Malam Selikur, Sakit.

No comments

image_-avonturir-nomaden-man

Sudah 2 hari saya demam, ngga ada yang saya mengerti dengan penyakit saya kali ini. Saya sudah bersiap-siap untuk menghadapi 10 malam terakhir. Tapi justru hari ke-19 dan 20 ini saya betul-betul tersiksa demam. Siangnya tetap berpuasa, meski pada setiap sore rasanya kepala sakit sekali dan badan serasa remuk. Mungkin karena cadangan glukosa badan sudah sangat tipis sementara demam, pertanda ada organisme lain dalam badan saya yang ikutan memanfaatkan metabolisme makin menyebabkan menurunnya kondisi badan.

Dia sudah menyandang ranselnya
Pejalan ini sudah siap
Tiada yang ingin diraihnya
Kecuali cintaNya

Tubuhnya basah dengan keringat
Ia terduduk di ujung senja
Menatap nanar suara surau
Kakinya terbelenggu di dipan tidurnya

Persiapan menginap di Mesjid sebenarnya sudah dari awal Ramadhan dicanangkan. Mencari-cari referensi i’tikaf. Kemudian meyakini bahwa kegiatan sebagian besar seharusnya ada di Mesjid maka merencanakan waktu malam saya akan bermalam disana. Pulang pagi untuk ngantor. Semuanya buyar. Demamnya hanya sekitar 38°C tapi serasa ada balok es ditaro memanjang vena cava inferior. Subhanallah. Yang tersisa cuma kesadaran untuk tidak berkeluh dengan penyakit ini. Tak urung suara erangan seperti anak kecil juga tetap keluar dari mulut ini.

Kupanggil diriMu, Kasih ..
Apakah Engkau enggan bertemu denganku
Yang kuminta hanya sedikit saat bersama
Sebegitu kotorkah diri ini ..

Akan kubungkus bunga Mawarnya
kukirimkan dari beranda rumah
entah Kau mau menerimanya atau tidak
entahlah ..

[draguscn]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s