Tanda Setiap Dosa

4 comments

sahabat

Dua orang salik duduk di tangga Mesjid Jami’ setelah selesai makan nasi bungkus yang diadakan memang untuk orang yang berbuka di mesjid. Mereka tidak saling kenal. Dan tampaknya juga berasal dari daerah yang berbeda.

Yang berlogat Makassar bertanya : “Mas ikut pengajian juga kan?”

“Iya” jawab yang berlogat jawa.

“Sudah sampai bab apa?”

“Taubat”

“eh bukannya mas sudah lama ikut disini, kok tetap ada di bab taubat?”

“Guru saya memutuskan saya untuk mulai dari awal lagi dengan benar”

“Kenapa?”

“Karena tanda dari Allah telah datang pada diri saya”

“Ughhh .. bagaimana tanda itu bentuknya?”

“Dalam bentuk penyakit. Penyakit yang secara akal tidak mungkin saya derita, tapi Allah berkehendak, tak ada yang bisa mencegah, bahkan ilmu pengetahuan sekalipun bisa sesuai dengan kehendak Allah.”

“Apa yang terjadi dengan penyakit itu?”

“Ia memberi tahu dimana saja saya banyak berbuat dosa dan saya mempunyai keharusan memperbaiki itu dulu.”

“Dimana saja penyakit itu bersarang?”

Santri Jawa itupun membalikkan wajahnya menatap kepada Santri dari Makassar tersebut. Mengertilah ia kini bahwa sebagian besar muka dari si orang jawa ini penuh dengan bercak kecil kemerahan. Sebagian besar nampaknya di dahi. Juga ada di pipi, hidung dan dagu. Dan ia membuka leher bajunya di dekat dada, disana juga ada penyakit itu beberapa bahkan telah berubah menjadi koreng. Santri yang dari Makassar itu sampai agak bergidik. Untunglah mereka memang sudah selesai makan saat itu.

“Kalau boleh tahu, apa hikmah yang anda ambil? Kenapa itu yang dianggap sebagai petunjuk?”

“Ini.. lihat!” sambil menunjuk ke pinggir dahinya “menurut saudaraku, dimanakah saya sakit?”

“Dahi!”

“Bukan, saya menunjuk ini karena penyakit itu ada disitu tapi lihatlah sikap saya secara utuh. Apa yang saya sampaikan dengan menunjuk seperti ini?” Diam sejenak “Pikiran. Otak. Benak. Apapun anda menyebutnya itulah yang harus saya pikirkan sebagai tempat dimana saya perlu dibenahi.
Saya ini orang yang sangat memuja pengetahuan. Bahkan dalam beragamapun saya mengagumi pemikir-pemikir besar. Sampai-sampai saya larut lebih banyak kepada pemikiran ketimbang perilaku. Agama adalah tindakan yang nyata. Dengan beragama harusnya makin banyak orang yang mendapatkan hasil dari ketinggian ilmu yang dimiliki.
Lantas saya memasuki era dimana saya hampir mengharamkan akal pikiran. Saya terpesona dengan getaran kalbu. Astaghfirullah. Saya betul-betul harus bertaubat. Begitu indahnya Allah menciptakan kesempurnaan diri kita karena harus dipakai secara simultan dan komprehensif. Bukannya malah dipasung. Allah malah menegur afala ta’qilun (Apa kamu ngga menggunakan akal?), afala yatafakkaruun (Apa kamu tidak berpikir?), afala yafqohun dst.
Saya harus melakukan pertobatan atas apa-apa produk dari pikiran saya yang tidak maslahat, berpanjang lamunan, bahkan penggunaan manipulatif seperti menutupi kebenaran dengan kebenaran lainnya. Inipun merupakan hal yang harus saya taubati”

Kemudian ia membentuk huruf U dengan menggunakan telunjuknya dari ujung telinga kanan ke telinga kiri “Nah tahukah bagian ini juga anda lihat banyak penyakitnya?”

“Dagu?”

“Wajah! Saya menghadapkan wajah saya lebih banyak pada sesuatu yang bukan Allah. Saya bertuhankan banyak hal sehingga begitu kesadaran saya sampai untuk menggapai Allah, dia menyuruh saya kembali membersihkan diri. Dan salah satu yang diperingatkannya, adalah kemana saya menghadapkan wajah saya. Mungkin bukan yang ini. Tapi tetap saja dalam iftitah bunyinya wajjahtu wajhiya.
Seringkali tanpa sadar saya lebih menuhankan handphone, komputer, uang, anak, pekerjaan, waktu, nama, komunitas dan masih banyak lainnya dibandingkan memalingkan wajah saya ke sebenar-benar Tuhan, Allah.

Dia kemudian menunjuk ke dalam rambutnya, mungkin disana juga ada penyakit itu. “dimana menurut saudara saya ditunjuki sakit?”

“Rambut!”

“Kepala, saya lama merenungi ini saya pikir apa bedanya dengan saya menunjuk dahi saya. Bukankah di dalamnya tetap ada benak. Ternyata saya harus tersadar,  kembali bukan makna benda, tapi terhadap arti dari kata itu sendiri. Saya harus mentobati tingkah laku saya sebagai kepala. Kepala rumah tangga, kepala tempat kerja saya, dan beberapa yang menjadi kewajiban saya sebagai pemimpin. Termasuk diri saya sendiri. Tentu sudah banyak kepemimpinan saya yang dipertanyakan Yang Maha Menilai, entah itu luput, salah ataupun tidak menghasilkan hal yang berguna.”

“Dan di dada ini yang paling banyak bercaknya. Tanda Allah benar-benar memperhatikan bagaimana kotornya hati saya. Takabbur, Riya, Ujub, dan segala penyakit hati lain, sedikit banyak pasti pernah datang dan saya lalai membersihkannya. Karena itu teguran yang paling banyak di sini.” Sambil menunjuk dadanya.

“Di tangan Mas dan Kaki juga ada bercaknya.”

“Tentu saja, bila benak sudah terkotori, hati sudah banyak kotornya, muka sama sekali tidak dihadapkan kepada Yang Maha Pedih AzabNya, cara memimpin anggota badanpun ikut keliru .. tangan jadi berbuat banyak kejahatan, kaki dengan ringannya melangkah ke kemaksiatan. Ini yang harus dibenahi. Saya masih belum pantas untuk meraih keagunganNya. Jadi maqam saya tobat. Itu ceritanya.”

“Bagaimana pak Kyai bilangnya?”

“Pak Kyai? saya bilang Guru saya yang menyuruh saya kembali ke bab tobat. Saya tidak bilang pak kyai yang menyuruh saya.”

“Lho anda berguru pada siapa?”

“Kepada Yang Mempunyai segala ilmu tentu saja!”

[ draguscn ]

Sebuah perenungan di malam-malam akhir bulan Ramadhan 1431H, saat badan terkena varicella.

Advertisements

4 comments on “Tanda Setiap Dosa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s