Mencari Tuhan Yang Sederhana

One comment

Seusai menunaikan shalat shubuh, kami bertiga menunggu pak Kyai, seperti biasa. Aku, Abi dan Lili sudah sejak lama kami punya kebiasaan ini, bersama beliau kami selalu merasa tenteram. Mungkin karena gelombang ikhlas dari hati beliau yang begitu luas sehingga kami selalu merasa nyaman di dekat pak Kyai.

Lili mulai bertanya “bagaimana sebenarnya mencari keberadaan Tuhan itu Yai, kenapa rasanya sulit sekali?”

“Memangnya apa yang Lili rasakan, nak?”

“Saya ingin dalam shalat saya tumbuh kesadaran bahwa saya memang menghadap Allah”

“Nah yang selama ini bagaimana? Pada saat Lili berdiri, apakah merasa menghadap Allah”

“Yaaa.. saya mengibaratkan diri saya sedang berhadapan dengan sesuatu Yang Serba Maha, tapi selalu tidak terhindarkan seperti menghadap seorang raja yang sedang duduk di atas singgasana”

“Gambarkan suasana dan singgasana itu!”

“Wah bagaimana ya .. rasanya ada ruangan luas, seperti ruangan-ruangan kerajaan itu, kemudian yang saya hadapi ada jauh di depan”

“Hmmm ..” Pak Kyai mengelus jenggotnya yang sudah banyak memutih “Apakah raja itu bisa mendengar apa yang Lili bicarakan?”

“Wah saya ngga tahu pak Yai ..”

“Baiklah, nak. Pada dasarnya, kesadaran akan diawasi itu sudah baik, tinggal merombak sedikit lagi. Sadarkah bahwa Allah itu dekat? Dia menyebutkan dalam Al-Quran bahwa dia dekat. Bahkan Allah menyebutkan bahwa diriNya lebih dekat daripada urat leher kita. Bisakah Lili membayangkan suatu tempat yang berada lebih dekat dari bagian diri kita sendiri?”

“Di Dalam Diri Kita?”

“Meliputi, itu istilah Allah untuk diriNya sendiri. Allah meliputi orang-orang kafir, juga meliputi segala sesuatu. Termasuk kita. Setiap tindak-tanduk kita haruslah tidak boleh lalai. Pernah membayangkan bahwa kita diberi kesempatan untuk menyampaikan laporan pada seorang petinggi? Atau Presidenlah. Apa yang kita lakukan? Kita akan berusaha menepati semua laporan yang sudah tinggal baca itu agar tidak terjadi kesalahan. Kira-kira begitu ya.. Tapi Allah meliputi diri kita, karenanya bukan hanya bacaan dan gerakan kita saja yang harus benar, tapi sampai pada niat di dalam hati kita diperuntukkan ke siapa pun harus selalu benar.
Pada saat kita membacakan laporan tadi kita mungkin bisa terbersit dalam hati bahwa itu untuk kita sendiri, dengan kita membacakan / mempresentasikan dengan benar, maka kita tidak malu, bahkan mungkin mendapat manfaat.
Pada saat kita membacakan laporan di dalam shalat, meskipun gerakan shalat itu bermanfaat buat kita.Tapi untuk siapa gerakan itu dilaksanakan termasuk dalam berkas laporan. Karena itulah kita tidak bisa lalai dalam setiap gerakan untuk terus menjaga niat.”

“Lantas bagaimana, mencari Allah yang demikian dekat?” Kali ini Abi yg bertanya.

“Kita tidak perlu mencari, nak Abi, kalau kita mencari kita akan kepayahan, apalagi bila harus melewati berbagai alam, alam nasut, lahut dst, seakan-akan Allah berada jauh sekali. Bila kita berusaha memposisikan Allah maka semuanya jadi serba rumit, padahal Allah itu sederhana. Kita tidak perlu membayangkan posisi, terlarang memikirkan DzatNya, Allah tidak sama dengan segala sesuatu.”

“Lantas bagaimana kita bisa berkonsentrasi pada sesuatu yang tidak jelas?” Lagi-lagi Lili dengan logikanya.

“Pertama, harus tumbuh keyakinan (iman) bahwa Allah meskipun Maha Ghaib tapi juga Maha Zhahir. Begitu gaib (tak terbayangkan) tapi justru sangat jelas. Pernah lihat cleret, Lili?”

“Angin puting beliung?”

“Betul, cleret atau angin puting beliung, menerbangkan dedaunan berputaran. Pada saat kita menunjuk padanya apakah kita menunjuk angin? Tidak, yang kita tunjuk adalah sesuatu yang diterbangkan angin. Anginnya ada? Ada, tapi kita hanya bisa melihat dedaunan yang bergerak saja.
Satu contoh lagi, bukankah setiap kali kita merasa sedih, gembira, senang, jengkel? Bagaimana bentuknya? Kita hanya tahu rasanya, itupun kalau kita tidak larut didalamnya. Cobalah sesekali keluar dari rasa itu meskipun itu rasa senang. Pada saat kita merasakan sesuatu, misalnya rasa senang, kita bisa menyadari  rasa senang itu seperti apa. Melihat respon dari berbagai organ tubuh kita. Merasakan bentuk senang tapi kita tidak bisa membentuk senang itu sendiri. nah banyak-banyak lah kenali rasa-rasa ini, bahkan yang negatif. Makin banyak dikenali nanti akan tumbuh kesadaran ilahiah .. itu ajaran .. man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, kalian pasti hapal betul itu.’”

“Jadi apa yang bisa kita lakukan agar rasa tadi merasakan Allah, begitu ya Yai?”

“Ya, bisa dikatakan demikian, selain memagari pengertian tentang diriNya, Allah juga memperkenalkan dirinya sebagai ALLAH. Dan Allah minta kita mendirikan shalat untuk mengingatNya.
Dan cara termudah untuk segera sambung dengan Allah, dengan mengikuti apa yang diperintahkanNya. Dalam Al-Qur’an dijelaskan :

Fadzkurullaha kadzikrikum abaa akum au asyadda dzikra

Maka ingatlah (dzikr-sadar penuhlah) kepada Allah, sebagaimana kamu sadar penuh kepada bapakmu, bahkan lebih sadar dari kesadaran penuh itu.. Bagaimana kita bisa sadar penuh (ingat) kepada kedua orangtua kita? Serta merta begitu saja kan? Kita bisa melakukannya sambil melaksanakan kegiatan lain. Kita bisa mudah melakukan kesadaran penuh kepada orangtua. Yang dimaui oleh Allah adalah kita tinggal melampauinya atau melebih-lebihkannya.
Cobalah lakukan ini. Kemudian kita teruskan dengan niat yang kuat menyeru Allah dengan menyebut namanya ALLAH atau Arrahmaan atau Asmaul Husna yang lain dengan suara rendah dan sikap yang merendah (tadarru).
Cobalah kalian praktekkan sesering mungkin, sebelum shalat, sesudahnya dalam keadaan apapun cobalah untuk memanggil Allah. Nanti akan timbul respons. Kita merasa naik dan Allah akan menjemput. Kita cukup hanya mencoba untuk berangkat, sekedar menunjukkan bahwa kita menyengaja bergerak, bukannya tidak sadar.

Qasydu Syai’in Muktarinan Bifi’lihi.

Tapi pada saat ruh kita bergerak biarkan dijemput olehNya. Kita tidak punya daya dan upaya selain bersamaNya. Biarkan Allah yang merespon panggilan ini dan membawa kita. Pada saat Allah datang kita akan mengenaliNya lagi. Kita akan merasakan rindu kita tersampaikan dan terus menggelora.
Cobalah! inilah alamat Allah yang paling dekat, paling sederhana. Jarak terdekat antara 2 titik adalah garis lurus. Jalan yang lurus. Bukan jalan yang berputar, atau melewati perhentian lain selain menuju Allah.”

Sampai disini beliau mengajak kami berdiri dan berserah.

Lalu kamipun bersama melakukan patrap “yaa Allah … yaa Rahmaan”

………

qariib

hablil wariid

meliputi kafir

meliputi segala laisaimage

image   image

 

Catatan ini dipersembahkan pada :

  • LiliMuhammad Aqli, lengkapnya – adalah teman terdekat, yang paling dominan diantara kami. Boleh disebut selama ini dialah pemimpin kelompok kecil kami. Dalam pertemuan-pertemuan seringkali Lili-lah yang jadi pembicara. Ia sering mengikuti beberapa seminar, belajar dan cara berpikir yang sangat logis, sehingga wajar seringkali kami menjadikannya pemimpin.
  • AbiAhmad Qalbi – teman kami yang senang berkontemplasi. Abi tidak sering berpendapat, orangnya perasa, dan tahunya hanya bahasa rasa – yang malah menjadikannya istimewa. Pendapat Lili yg superior seringkali bisa kalah dengan corak emosi Abi.
  • Himada Nafsi, seorang teman yang kini sudah dalam keadaan tenang.

Dari sahabat baik kalian,

Aku.

Advertisements

1 comments on “Mencari Tuhan Yang Sederhana”

  1. Trima kasih pak. Kadang sayapun merasa seperti Lili ketika shalat. Saya lbh “mudah merasa” bersamaNya saat menjalani atau merenungi dunia “biasa” di-sekitar saya sehari-hari. Kenapa ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s