Evil Factor ?

One comment

evilAda beberapa temen yang membicarakan tentang apakah didalam diri kita ada evil factor (semacam dorongan untuk berbuat jahat). Semacam sisi liciknya lah .. Apakah kita memang punya itu ? Apakah sepanjang hidup, kita melakukan sesuatu juga dengan mempertimbangkan hal tersebut atau dapatkan evil factor tersebut menjadi bagian yang mempengaruhi cara berpikir kita?

Saya nyari-nyari istilah evil factor di google dan wiki nemunya cuma quiz. ada beberapa yang agak mirip tapi agak lama dibaca malah ngga nyambung sama sekali dengan yang dimaksud sama temen-temen tersebut.

Saya akhirnya memutuskan mengingat-ngingat yang dulu pernah diajarkan oleh seorang teman setelah dia lama “meguru” ke salah seorang kiyai ..

Menurut pak Kyai ..

dalam tubuh manusia ada yang dinamakan ruh dan jiwa. Ruh substansinya sinar (nur) adalah sesuatu yang suci karena asalnya pun berasal dari tiupan Allah. Ruh kemudian bersemayam di hati kecil dan selalu memanggil pada kebaikan. Dalam setiap tindakan kita selalu ada yang mengajak-ajak untuk mengambil jalan yang baik, bahkan pada saat tindakan itu tidak terpuji sekalipun, nyolong misalnya. Nah itulah yang dilakukan oleh si hati kecil (nurani) tadi .. Orang yang senang mendengarkan hati kecilnya (=menuruti panggilan kebaikan. red) suara nuraninya akan makin terdengar dan menjadi penuntunnya terus menuju Allah.

Sebaliknya jiwa (nafs) substansinya adalah api, sama-sama punya cahaya hanya saja redup, jiwa yang katanya konon munculnya karena pertemuan badan dan ruh, selalu mengajak kepada keburukan. Ia adalah pemuas badani. Ia muncul mewakili kebutuhan-kebutuhan ragawi, karenanya lebih mudah terdengar dibandingkan suara nurani. Ia mudah tunduk kepada kepada penghambaan selain kepada-Nya. Nah .. dialah yang bila tidak bisa dikendalikan akan membawa kita makin jauh pada kesesatan.

Benarkah demikian? saya nda berani klarifikasi .. tapi mengingat pembicaraan ini awalnya dari mencari evil factor, apakah ini yang disebut sebagai evil factor? Apakah memang sudah ada dalam diri manusia itu kemampuan untuk menjadi sebaik malaikat atau berkelakuan seperti setan? Apa memang sulit dipatahkan kah dominasi kebutuhan ragawi sehingga kita lebih mudah jatuh kepada perbuatan-perbuatan yang dasarnya adalah nafsu.

Setelah dipikir-pikir kita memang akan banyak berhadapan dengan masalah-masalah yang pertimbangan baik-buruknya sederhana dan segera menjadi tameng kita untuk berpaling darinya. Tapi juga seringkali kita dihadapkan dilema, yang jawaban nuraninya tak terbantahkan “itu SALAH, jangan lakukan” tapi karena sayup-sayup yang dekat dengan degup adrenalin di dada tereak-tereak meminta pemenuhan .. “Lakukan saja toh ada pembenarannya”

Bila mengingat-ingat ada perumpamaan bahwa pulang dari perang bedarah-darah Rasul mengatakan masuk lagi ke perang yang lebih besar yaitu hawa nafsu maka ngga salah nampaknya nafs adalah potensi buruk manusia yang harus kita waspadai.
Lebih jauh Allah menggambarkan bahwa bila kita bisa menjadikannya kepada nafsul muthmainnah akan bersama-sama hamba-hambaNya memasuki surgaNya .. [fadkhuli fi ibadii wadkhuli jannatii]

23

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s