A letter to Mas Ihsan #04

A letter to Mas Ihsan #04

Dear mas Ihsan

I wrote this letter in a way to Batu, where we plan to meet. I have a horrible week and lots of works I have to do. Sometimes, when talking to your mom, I want to get my retirement earlier.
In couples months, tasks will be overwhelming. As you know, I have to work at the Health Department also. Meanwhile, my status as chief of Public Health Center is needed me concentrate more since District Government decide to make it as Regional Public Service Agency (in Indonesia we called it BLUD).

The purpose of this is to provide flexibility in managing PHC in finance. I hope we will be able to talk about this next time.

In my assignment as a health assessor, I deliberately asked for a slower schedule to be able to do the tasks in Probolinggo, as I mentioned before. This tasks must be done first compared to the committee assignment.

But I will share some later experiences about the cities I visit. There are some exciting things that I hope can add to your insight about Indonesia. We are a rich country, both with natural resources and with culture. There were many stories about culture when I was in Pekalongan, even in the city of Bogor which had an urban type and was very close to the capital city of Jakarta.

Hopefully, when you get access to read emails, we will be able to exchange more stories about many things.

We miss you and hope we can meet soon. Hopefully, your class report card is also good for this beginning. And the time we will spend in two days brings a lot of memories.

See you later.

A letter to Mas Ihsan

Dear Mas Ihsan,

I write this letter because of my longing to always talk to you. From the time we visited you at your boarding school, there was a desire to talk about many things that could not be done well at the time.

So I try to write a few messages.

About our family.
Now, in our family, there are new habits, namely: checking your school Instagram account and WhatsApp messages from your murabbi. We hope that from the photos shared, we can see your happy face. And every one of us who can recognize you from many of your friends’ faces for the first time will be proud.
Where we eat together, we always remember you from what is your favorite food. Or even food that you don’t like. So the conversation at the dining table is also often about you.
Unlike when you’re here, your younger sisters always compete to deliver something that more than you. Now they are proud and happy with what you have done. They also realize that telling parents about their daily school life is essential. Sharing stories at the dining table is now more often than usual.
Mia is now more diligent, and I see her often learning from shubuh. Nisa is currently participating in many competitions. Later in the third week of this month, our family will be in 5 places. You are in Batu, I should be in Ponorogo, your mother in Banjarmasin, Mia in Jogja and Nisa in Malang.

About your school.
I am often asked about your school. We are proud of what you got at your school. Therefore, don’t waste this opportunity.
Don’t apologize for not being able to reach certain standards, as if I obliged you to achieve it. Just do it with pleasure. Don’t force yourself to do something because of us. For example, when memorizing the Holy Quran, do not feel the obligation to reach as I requested. But do it according to the guidance of your teachers. They have experienced. If I ask you to memorize 15 juzz does not mean that now you are just remembering 3 juzz will disappoint me. That is hope, not a necessity.
Do it because of Allah so it will be worth worshiping. Likewise, for all the lessons you receive from your teachers.
Learn to be a good leader. Later, it will be time for you to lead in front of your family, your friends, and your community. At least for yourself. Learning does not always have to be perfect, there must be mistakes. Learn the mistakes and correct them by looking at the cause.
Becoming a leader often becomes alone. The higher the tree, the faster the wind hits. Do muhassabah. Surrender to Allah for all deadlock. Perform worship and avoid sin as taqwa. You will soon see a way out (makhraja). That is the promise from Allah.
So, my son, learn. Be your best. We will always pray for your health and your mind to study well. Also, pray for us in your evening prayers; hopefully we can meet again in good times. Probably, we will be given a blessed rizki and time. So we can meet and continue share each other stories.

Greetings and many loves from us.

Your father

P.S:
Herewith I send some textbooks as additional as you requested. And also a novel entitled Muhammad. Hopefully, He can be your role model.
I left a copy of the letter I sent you an email, later if you fail to save my message, there’s always a copy here.

Semiloknas Akreditasi FKTP 2018

Semiloknas Akreditasi FKTP 2018

Dari tanggal 15-16 Februari 2018 diadakan semiloknas, Seminar dan Lokakarya Akreditasi FKTP di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta. Yang hadir ? Sudah pasti para pelaku kesehatan, ta kurang dari Ibu Menteri sendiri hingga kapus. Tentu saja tidak semua. Peserta berkisar 600 menurut saya pada waktu acara dimulai. Cukup memenuhi ruang utama di hotel tersebut hingga sampai ke meja yang paling belakang. Untunglah sound systemnya cukup bagus. Sehingga yang di belakang juga ikutan bisa menikmati.

Acara yang digelar dua hari dimaksudkan untuk memberikan penyegaran kepada surveior maupun peminat Akreditasi FKTP, seperti para pendamping puskesmas dan para pelaku kesehatan lainnya. Tak pelak acara reunian tidak bisa dihindarkan. Satu angkatan yang jarang kumpul karena berjauh2an bisa melepaskan kerinduan disini. Atau yang dijodohkan karena harus berada dalam satu tim saat survei juga ikut ber-hai-hai.

Diluar ballroom disediakan booth Komisi Akreditasi FKTP, disini juga ramai. Ada yang baru pertama kali ketemu mba Indi, mas Ikbal, mba Tanti dll yang selama ini ‘ngurusin’ jadwal bertugasnya surveior-surveior dari seluruh pelosok Indonesia.

Tak kurang juga hadir di bagian depan, surveior-surveior jangkar. Suhu dan subo kita semua. Para konsultan yang bukan hanya membuat instrumen survei, tapi juga yang melatihkan kepada para surveior yang hadir saat ini.

Dibawah ini adalah link untuk materi yang disampaikan :

  1. Pembukaan Seminar dan Lokakarya Nasional Akreditasi FKTP Tahun 2018 oleh Menteri Kesehatan RI
  2. Kebijakan Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)  oleh Dirjen Pelayanan Kesehatan
  3. Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Oleh Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan-Kemenkes RI
  4. Evaluasi Pelaksanaan Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) oleh Ketua Eksekutif Komisi Akreditasi FKTP
  5. Keselamatan pasien dalam implementasi FKTP oleh dr. Adib A, Yahya, MARS
  6. Evaluasi dan Penegakan Kode Etik oleh Komite Etik dan Hukum Komisi Akreditasi FKTP oleh Ketua Tim Etik Komisi Akreditasi FKTP
  7. Pembinaan dan Peningkatan Kompetensi Surveior dan Pendamping serta Pelaksanaan Re-Akreditasi FKTP oleh Ketua Bidang Akreditasi Komisi Akreditasi FKTP
  8. Rangkuman dari Semiloknas 2018

Tentu saja dalam 2 hari ada materi lain yang berupa pendalaman materi di tiap pokja. Namun mengingat bahan yang diberikan lebih mirip pada bahan pelatihan. Sementara yang disampaikan verbal malah yang penting karena banyak berasal dari pengalaman.

Pendapat Saya tentang Semiloknas Akreditasi FKTP 2018

Cukup banyak hal yang bisa dimanfaatkan dalam pertemuan ini. Meskipun saat ini keramaian silaturrahimnya masih mengalahkan manfaat keilmuannya. Saya memahami ini karena baru pertama kalinya Semilok ini bersifat nasional. Mungkin dengan pengalaman dan keharusan tiap surveior harus hadir tiap tahun tentu saja manfaat update dan kesamaan persepsinya bisa makin mendominasi.

Ada harapan yang besar saat saya memilih untuk mengikuti pertemuan ini, meski pemahaman saya tentang kuliah umum dengan ratusan peserta pasti tidak luput dari kendala mudah bergesernya fokus materi. Semoga pada semiloknas-semiloknas akreditasi FKTP berikutnya kita bisa menemukan cara yang lebih baik untuk mengatasi kendala-kendala dalam pertemuan dua hari  ini.

Mari kita tutup cerita ini dengan menggemakan apa yang diminta bu Tari saat mengakhiri materi kode etiknya. Sebuah slogan yang ditujukan untuk introspeksi agar kode etik surveior terus dijaga. Minimal dalam pertemuan semiloknas pertama ini bila kita belum cukup banyak bisa menstandarkan cara pandang 776 EP, setidaknya kode etik bisa terjaga dan standar.

JAGA DIRI !
JAGA TEMAN !
JAGA INSTITUSI !

Agus Ciptosantoso

Ada instrumen akreditasi baru ?

Ada instrumen akreditasi baru ?

Instrumen Akreditasi Puskesmas sebenarnya didasarkan dari standar yang ada di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI no 46 tahun 2015. Setiap elemen penilaian (EP) yang ada dalam PMK 46 sama persis dengan yang ada dalam Instrumen yang jumlah EPnya 776. Baik dari tahun 2015, 2016 (ditambah dengan beberapa kolom termasuk proses) dan akhir 2017 kemaren yang bentuknya ditambah dengan RDOWS.

Apa itu Instrumen Akreditasi dengan RDOWS ?

RDOWS itu adalah metode dalam menggali berjalannya sistem di puskesmas berdasarkan :

R – Regulasi
D – Dokumen
O – Observasi
W – Wawancara
S – Simulasi

Jadi apa itu RDOWS. Pada saat kita membaca suatu syarat (EP) dalam Standar Akreditasi Puskesmas. Maka yang perlu diperiksa adalah : apakah tersedia regulasi bagi sistem yang diperiksa ini (R), apakah ada dokumen bukti pelaksanaan (D), apakah terbukti dilaksanakan yang bisa terlihat dari hasil-hasil tertentu (O), kejelasan bisa ditemukan pada jawaban yang diberikan dari yang diperiksa (W) dan bagaimana yang diperiksa bisa memperagakan yang diminta (S).

Untuk mempermudah surveior atau pendamping pada saat melakukan penilaian terhadap puskesmas, maka setiap EP dicari berdasarkan RDOWSnya. Dengan demikian diharapkan penilaian surveior atau pendamping jadi lebih menyeluruh. Memang tidak semua EP ada unsur RDOWS. Ada yang cuma R-nya saja atau  D saja. Ada yang beberapa.

Pada saat Semiloknas 2018 ini ternyata ada materi yang dibagikan dalam flashdisk dan salah satunya adalah Instrumen Akreditasi Puskesmas dengan bentuk yang sudah diintegrasikan dengan RDOWS.

Jadi ada instrumen baru ?

Jawabnya NGGA ADA. Kalau yang anda maksud adalah pengganti dari PMK 46/2015 berupa susunan EP-EP baru yang tersusun berbeda dengan yg saat ini ada. Itu kita namakan standar. Sejauh ini belum berubah. Meskipun wacananya ada untuk melaksanakan perubahan. Instrumen yang menggunakan RDOWS memang alat bantu baru. Tapi elemen penilaiannya tetap sama 776 dengan kalimat yang masih sama. RDOWS bukan standar baru. Hanya cara baru melihat bagaimana mencari 776 EP. Cara pandang baru. Di dalamnya sama dengan yang dulu juga. Ada beberapa tambahan tapi tidak ada perubahan total kalau itu yang anda cari.

Tapi dari cara pandang baru ini temen-temen pendamping, temen-temen puskesmas, bisa mulai mengira bahwa nanti yang dicari pasti regulasinya, bisa dibuktikan dengan dokumennya, bila ada hasil yang perlu diobservasi harus disiapkan – barangkali mau ditengok, dan harus bisa menjawab pada saat wawancara, untuk beberapa yang perlu disimulasikan, harus siap bila nanti diminta untuk memperagakan. Sekali lagi jangan terpancing hanya membuktikan yang ada di dalam dokumen (atau regulasi) seperti kesalahan yang sering terjadi. Buktikan bahwa sistem tersebut sudah berjalan dengan baik di puskesmas.

Minimal itu. OK, inilah Instrumen baru ituh …
MS-Excel-Logo
Agus Ciptosantoso

UKM Esensial, 5 atau 6 ?

Upaya Kesehatan Masyarakat di Puskesmas harus dilaksanakan baik oleh puskesmas perkotaan maupun pedesaan. UKM Esensial meliputi layanan-layanan (dahulu Program) dan dibawahi oleh seorang Penanggungjawab. Dari sinilah masalah timbul. Referensi di Permenkes 75 disebut ada yang 5 (lima) ada yang 6 (enam) layanan. Yang mana yang benar?

Membaca Permenkes bila hanya melihat jumlah poin memang seperti ada dua referensi yang menyatakan perbedaan jumlah dari Layanan dalam UKM Esensial. Mari kita lihat satu persatu setiap kalimat yang mengandung kata esensial di dalam PMK 75/2014 maupun di dalam PMK 44/2016.

Pasal 36 PMK 75 / 2014

UKM Esensial

Pasal 36 ayat 2 cukup jelas menyampaikan bahwa UKM esensial terdiri dari 5 pelayanan.

Penjelasan Organisasi Puskesmas pada lampiran

 

UKM Esensial

Disini dituliskan bahwa Penanggungjawab UKM esensial dan keperawatan masyarakat membawahi 6 pelayanan.

Penjelasan tentang Kebutuhan Data pada PMK 44 tahun 2016

UKM Esensial

Penyebutan Data UKM esensial untuk mengumpulkan data kinerja puskesmas yang selanjutnya digunakan untuk perencanaan puskesmas. Dari sini juga terlihat cuma ada 5 pelayanan (program), a dan b masing2 satu.  c meliputi 2 pelayanan. d-f biasanya di Puskesmas jadi satu dalam Pencegahan dan Pengendalian Penyakit meskipun pelaksana bisa tiap sub program seperti PPTM, Surveilans dan P2 TB Paru dst.

Penjelasan tentang Ruang Lingkup PKP

UKM Esensial

Disini UKM esensial juga hanya terdiri dari 5 pelayanan.

Pendapat saya tentang Jumlah UKM Esensial

Bagi saya pembagiannya cukup jelas hanya ada 5 (LIMA) pelayanan sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 36 ayat 2. Adapun dalam penjelasan ditemukan 6 (enam) pelayanan adalah karena yang dimaksud tugas dari Penanggungjawab UKM esensial. Bukan merupakan pembagian dari pelayanan esensial itu sendiri.

Pada pola pembagian yang mampu lebih kompleks, Penanggungjawab UKM dibagi menjadi PJUKM esensial dan PJUKM Pengembangan yang dimaksudkan untuk membagi tugas karena harus mengkoordinasikan banyak pelayanan (program). Dalam pembagian tugasnya Perkesmas dimasukkan dalam tugas PJUKM esensial. Tapi bukan berarti perkesmas adalah esensial. Saya rasa kenapa Perkesmas dimasukkan dalam tugas PJUKM karena merupakan penghubung yang paling jelas antara UKM dan UKP. Dan menggunakan perawatan komunitas-lah maka dirasakan penting untuk digabungkan dengan program-program besar (esensial).

Terlepas dari perbedaan jumlah ini, yang lebih penting adalah membuktikan bahwa pelayanan yang diberikan sudah ada dalam sistem akreditasi FKTP. Dan ssstt.. kalo anda berhadapan dengan surveior yang minta jumlahnya enam .. iyain ajaaaa. 🙂

Demikian pendapat saya.

Agus Ciptosantoso