Seandainya bisa ..

7 comments

Anda boleh skip tulisan panjang dibawah ini langsung ke bagian bawah :

Seandainya bisa aku memohon ampunanMu melebihi segala dosa yang pernah aku perbuat dan yang mungkin aku akan khilaf. Begitu banyak rasanya dosa yang kulakukan dan itu semua lebih karena mendzalimiMu atau dalam bahasaMu mendzalimi diriku sendiri. Aku bertaubat dari dosa-dosa besar yang sudah kulakukan, ya Allah, tak terkira yang bisa aku sebutkan. Seandainya kau bukakan lembaran hidup ini penuh dengan bukan sekedar bintik akan tetapi tumpahan warna hitam. Yang menutupi hatiku. Maukah kau memberikan ku ampunan, wahai yang Maha Pengampun. Diri ini tidak akan bisa lebih jauh berbuat apa-apa bila dalam pikiran dan rasa ini masih ada gambaran dosa dan rasa bersalah. Aku sadar sebenar-benar sadar bahwa sekarang aku menghadap sang Maha Pengampun yang hanya Engkaulah yang bisa memperingan beban kesalahan ini, meringankan rasa bersalah ini, yang memperbaiki memori diri ini dan menjauhkan kenikmatan berbuat dosa sebagai kenangan. Aku menghadapMu namun pikirankupun masih mencari-cari kesana-kemari dan tetap berdirikupun masih belum terasa tunduk, ruku’pun masih belum betul dan sujudkupun belum lurus. Padahal aku tahu bahwa aku sedang berhadapan denganMu dan hanya padaMu aku bisa meminta pengampunan.

Ya Allah, seandainya bisa aku mohon curahan kasih sayangMu .. padahal seandainya aku mau berpikir barang sejenak betapa penuh kasihnya Kau bimbing setiap step kehidupanku. Ada dimana aku lengah Kaulah yang memberi ingat, ada kalanya aku tak waspada Engkau pula yang memberitahu. Dengan lumuran dosa aku menghadapMu tanpa malu untuk minta Kau curahi kasih sayang kepada diri ini. Karena kasihMu hanya milikMu. Meliputi ruang dan waktu dan bahkan yang tak ada ruang dan tak ada waktu. Sungguh begitu banyak nikmat engkau berikan kepada diri ini dengan kasihMu. Yang bahkan meliputi orang-orang kafir. Kaulah Maha Pengasih, yang kasihNya melebihi segala kasih dari yang pengasih. Engkau sedang menatapku. Aku yang terhijab. Aku yang tidak mampu menajamkan bashirah untuk melihat aliran kasihMu mengalir dan membanjir ke dalam diri ini. Betapapun aku mencoba aku masih seakan-akan buta, dan terus minta disuapi. Kebodohanku, kemalasanku menggapai kasihMu adalah hal yang terus menerus kusesali, namun juga tak hentinya bisa ku ubah. Betapa dzalimnya diriku.

Seandainya bisa, Ya Allah, tutupilah keaiban-keaiban diri ini. Yang bukan hanya karena dosa, akan tetapi karena perbuatan yang memalukan yang kuperbuat karena kebodohanku. Kau Maha Menutupi, menjadikan diri ini seolah-olah orang yang demikian suci dari dosa dan kesalahan. Padahal seandainya Kau mau memperlihatkan tak ada lagi yang bisa dilihat dan dipercaya dalam diri ini. Motivasi kadang tercampur riya, mendekatkan diri tapi ingin dipuji, sungguh diri ini penuh dengan cela. tapi bagaimana Kau begitu kasih meliputi diri ini dan menutupi diri ini dari kesalahan-kesalahan tadi. Betapa mudahnya kalau Kau ingin mengangkat tabir itu dan menjadikan diriku orang yang paling hina, dan layak mendapatkan baik hukuman dunia maupun akhirat. Tapi Kau begitu kasih kepadaku, Ya Allah. Apa yang sudah kuberikan? Bahkan berdiri dihadapanMu pun aku masih mengharap karena keuntungan diriku sendiri. Menuju kepadamupun karena aku menyenangi rasa yang kurasakan. Betapa malunya kalau kau bongkar ini semua, Ya Allah.

Ya Allah, seandainya bisa, tinggikanlah derajatku .. sebagaimana engkau meninggikan derajat orang-orang yang mencari pengetahuan, mengamalkannya. Meskipun sejak dalam pencariannya jarang terbersit, ini karena Engkau. Bagaimana mungkin diri ini bisa berharap Kau tinggikan sementara ilmuMu, belum lagi menyejahterakan umat? Tapi dengan yang sudah didapat inipun nyata Kau beri aku tempat khusus. Kau beri derajat yang tinggi dengan disertai amanat yang tak sanggup disandang bumi, langit dan matahari. Kau ingin aku menjadi khalifahMu, aku bersedia, namun diri ini jauh dari harapan. Tiada yang sudah didapatkan menjadi makna buat orang lain, kalau adapun apakah ada ujub didalamnya? Menundukkan diri di hadapanMu, jelas sekali terasa bahwa yang menjadi sumber segala kearifan hanyalah Engkau dan di dapanMu saja diri ini yakin tiada yang bisa membuatnya lebih tinggi kecuali Engkau. Toh aku tak luput pula berlaku aniaya. Ya Allah, meski dengan semua itu, tetaplah tinggikan derajatku. Hanya Engkau yang mampu.

Ya Allah seandainya bisa aku memohon diberikan rejeki yang halal, banyak dan barokah. Ah sudah pantaskah ini diminta. Karena segala sesuatu yang berasal dariMu sebenarnya sudah terhitung sebagai rejeki yang tiada putus Engkau berikan. Kesehatan, Kesenangan, dan masih banyak lainnya yang tak berwujud materi telah Kau beri, tapi tetap aku terpaku di hadapanMu dan mengemis meminta untuk diberikan rejeki. Dalam gambaranku yang kelak Kau berikan adalah sekarung harta benda, dan berulang kali aku mengingatkan diriku bahwa yang Kau berikan lebih pada porsi yang aku sanggup menanggungnya. Tapi tetap saja diri ini tak lepas dari keinginan materi. Di hadapanMu, dan hanya di hadapanMu lah segala daftar keinginan-keinginan — seperti belanjaan yang ingin dibeli – dimintakan. Segala hutang yang ingin dilunasi. Segala ketakutan pada masa depan yang menuntut kemurahan rejekiMu. Segala kebutuhan yang kadang berlebihan. Itu karena KeMahaKayaan-Mu begitu nyata dengan alam semesta yang Kau miliki sehingga diri ini dalam bersimpuh kepadaMu tetap terpikir untuk memintanya. Meski demikian rahmatMU begitu meliputi, berulang-ulang tersadarkan bahwa Kau selalu memberikan dari tempat-tempat yang telah Kau sucikan, pada tempatnyalah seharusnya aku membalas dengan menjadikannya manfaat, bukannya hanya kugunakan sendiri yang bukan karenaMu.

Ya Allah seandainya saja bisa, aku bermohon diberikan hidayah. Aku ingin segera tahu rahasia-rahasia. Aku ingin berkenalan dengan wujud alam semesta sebenarnya. Aku ingin segera tersadarkan. Tapi yang kubawa tak ada seberapa, karena hidayahMu memang tidak bisa ditakar dengan apa-apa. Diri ini hanya mencoba meminta, pertolonganMu dalam menjelaskan, pertolonganMu dalam menentukan, pertolonganMu dalam memeliharakan. Aku nyata menghadap kepadaMu karena ingin meminta kemudahan melihat Jalan yg Lurus, Jalan yg Mudah, Cara yang mudah menyelesaikan sesuatu. dan hanya Kau yang punya ini. Ini prerogatifMu. Sebagaimana segala pemberianMu. Ya Allah limpahkanlah ..  berikan diri ini terang.

Seandainya bisa aku bermohon kepadaMu kesehatan, aku ingin segala sesak di dada ini hilang, aku ingin penyakit yang kuderita sekarang disembuhkan. Aku ingin menjadi tauladan sehat dari orang-orang disekelilingku, aku ingin bisa memahami bugarnya jasmani karena semakin banyak amalan yang Kau minta aku lakukan. Aku ingin terhindar dari penyakit yang membuatku sulit menghadapMu, lahir dan bathin. Tapi yang kuberikan sebagai ganti tak lebih mendzalimi diriku sendiri, aku dengan perilakuku, dengan kebiasaanku, hanya menjadikan doaku seperti bermohon terlalu berlebihan. Meski demikian Ya Allah, jangan tinggalkan aku meski sekejap mata. Engkaulah Maha Penyembuh, Engkaulah Maha Pemelihara. Peliharakan diriku.

Ya Allah atas semua permintaanku, izinkan aku meminta maafMu, karena begitu banyaknya permintaan namun upaya terasa sangat minimal. Dan kembali pada kesadaran bahwa tiada daya dan upaya melainkan bersama Engkau. Seandainya bisa maafMu juga meliputi semua kesalahan yang tiada santggup aku menahannya. Berkeliarannya pikiran, tidak rapinya sikap, kurangnya pemahaman pada bacaan, bahkan panjang pendeknyapun masih harus dipertanyakan. Maafkan yaa Allah. Maafkan. allahumma innaka affuwun, tuhibbul afwa fa’ fuanni.

Tulisan di atas membutuhkan 3 jam lebih untuk tertuang. Padahal itu jelas cuma menulis ulang yang biasa terpikirkan. Membacanya membutuhkan 3-5 menit. Kalo pertama memang lama, berikutnya dah mengerti pokok bisa lebih cepat. Pertanyaannya ialah, jika doa dan shalat adalah media berkomunikasi dengan Allah, berapa lama waktu yang kita gunakan untuk membaca : rabbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa’nii, warzuqnii, wahdinii, wa a’fini, wa’fu’anni. Apakah kita menunggu Allah berkomunikasi kepada kita? Mari kita benahi duduk iftirasy kita, teman-teman.

[draguscn]

 

100_3816

Advertisements

7 comments on “Seandainya bisa ..”

  1. Padahal tiap hari dibaca ya dok, minimal 17 kali sehari… tapi jarang yang bisa memaknainya secara mendalam, termasuk saya 😦

    1. Saya pas lagi sakit gini lamaaaa di wa’afini .. kadang saya ulang-ulang .. wa’afini .. wa’afini .. wa’afini .. selama pikiran dan jiwa kita masih tetap berhadapan dengan Allah dan tidak ngelamun kemana-mana .. kalo pas terlanjur keluyuran di balikin lagi .. karena pikiran memang cerewet kayak nenek-nenek ..

  2. Mas Agus, rasanya apa yang tertuang diatas sangat sedikit jika dibanding dengan bayanganku tentang betapa besar penghayatan Anda. Saya saluut dan pengen menyampaikan tulisan diatas kepada sejawat dan handaitolanku. Mohon izin Anda ya…Mas.
    Salamku sekeluarga.

    1. Duh yang namanya saya ini banyak maunya pak .. Ya memang aslinya kadang2 jauuuuh lebih panjang .. Terutama kalo pemakaian kartu kredit lagi banyak-banyaknya .. Wah panjang deh tuh warzuqnii nya .. Hehehe
      Silahkan pak semoga bisa jadi ilmu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s