Misykatnya didulang, lenteranya cemerlang ..

No comments

Cara kita memandang persoalan hidup menurut saya sangat tergantung dengan bagaimana kita bisa berprasangka baik terhadap keadaan, terlebih kepada Yang Maha Menentukan Keadaan. Nasihat seperti ini sebenarnya sudah cukup basi, tapi tak jarang pada saat kita sendiri yang berada dalam kemelut, yang ingin kita percayai adalah pikiran kita yang terpancang pada hasil yang kita kehendaki. Kita lantas menolak bila kita sudah mengalami kegagalan.

    Sendiri ..

    Jalannya memang setapak ..

    Dan tampaknya tanahnya memang masih basah ..

JANGAN MUDAH MENYERAH

Satu hal yang bisa kita pastikan dalam menerima keadaan (boleh dibaca : qadar) kita tidak diberikan dalam 1 kepastian saja. Sedikitnya ada 2. Kalau tidak kita tidak akan mengenal istilah hidup adalah pilihan. Benar dan salah. Murtad atau beriman. Dewasa atau childish .. dan berbagai pilihan lainnya yg dipasang2kan seperti itu. Dan beberapa kesempatan kita berhadapan dengan yg bergradasi. Kalau kita bekerja lebih lama maka akan ada hasil yang lebih banyak, dan seterusnya.

Pada saat pilihan ini datang, yakinlah anda tidak terhijab dengan pilihan yang lain. Ini yang menentukan anda seorang entrepreneur atau bukan. Seorang pewirausaha sejati tidak mudah tertutup dari pilihan2 yg mungkin ada sehingga ia dengan bebas bisa memberikan peningkatan tahap organisasi, tarap kehidupannya, atau hal lain yang bersifat batiniah sekalipun.

Tuhan tahu apa yang akan jadi pilihan kita, tapi dia tidak pernah campur tangan dalam upaya pemilihannya.

Sudahlah cukup dia memberikan kemampuan kepada kita baik dalam berbuat yang terarah pada kebaikan, dan bahkan sebaliknya pada kejahatan. (fujurahaa wataqwahaa)

Dia akan memberikan kesempatan kepada kita energi apa yang akan kita pilih dalam menyelesaikan permasalahan. Pada saat kita memilih sebentuk energi diantara yang lain .. maka didalamnya include dengan konsekwensi .. pada saat menuju konsekwensi masih ada percabangan-percabangan terhijab yang hanya bisa dibuka dengan doa .. inilah yg disebutkan segala yang tertulis di Lauh Mahfudz masih bisa diubah.

Karena itu kawan .. Jangan menyerah ! Pada saat kendala hidup demikian mencengkram, itu adalah karena persangkaan. Kita melihat yang kita inginkan tidak tercapai, tidak teraih, tidak terwujud. Dan mengira yang terbaik tidak terjadi pada kita. Percayalah, kawan, ini salah. Yang kemudian terjadi pada kita selama kita tidak memperturutkan energi negatif adalah yang terbaik untuk kita. Dan itu disertai jaminanNya.

Selama dalam konteks pilihan .. maka tiada jalan yang lebih baik selain berupaya terus berjuang, dan disertai dengan kontemplasi (doa) yg khusyuk. Tidak pernah ada kebaikan dalam berputus asa.

    Ya Allah! Badanku terbakar-segala samar.

    Aku sudah melewati batas

     

    Kembali? Pintu tertutup dengan keras

    [chairil anwar, suara malam]

TAPI JANGAN PULA BEBAL

Kemampuan kita melihat momentum adalah hal yang membedakan kita dengan pejalan biasa. Kalau setapaknya sama, pada saat ada simpangan kecil yang terbuka dengan doa dan kita memanfaatkannya, ini yang disebut menangkap momentum.

Kadangkala dalam menjalani proses kehidupan kita sering berdoa dan tidak percaya doa-doa kita sudah pernah dikabulkan. Padahal dalam perjalanan pemenuhan doa tersebut kita menjadi tersadar dengan jalan yang dulu mungkin tidak akan bisa kita lihat. Tapi kita membiarkan momentum itu terlewat.

Dan, sahabat, itu sama saja dengan kita ikut jalan memutar.

Dan ada pula saat dimana qadar menjadi past tense = taqdir. Manakala itu terjadi, berhentilah untuk merubahnya, karena yang sudah lewat (past) meski sedetik tidak akan berubah.

    Sepanjang hidup Engkau selalu membingungkan

    Dengan cara-cara aneh Kau tunjukkan keagungan

    Kau, dengan teka-teki-Mu bernama takdir

    Bahkan pada saat seperti ini ada saja cara kalian membuatku tertawa

    sekaligus tersindir

    [Dee, supernova]

Kemampuan kita menangkap momentum tersebut dipengaruhi oleh berapa sering kita memperturutkan bisikan nurani. Pada saat ada teguran, kita menghindar. Pada saat ada ajakan, kita segerakan. Bila ini terus jadi sikap hidup, doa kita akan terlihat pemenuhanNya meskipun di dalamnya kita masih harus berjalan. At least, itu lebih pendek dan lebih lurus[ihdinas shiratal mustaqiim] daripada jalan memutar.

    Gunungnya tetap sama menjulang

    kabut paginya bahkan masih mengambang

    tapi dunia porak porandaku beranjak tertata pelan-pelan

    aku kini berada di persimpangan

    meloncat jauh tinggi meninggalkan awan

    atau terpuruk nista di nestapa tak berkehabisan

    dragus.cn, other pieces of mine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s