Bertamu sebentar ..

2 comments

Hari belum lagi jam satu ketika terdengar seorang pengendara sepeda ontel lewat di depan rumah ini, aku terkesiap … Diakah?

“Chaidir .. Mampiiiir” seruku memburu ..

Sepeda itupun membelokkan ban depannya membawa sang pengendara, seorang tua dengan pakaian putih membalut badannya .. memasuki halaman rumah ini ..

“Apa kabar, tuan Doktor” demikian sapanya sambil menghampiriku dengan senyum cerah dimukanya

“Alhamdulillah .. baik. Lama betul kita tak jumpa, hampir seumurku rasanya kita tak kunjung bertemu” aku menyambutnya dengan pelukan.

“Ah tuan terlalu melebihkan”

“Betul, aku sudah begitu banyak terlupa dengan bagaimana dirimu”

“Nanti tuan juga akan ingat lagi .. ” seraya ia duduk disampingku ..

“Ajarkan aku sesuatu, Chaidir .. ”

“Tuan adalah doktor, tuan sudah mengerti semua .. tak ada lagi yang bisa saya ajarkan”

“Tapi diri ini masih terasa bodoh”

“Tuan lebih dari mengerti, kita tidak akan bisa menguasai semua ilmu”

“Ya betul..”

“Bagaimana keluarga tuan? Apakah semua baik-baik saja” balas ia bertanya

“Alhamdulillah .. yang paling kecil sudah berusia hampir 2 tahun, kami tidak kekurangan”

“Syukurlah, tuan .. tuan sudah menikmati posisi tuan sebagai raja. Menikmati permainan sebagaimana kita dulu dikabarkan. Asal jangan lupa pulang, tuan. Terkadang bila sering berjalan orang lupa dengan rumah. Kehidupan, tuan doktor, tidak hanya menjadikan diri kita pencari akan tetapi juga pembagi” sebagaimana biasa Chaidir selalu punya nasihat yang tepat ..

“Aku sering merasa terbawa dengan kehidupan yang mendatar saja, Chaidir” akuku

“Percayalah, tuan. Hati tuan bisa turun dan naik, didalam itu tuan akan temui kenikmatan. Pada kalanya tuan merasa roja’, berharap dengan belas kasihan mendaki jalanan curam agar berada diatas. Dan adakalanya tuan merasa khauf, turun menukik dan menjadikan tuan ketakutan akan terjatuh. Nikmati saja rasa itu .. tuan akan tidak terlalu jauh untuk mendaki dan kadang tak perlu turun” ..

sejenak ada jeda antara kami berdua .. aku paham maksudnya .. tapi batinku bergemuruh menyampaikan tanya kerinduan ..

“Chaidir, bagaimana dengan Kekasihku?” tanyaku .. lirih .. tak seramai di tempat asalnya  ..

“Aaaah tuan doktor, kabar apakah yang ingin tuan tanyakan?” godanya ..

“Bagaimana .. bertemu ..” aku ragu meneruskan ..

“Tuan, bukankah sudah cukup jelas surat terakhir yang saya sampaikan..”

“Katakan lagi, Chaidir, bukankah sudah kukatakan aku ini pelupa”

“Tuan tinggal menyalakan pelita yang di dalam itu, tuan. Tuan mengerti bahwa itulah yang dimaksudkan dalam surat itu .. saya ingatkan lagi, tuan .. nyalakanlah pelita yg ada di dalam kaca dan letakkan dalam lubang yang tidak tembus. Berikan minyak yang terbaik, tuan, dan tidak perlu mencarinya di timur atau di barat, ia ada disini. Jika itu berhasil, nyalanya akan jauh melampaui segala lapisan ..”

“Apa yang terjadi bila pelita itu menyala, Chaidir?” tanyaku lagi ..

“Semua yang tuan kerjakan akan terlihat dengan nyata, bahkan tujuannya pun akan bisa terbaca, tuan akan mengerti kehadiran tuan untuk apa, dan tuan bisa berbincang dengan Kekasih tuan. Orang yang ditemuinya adalah pemberi nyala, pembersih kaca-kaca pelita, pemelihara lubangnya dan pada saatnya tuan akan menemui sinarnya akan bertumpang tindih dengan indahnya. Inilah yang dimaksud perumpamaan-perumpamaan dalam surat itu.” omongan Chaidir mulai sulit aku mengerti meskipun rasa kesadarannya begitu menohok.

“Demikianlah, tuan doktor” Chaidir berujar “belajarlah .. sungguh pelajaran yang anda ingin dapat bagaikan air laut, makin diminum rasa hausnya makin menjadi, dan airnya bahkan tidak berkurang” aku tercekat ..

…… “Apakah ini waktunya berpisah, Chaidir?” mataku mulai merebak ..

“Tuan tahu, tidak ada yang dikatakan benar-benar terpisah” ..

“Tapi hati ini tidak bisa bohong, Chaidir, gelisah menemuimu berjarak seputaran matahari. Mengharapkan dirimu menasihatiku tidak sama dengan membalik telapak tangan. Bagaimana bila saat itu, kau tidak lewat sini, bagaimana bila aku kebetulan tidak menunggumu, bagaimana .. bagaimana bila aku sudah tidak ada umur lagi ..” cerewetku memprotes pertemuan singkat ini ..

“Tidak – Tidak – Tidak, tuan .. tidak benar-benar sesulit itu, bila tuan mengerti memang semudah membalik telapak tangan .. nyalakan saja pelitanya .. tuan akan tahu saya tidak terlalu jauh, walaupun tentu saja umur bukan urusan saya” ucapnya sambil memelukku ingin menguatkan .. dan ia berjalan ke sepeda tuanya.

“Assalamu’alaikum .. ” ucapnya ..

“Wa ‘alaikumussalam .. ya ibadilahisshalihin” Ia melambaikan tangannya dan menjauh ..

Aku menutup pintu ruang praktek .. terdengar kesiur angin merundukkan dahan-dahan pohon mangga di depan rumah.

Air mataku mengalir. Lemah lunglai rasanya badan .. dan kulanjutkan dzikir yang tadi tersela.

“Allah .. Allah .. Allah ..”

Krejengan, 23 ramadhan 1430H 12.55

2 comments on “Bertamu sebentar ..”

Tinggalkan Balasan