Shilatun, Shalatun & Shalawatun

Seorang pemuda berjaket kulit warna hitam, celananya juga masih ‘nganak muda’ banget datang dari jauh dengan memberikan senyuman merekah di bibirnya .. Ia mengembangkan tangannya dan kamipun berpelukan erat lama .. cukup lama sampai mataku terpejam dan basah oleh air mata .. kali berikutnya kesadaran menampar, saat dimana dibawahku ada hamparan awan begitu putih begitu lembut tapi menyangga .. sehingga kami bisa duduk dengan nyaman berhadapan .. pemuda di depanku tadi sudah berganti baju dengan gamis putih, baju yang sama membalut badanku yang mulai menggigil, tapi ini pasti bukan kedinginan. Wajah pemuda itu cerah sekali .. di antara berhembusnya angin dan bergeraknya selapis tipis awan di antara kami .. perbincangan hati itu pun dimulai …