaf-maafan dan menghalalkan kesalahan-kesalahan yang lalu. Kalau anda masih memiliki orangtua, anda pasti tidak sekedar meminta maaf – sering kita anggap sebagai manifestasi permohonan menghalalkan kesalahan kecil – tapi juga anda – saya yakin – merasa perlu meminta ampun untuk kesalahan-kesalahan kita di masa lampau yang rasanya besar sekali dan menyakiti orangtua kita. Sedikit banyak itu pasti pernah terjadi. Pada saat anda mencium tangannya, memeluk orangtua anda dan merasakan bahwa dia mengikhlaskan kesalahan-kesalahan anda … [berhenti disana!] .. tangkap dulu rasa itu, ingat-ingat betul rasanya seperti apa. Peluk erat-erat rasa itu, timang-timang rasa itu seperti anda merasakan sebuah benda di tangan anda, hanya kali ini bentuknya rasa. Betul-betul simpan rasa itu dalam pikiran anda. Itulah rasa pengampunan.

Anda pernah datang atau didatangi pacar yang anda cintai? Kebanyakan generasi mutakhir sudah hapal betul dengan apel, malam mingguan atau apapun istilah anda. Ingat bagaimana rasanya berbincang-bincang dengan kekasih anda pada saat itu? Mungkin sedikit nakal anda bersentuhan tangan. Jangan kejauhan mengingatnya! Saya cuma perlu rasa yang ada pada saat anda masih malu-malu itu. Singkirkan yang sudah terasa nafsu syahwat. Ingat indahnya saling bercengkramanya, saling menatapnya, merasa mendapat rasa cinta .. [stop!] itu dia .. berhenti disana. Merasa dilimpahi cinta. Anda bisa analogikan dengan berbagai rasa dengan berbagai individu, kakak, adik, ibu, bapak, nenek, kakek yang anda merasa dilimpahi rasa kecintaan. Anda rekam baik-baik rasa itu. Kita akan gunakan nanti.

Anda pernah berdiskusi di arena publik, dan sekonyong-konyong ada yang membela pendapat anda? Dia menutupi celah-celah kesalahan, kekurangan dari pendapat anda dan mengangkat diri anda sebagai pioneer ide tersebut, meskipun dia yang sudah menyempurnakannya? Anda merasa berbunga-bunga, bangga, ketakutan akan kesalahan dari pendapat anda tertutupi dan anda merasa sudah naik setingkat dari kelas pendengar menjadi penggagas. Atau rasa dalam kondisi apapun dimana aib anda yang nyaris saja terbuka tiba-tiba ada yang menutupi? Dan anda tadinya merasa rendah sekarang malah merasa dikagumi. Rekam rasa itu baik-baik, hindarkan dari merekam rasa sombong, ingat anda baru saja terselamatkan. Tidak sepantasnya orang yang baru saja terselamatkan merasa pongah.

Baik! Ini yang paling gampang dan paling sering kejadian. Pernah dapat rejeki yg tiba-tiba datangnya? Atau kalaupun anda sudah memperhitungkan, anda lupa. Misalnya ada yang bayar hutang, tapi sebenarnya anda sudah lupa. Ayolaaah ini sering terjadi. Saya tidak akan berpanjang-panjang karena ini bisa kita rasakan nyaris setiap hari. Nah apa yang anda rasakan? Bagaimana rasanya diberi rejeki? [tangkap, hayati, rekam!]

Satu lagi .. ini juga aplikasi harian. Sering terjadi. Pernah merasakan dapat ilham cemerlang. Eureka!! Saat tiba-tiba dialiri oleh pengetahuan yang anda tidak tahu asalnya dari mana? Rasa ditunjuki ini bisa berupa kesadaran kita akan kemungkinan salah dari suatu proses perbuatan. Sehingga kita bisa memperbaikinya. Jangan dikecilkan itu juga petunjuk. Lagi .. peluk erat2 rasa itu, hayati, rekam.

Yang ini juga gampang. Setiap kita satu dua kali pasti pernah merasa sakit. Berat .. ringan .. sakit apa saja. Mungkin cuma pegal-pegal di bahu, di kaki. Atau yang sampai dirawat inap di rumah sakit, dengan kondisi kesadaran yang menurun. Setelah anda keluar dari keadaan sakit itu, meski cuma pegal-pegal yang hilang karena dipijet atau anda olesi counterpain, atau anda bersyukur karena masih hidup dan sehat lagi, anda merasakan kesehatan, merasakan lega karena kembali nyaman badan anda. Dan bisa kembali beraktivitas. Atau anda sudah lebih jauh bisa mensyukuri kesehatan anda pada saat anda tidak sakit sekalipun. Merasakan dalam tarikan napas anda longgar dan merasakan energi yang dibawanya bisa menyebar merata sampai ke ujung-ujung tubuh anda yang terjauh dari jantung sekalipun. Ingat baik-baik rasa ini.

Terakhir, mungkin anda pernah meminta terlalu banyak kepada seseorang dan tiba-tiba merasa malu karena banyak mau dan meminta maaf karenanya, eh yang bersangkutan dengan baiknya malah bilang “oh ngga papa – ngga papa .. saya senang sekali kok” Legaaa sekali rasanya. Rasa dimaafkan. Padahal nuntutnya banyak tapi yang ngasih malah begitu baiknya mendengarkan dan tidak terganggu dengan kecerewetan kita. Dalam bayangan saya biasanya ini ibu-ibu yang sedang minta diukur bajunya, atau sedang ditata rambutnya. Nah rasa dimaafkan itu juga anda rekam.

Aplikasi

Anda yang sudah sering bermain dengan rasa, pasti mengerti maksud saya. Rasa-rasa diatas adalah rasa yang menurut saya masih primitif. Itu rasa yang bila kita berada dalam kondisi itu, maka kita sering kali dihadiahi rasa itu. Rasa itu belum jadi bagian dari kita bila kita tidak menyadarinya. Pada saat kita sudah sering [stop] hening sejenak merasakan rasa tersebut. Merekamnya ke dalam ingatan kita, dia akan menjadi bagian dari diri kita. Kita bisa memanggilnya kembali, meskipun itu rasa. Semakin sering alam bawah sadar kita dijejali dengan bentukan sesuatu (seperti rasa tadi) maka dia akan merespon sebagaimana yg kita harapkan pada saat yg kita harapkan.

Kita lebih jauh ..

Man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa rabbahu

“Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya”

Semakin sering kita mengenali rasa-rasa di atas maka rasa yang datangnya dari Allah akan mudah kita tangkap pada saat kita meminta. Pada saat kita membaca rabbighfirli .. akan terasa rasa pengampunan mengalir ke dalam diri kita. Mungkin sekarang kita baru merasakan “pola pengampunan dari orangtua kita” tapi itu upaya kita untuk mendapatkan rasa ampunan dari Allah. Itu adalah cara pembelajarannya. Itulah makna dari :

Fadzkurullaha kadzikrikum abaa akum au asyadda dzikra

“Maka sadar penuhlah (dzikr) kepada Allah, sebagaimana engkau sadar penuh kepada bapakmu, bahkan lebih jauh lagi sadar penuh itu” (2:200)

Kita diminta untuk lebih jauh dari sadar penuh (dzikr) kepada orangtua seperti contohnya rasa pengampunan dari orangtua tadi. Upayakan saja dulu rasa sadar penuh akan pengampunan ini. Nanti pada saatnya kita mencoba, biarkan Allah membuktikan janjiNya, Allah akan mendekat kepada kita sehasta bila kita bergerak sejengkal, Allah akan berlari walaupun kita baru berjalan. Biarkan Allah yang akan melimpahi kita dengan pengampunanNya.

Begitu pula pada saat kita membaca warhamni kita rasakan rasa kecintaan Allah mengalir ke dalam diri kita. Wazburni Warfa’ni – rasa perlindungan dan pengangkatan derajat dari Allah. Warzuqni – rasa diberikan rejeki yang melimpah dari Allah. Wahdini – rasa diberikan petunjuk. Wa’afini – rasa disehatkan. Wa’fuanni – rasa dimaafkan.

Jadi pada saat iftirasy, usahakanlah sedikitnya ada satu rakaat yang iftirasy kita benar-benar penuh dengan kesadaran ini. Jangan terburu-buru. Kesadaran kita sangat lambat. Allah memang Maha Cepat, biarpun kita baca cepet-cepetan, Allah tetap bisa mengenali dan merespon kecepatan kita. Tapi kita yang masih lambat kesadaran ini, yang tidak bisa menangkap respon Allah pada saat kita diberikan rasa-rasa diatas. Karena itu berikan waktu yg cukup untuk duduk iftirasy.

Apakah dengan demikian permohonan kita hanya dikabulkan dalam bentuk rasa? Kita tidak akan diberi harta padahal warzuqninya sudah mati-matian khusyu? Menangis tersedu sedan di wa’afini tapi cuma diberi rasa sehat? Bukan bener-bener disehatkan? Saya menyenangi ajaran dua orang instruktur saya yang kebetulan sama persis menyitir suatu pepatah / ujar-ujar dari Makassar.

Lettu kajolo napa joka

“sampai dulu ke tujuan, baru berangkat”

Kita sampaikan dulu rasanya, toh memang itu nanti tujuan akhir yang kita ingini. Rasa senang, lega, bahagia bahwa kita diberikan rejeki. Rejekinya? Itu cuma alatnya. Esensinya ya rasanya itu. Kalau kita sudah sampai duluan ke rasanya. InsyaAllah, Dia akan menggerakkan mekanisme quantum yang manapun, apakah itu kesempatan, kenalan, momentum, apapun itu bergerak mendekati kita untuk mewujudkan keinginan kita. Law of attraction? yach boleh dibilang demikian. 😀

Semoga bermanfaat dan menjadikan iftirasy kita lebih bermakna.

[draguscn]

Advertisements

2 comments on “Belajar Dengan Rasa Primitif”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s